Greenpeace Asia Tenggara


Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

Posted in Sinar Mas,penjahat hutan by Blogger Greenpeace on the November 30th, 2009

Tulisan yang sangat menarik untuk para penyelamat hutan dan iklim di seluruh Indonesia agar bangsa ini tidak terjebak akal-akalan penjahat-penjahat hutan dan iklim. Tulisan dari seorang pemerhati lingkungan Suwandi ahmad merefresh ingatanĀ  agar kita tidak terbuai….

Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

( http://www.facebook.com/#/note.php?note_id=220428810852&id=679205628&ref=mf )

Beberapa hari terakhir ini, Kompas gencar menulis mengenai GreenFest 2009. Sebuah ajang lingkungan hidup yang dibidani oleh 7 perusahaan besar di Indonesia. Yakni Harian Kompas, PT. Unilever Indonesia Tbk., Pertamina, Panasonic, Sinar Mas, MetroTV, serta FeMale Radio.
Komentar pertama saya, saat melihat penyelenggaranya, adalah mengapa harus Sinar Mas?

Sudah bukan rahasia lagi, jika Sinar Mas ada di belakang beberapa kasus perusakan lingkungan. Misalnya di Kalimantan. Sinar Mas melakukan penggundulan hutan di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, di lahan basah yang dilindungi International Ramsar Convention (Konvensi Ramsar Internasional), sebagai bagian dari kegiatan perluasan perkebunan kelapa sawit. Daerah penyangga yang telah mengalami pembalakan itu sangat penting bagi integritas dan keanekaragaman hayati taman nasional, salah satu lahan basah terluas di Asia Tenggara dan rumah bagi ribuan jenis spesies satwa langka, termasuk macan tutul, orang utan dan sebagian besar populasi kera belanda (proboscis monkey).

Menurut pemberitaan, pada bulan Agustus 2008 Menteri Kehutanan telah membatalkan izin operasi 12 perusahaan di daerah tersebut, tujuh diantaranya milik Sinar Mas. Para pembalak telah melanggar peraturan perundangan konseravsi alam dan keanekaragam hayati, tapi alih-alih izinya dicabut, Sinar Mas malah terus melakukan penggundulan hutan disekitar taman nasional, yang menunjukkan sikap yang terang-terangan meremehkan peraturan dan perundangan serta perjanjian konservasi internasional.

Di Provinsi Riau, Sinar Mas menguasai lebih dari 780.000 hektar perkebunan minyak kelapa sawit dan kertas. The World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan sejak 2001, 450.000 hektar hutan atau setara dengan luas pulau Lombok, telah dirusak oleh perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) milik Sinar Mas Grup.

Greenpeace juga pernah meluncurkan laporan penelitian yang mengestimasi bahwa kegiatan perusakan lahan gambut oleh Sinar Mas Grup di Sumatera saja, melepaskan hingga 113 juta ton karbon dioksida, atau sama dengan total emisi CO2 Belgia pada 2005. Dalam laporan Greenpeace disebutkan, setiap tahun, perusahaan Sinar Mas berhutang 3,4 miliar Euro atau sekitar Rp.48,5 triliun, jika mengacu pada rata-rata harga 30 Euro per ton karbon (berdasarkan perhitungan Kyoto Phase II oleh lembaga riset pasar karbon terkemuka).

Nah, di Jakarta, Sinar Mas justru muncul dengan kemasan pahlawan. Sinar Mas maju sebagai salah satu pilar Greenfest 2009. Sinar Mas berusaha menjahit isu-isu lingkungan menjadi baju yang indah. Dan menutupi aurat kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

Dengan alasan-alasan di atas, maka saya memutuskan untuk TIDAK AKAN DATANG pada Greenfest 2009. Dan, tidak akan membeli produk-produk Sinar Mas. Sebagai informasi, beberapa produk Sinar Mas yang saya ketahui dan tidak akan saya beli adalah:
PT Asuransi Sinar Mas
Bank Sinar Mas
Minyak Goreng Filma dan Kunci Mas
Operator seluler SMART Telecom
Kertas dari PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

Bagaimana dengan Anda?

Referensi:
http://blog.greenpeace.or.id/?p=48
http://greenfest2009.com/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/petisi-untuk-hutan-indonesia

PS. Saya tidak dibayar Greenpeace untuk tulisan ini :)

Suwandi Ahmad

*) Thanks Wandi

12 Responses to 'Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009'.

  1. Dee said,

    on November 30th, 2009 at 8:19 am

    …setuju sekali…kita2 harus berani…n jangan setengah2 kalo mau ikutan partisipasi…hidup greenpeace Indonesia!!!xxxxx

  2. Birgita Medan said,

    on December 1st, 2009 at 5:37 am

    Menurut saya bukan di tempat-tempat itu sih, ada di pulau-pulau lainnya juga. Btw hasil pengamatan saya ada 2 kutub yang tarik menarik, apa tidak bisa dilakukan Mediasi? Tapi inginnya ya harus kita pertimbangkan kepentingan negara kita bukan negara lain … greenpeace Indonesia rasanya kayak cabang saja menyuarakan kepentingan tertentu yang kita juga tidak tahu, btw yok cari solusi bersama: win-win solutions gitu lho. Cape deh lihat gontok-gontokan saja kayak KPK, Polri dan Kejaksaan. Kapan nih negara kita maju kalau internalnya berantem melulu. Salam

  3. dradjad S said,

    on December 1st, 2009 at 6:15 am

    Tulisan bapak Suwandi Ahmad sangat teliti dan menunjukkan kecintaan yg dalam dalam upaya mendukung penyelamatan hutan dan lingkungan….dan patut kita dukung..!!! namun dalam sisi pandang saya, Apabila grup Sinar mas benar2 berniat turut serta dalam menggugah kesadaran setiap org dalam penyelamatan lingkungan juga patut di dukung dan di dorong…agar perlahan tapi pasti…dapat mengurangi dan suatu saat segala kegiatan yg merusak lingkungan dapat di hentikan, sekaligus bertanggung jawab atas kerusakan yg pernah dilakukan!!
    Demikian pendapat saya…bagaimana dg Anda..??

  4. Dicky Irawan said,

    on December 3rd, 2009 at 4:17 am

    Sebaiknya perusahaan yang memang sudah terbukti merusak alam tidak diikutsertakan dalam acara ini. Sehingga perjuangan akan lebih jelas warnanya. Bahaya jika penjahat berwajah manis.

  5. iqbal said,

    on December 3rd, 2009 at 4:43 pm

    ya, saya juga pernah dapat CD laporan greenpeace tentang sinar mas, menyakitkan memang. Wajar sekali kalau akhirnya kita membatasi diri menggunakan produk2 sinar mas…
    tapi saya punya pandangan lain tentang datang atau tidak datang. saya pikir informasi yang akan dipaparkan di sana akan banyak sekali membantu mengubah kebiasaan kita jadi lebih hijau. maka saya akan tetap datang…=) namun tetap dengan tidak mengampuni kesalahan sinar mas.


  6. on December 4th, 2009 at 7:11 am

    [...] This post was Twitted by qamadhieta [...]

  7. eka wisnu said,

    on December 4th, 2009 at 9:10 am

    selamat berjuang kawan..!!!
    kalianlah sebnarnya pahlawan…

    btw mhn infonya, aku ingin bergabung…

  8. bloggree said,

    on December 4th, 2009 at 5:05 pm

    Hi untuk bergabung dengan Greenpeace bisa di liha di http://www.greenpeace.org/seasia/id/get-involved

  9. yut said,

    on December 5th, 2009 at 7:45 am

    lucu memang.. tapi ketika manusia sudah terjebak dalam lingkaran ekonomi maka tidak ada seorangpun dari kita yang tidak membutuhkan minyak goreng, kertas, dan produk turunan lainnya seperti kosmetik dsb.. Pertanyaan saya kepada anda adalah bagaimana kita mampu menghentikan perusahaan sebesar sinarmas tapi tidak menggangu ekonomi kerakyatan yang jelas juga berasal dari perusahan tsb. Dan bagaimana kita bisa menghetikan siklus efek atas berhentinya kegiatan operasi tsb. dan penganggulangan atas krisis pangan dan pulp didunia???

    Sampai saat ini tidak ada satu berita pun yang mampu menjawabnya..

    sudah terlalu terlambat untuk pesimis… lets do the change from our self by making consumption less from each thing that we consumed.

    i think thats all my opinion..
    thanks…

  10. zeze said,

    on December 8th, 2009 at 1:38 pm

    ya,,memang,,pertama kalinya dan terakir aku mendatangi Green Fes minggu kemarin, dan ketika melihat terpambang acara ini disponsori oleh unilever dan sinar mas,, ;(,,
    terlintas sejenak kenapa mereka,,
    dari alur pintu masuk terlihat sangat bagus kampanye pendidikan mengenai perubahan iklim,,tapi apa boleh dikatan pendidikan kampanye VS eksploitasi alam serta dampak dari itu kita rasakan sampai anak cucu dan cicit kita,,,sangat timpang,,,apalg ketika masuk ke stand yang mengolah sampah2 produk2 mereka bagus seh mengelola samapah jadi barang yang berguna tapi ini semua seharusnya tanggung jawab mereka bukan seolah2 mendukung dan membantu para ibu2,,yang juga melegalkan kerja domestik mereka,,uchh,,,
    sayang ya, jika saja dalam acara itu mereka juga memberitahukan kerusakan2alam yang terjadi akibat ulah mereka,,beberapa produk di stand2 yang ada juga tidak ramah lingkungan
    sayang,,,,


  11. on March 4th, 2010 at 11:46 am

    informasinya menarik, saya suka dengan info ini pas sekalian saya blogwalking :D jangan lupa mampir tempat saya ya

  12. alfa said,

    on April 22nd, 2010 at 3:44 am

    Yg mbkin “green peace” sendiri juga g punya solusi untuk menangani kasus ekonomi yg diderita rakyat Indonesia, skg cuma maen pgn mbkin bangkrut prushaan indonesia aja.

    Prshaan di ngra2 maju yg kjhatan pruskan lingkungannya jauh lebih parah jg g bisa diapa2in ma “green peace” tuh???

Leave a Reply