Greenpeace Asia Tenggara


Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

Posted in Sinar Mas,penjahat hutan by Blogger Greenpeace on the November 30th, 2009

Tulisan yang sangat menarik untuk para penyelamat hutan dan iklim di seluruh Indonesia agar bangsa ini tidak terjebak akal-akalan penjahat-penjahat hutan dan iklim. Tulisan dari seorang pemerhati lingkungan Suwandi ahmad merefresh ingatan  agar kita tidak terbuai….

Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

( http://www.facebook.com/#/note.php?note_id=220428810852&id=679205628&ref=mf )

Beberapa hari terakhir ini, Kompas gencar menulis mengenai GreenFest 2009. Sebuah ajang lingkungan hidup yang dibidani oleh 7 perusahaan besar di Indonesia. Yakni Harian Kompas, PT. Unilever Indonesia Tbk., Pertamina, Panasonic, Sinar Mas, MetroTV, serta FeMale Radio.
Komentar pertama saya, saat melihat penyelenggaranya, adalah mengapa harus Sinar Mas?

Sudah bukan rahasia lagi, jika Sinar Mas ada di belakang beberapa kasus perusakan lingkungan. Misalnya di Kalimantan. Sinar Mas melakukan penggundulan hutan di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, di lahan basah yang dilindungi International Ramsar Convention (Konvensi Ramsar Internasional), sebagai bagian dari kegiatan perluasan perkebunan kelapa sawit. Daerah penyangga yang telah mengalami pembalakan itu sangat penting bagi integritas dan keanekaragaman hayati taman nasional, salah satu lahan basah terluas di Asia Tenggara dan rumah bagi ribuan jenis spesies satwa langka, termasuk macan tutul, orang utan dan sebagian besar populasi kera belanda (proboscis monkey).

Menurut pemberitaan, pada bulan Agustus 2008 Menteri Kehutanan telah membatalkan izin operasi 12 perusahaan di daerah tersebut, tujuh diantaranya milik Sinar Mas. Para pembalak telah melanggar peraturan perundangan konseravsi alam dan keanekaragam hayati, tapi alih-alih izinya dicabut, Sinar Mas malah terus melakukan penggundulan hutan disekitar taman nasional, yang menunjukkan sikap yang terang-terangan meremehkan peraturan dan perundangan serta perjanjian konservasi internasional.

Di Provinsi Riau, Sinar Mas menguasai lebih dari 780.000 hektar perkebunan minyak kelapa sawit dan kertas. The World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan sejak 2001, 450.000 hektar hutan atau setara dengan luas pulau Lombok, telah dirusak oleh perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) milik Sinar Mas Grup.

Greenpeace juga pernah meluncurkan laporan penelitian yang mengestimasi bahwa kegiatan perusakan lahan gambut oleh Sinar Mas Grup di Sumatera saja, melepaskan hingga 113 juta ton karbon dioksida, atau sama dengan total emisi CO2 Belgia pada 2005. Dalam laporan Greenpeace disebutkan, setiap tahun, perusahaan Sinar Mas berhutang 3,4 miliar Euro atau sekitar Rp.48,5 triliun, jika mengacu pada rata-rata harga 30 Euro per ton karbon (berdasarkan perhitungan Kyoto Phase II oleh lembaga riset pasar karbon terkemuka).

Nah, di Jakarta, Sinar Mas justru muncul dengan kemasan pahlawan. Sinar Mas maju sebagai salah satu pilar Greenfest 2009. Sinar Mas berusaha menjahit isu-isu lingkungan menjadi baju yang indah. Dan menutupi aurat kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

Dengan alasan-alasan di atas, maka saya memutuskan untuk TIDAK AKAN DATANG pada Greenfest 2009. Dan, tidak akan membeli produk-produk Sinar Mas. Sebagai informasi, beberapa produk Sinar Mas yang saya ketahui dan tidak akan saya beli adalah:
PT Asuransi Sinar Mas
Bank Sinar Mas
Minyak Goreng Filma dan Kunci Mas
Operator seluler SMART Telecom
Kertas dari PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

Bagaimana dengan Anda?

Referensi:
http://blog.greenpeace.or.id/?p=48
http://greenfest2009.com/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/petisi-untuk-hutan-indonesia

PS. Saya tidak dibayar Greenpeace untuk tulisan ini :)

Suwandi Ahmad

*) Thanks Wandi

Untuk Masa Depan Generasi Mendatang

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Kelapa Sawit,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 26th, 2009

25 November 2009, 21.00 WIB

Hi, Saya Alien aktivis Greenpeace bersama 3 teman aktivis lain dari Filipina, Jerman dan Belanda kami masih berusaha menghentikan operasi alat angkut di pabrik Kertas milik APP. kawan-kawan kami yang lain telah di lumpuhkan tetapi kami tetap berusaha bertahan hingga malam ini.

alien

Hari yang sangat panjang buat saya, tapi ini harus di lakukan untuk meyerukan pada pemilik merusahaan, pemerintah dan dunia mereka harus menghentikan penghancuran hutan. mereka harus menghentikan ini untuk mencegah bencana iklim yang saat ini sedang dan akan terus terjadi jika mereka tidak tersadar. Rasa lelah pasti ada, Tas persediaan makan saya telah di rampas sekuriti tadi, Panas matahari dan dingin malam ini pasti akan menghasilkan sesuatu untuk dunia.

Masyarakat dunia harus tahu betapa hancurnya hutan Indonesia saat ini dan negara-negara yang menerima hasil penghancurannya secepatnya harus berhenti membeli hasil dari sesuatu yang merusak hutan dan masa depan generasi mendatang.

Hutan-hutan alam yang harusnya di lindungi sekarang telah tersentuh dan hancur karena pembukaan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan akasia. Kedalaman hutan lahan gambut yang terbakar dan melepaskan CO2 merupakan ancaman nyata terhadap iklim bumi

Teman saya  joel dari Filipina mengatakan ” saya sangat ingin membantu Indonesia dan dunia. pabrik raksasa ini telah menghancurkan hutan dan memicu perubahaan iklim. Saya dan masyarakat di Filipina telah merasakaan dua topan yang menghancurkan manila. dan itu karena perubahaan iklim. saya ingin membantu karena harus ada perubahaan untuk menyelamatkan dunia dan mencegah itu terjadi lagi”


Terlihat dari atas alat angkut ini betapa luasnya perusahaan ini. lebih dari 2 juta ton bubur kertas di lumat oleh mesin-mesin di sini yang berasal dari perkebunan dan hutan alam termasuk semenanjung kampar yang terancam tidak bisa terselamatkan.

activist-joel

Malam ini kami hanya berempat masih di sini berusahaa menghentikan ini tapi saya percaya jutaan aktivis pemyelamat iklim di luar sana akan terus berusaha menghentikan penghancur hutan dan penghancur iklim. berusaha menjadikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dan bisa menikmati indahnya hutan dan lahan gambut.

Salam dari atas crane,

Alien Maurin


Greenpeace Menghentikan Perusahaan Kertas Terbesar

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,iklim by Blogger Greenpeace on the November 26th, 2009

Penghancur Hutan: Anda Dapat Menghentikan Ini

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 25th, 2009

Pagi ini 12 aktivis Greenpeace menghentikan alat angkut perusahaan kertas raksasa mikil PT. Indah Kiat Pulp Paper persudahaan yang di miliki Group Sinar Mas. Perusahaan ini salah satu perusahaan yang ikut mendorong cepatnya perubahaan iklim dunia. Mereka menghancurkan hutan alam dan hutan lahan gambut yang ada di Riau. Hutan Lahan gambut yang  menyerap milyaran ton karbon akan terlepas ketika mereka beroperasi menghancurkan hutan yang tersisa di Riau.

Empat buah alat angkut yang berada di pelabuhaan ekspor di berhetikan dengan mengantungkan diri. mereka membentangkan banner bertuliskan “Penghancuran Hutan: Anda dapat menghentikan ini”  dan “Climate Crime”. Sampai cerita ini saya tulis masih ada 4 aktivis yang bertahan di salah satu alat angkut selama 8 jam. Panas terik dan dahaga menggelayuti mereka tetapi komitmen mereka tetap akan bertahan selama mungkin sampai para pemimpin bertindak nyata untuk penyelamatan iklim dan penyelamatan dunia dari bencana iklim.

Dukungan Untuk Penyelamat Iklim – Part 1

Posted in Copenhagen,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 24th, 2009

Cerita ini adalah cerita perjalanan Ivy ( anggota solar generation) yang masih berusia 17 tahun dan supporter Greenpeace Krisna mukti selama 3 hari untuk memberikan dukungan kepada warga masyarakat Teluk meranti dan para aktivis Greenpeace di Kamp Pembela Iklim.

Saya Ivy londa, Krisna Mukti dan Mba Milla-asisten Krisna Mukti tiba di Pekanbaru pada kamis Pagi, kami di sambut dengan matahari yang sangat terik, kira-kira 40 derajat celcius. Kami tidak langsung mengunjungi Kamp tapi kami menuju Polres Palalawan kira-kira 1 jam dari Pekanbaru. Kami menuju Polres Palalawan untuk memberi semangat kepada 18 aktivis pembela iklim yang menjadi tersangka dan melakukan wajib lapor atas tindakan menghentikan penghancuran hutan (Sesuatu yg aneh!).  senangnya melihat para aktivis tetap semangat di kantor polres Palalawan walaupun menempuh ketidakadilan.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan yang saya melihat truk-truk Fuso bermuatan biji sawit, kayu alam dan truk-truk tertutup menjadi pemandangan yang tak putus-putus. Memasuki daerah Kerinci, pemandangan yang bisa di lihat sangat mengenaskan. Hutan-hutan gundul hilang  dilahap perusahaan kertas seperti  RAPP dan perusahaan lainnya seperti  Sinar Mas. Beberapa lahan yang tersisa adalah bekas dibakar masih meninggalkan asap-asap tipis. Sebagian lagi dibiarkan gundul. Jalan melintas Kerinci – Binjai dibuat perusahaan-perusahaan itu  1 tahun lalu untuk keperluan transportasi alat-alat berat.

Akhirnya  kami tiba di Desa Teluk Meranti setelah 5 jam perjalanan.  Saat kami tiba, air sungai sedang pasang,  kami menempuh sisa perjalanan menuju Kamp Pembela Iklim  menggunakan speed boat selama kurang lebih 10 menit. Malam pertama di camp sungguh menantang karena baru pertama kali di desa yang sangat jauh,  Nyamuk-nyamuk gemuk, serangga hutan yang salah satu dari mereka mungkin beracun. Tepat  Jam 10 diesel dimatikan, beberapa minggu lalu kamp ini memakai Solar panel tapi karena kondisi kemarin tidak di pasang kembali.  kami pun mencoba tidur di balik kelambu ditemani suara serangga hutan yang terus bernyanyi.

Membendung kanal!

Bersama para relawan kami menembus pagi untuk membendung air gambut di kanal. Menaiki Pong-pong (sebutan perahu tradisional) selama 20 menit melewati sungai yang di beberapa tempat terdapat pasir hisap. Sampai di ujung kanal terlihat bendungan yang belum selesai. Bendungan ini sangat penting untuk menahan air gambut agar air gambut tetap basah. Kanal-kanal di buat oleh perusahaan untuk mengalirkan kayu-kayu hasil pembabatan mereka (pembabatan terakhir 2004). Padahal lahan gambut rawan terbakar jika di keringkan dan memlepaskan kandungan karbon.

Setelah lelah membendung dengan mengangkut karung-karung pasir, saya melanjutkan dengan berenang di kanal air gambut yang berwarna merah kecoklatan, air gambut sangat jernih dan dapat di minum loh. Tapi kadar asam air gambut sangat tinggi tidak baik untuk gigi dan usus.

Krisna Mukti bersama anak-anak di Desa Teluk Meranti

Dari kanal, kami pergi ke desa Meranti. Warga desa sangat antusias menyambut Krisna Mukti yang datang untuk mengundang siswa-siswi SMP untuk lomba pantun di camp. Setelah sholat jumat dan pengajian dengan Ibu-Ibu PKK, kami kembali ke camp. Wah warga Teluk Meranti sangat senang kedatangan seorang publik figure yang membantu mereka menyelamatkan hutan sememnanjung kampar. Kami kembali ke kamp setelah sholat jumat dan pengajian bersama ibu-ibu PKK dan tangan kami hadiah dari ibu-ibu PKK yang memberikan kami kerajinan hasil buah karya mereka.

Bono datang!

Siang harinya, Bono datang. Bono adalah gelombang yang terbentuk karena pertemuan pasang air laut dengan arus sungai menuju laut. Hal ini menyebabkan gelombang seperti tsunami kecil yang bisa sampai setinggi 2 meter. Bono atau gelombang yang bertemu biasa terjadi di semua sungai yang berakhir di laut, namun fenomena Bono ini terkenal hanya di Sungai Kampar dan Sungai Amazon.

Kamp Pembela Iklim  yang terendam air sungai setelah bono datang

Para pengemudi Pongpong biasanya bermain bono dengan mendekati gelombang itu saat Bono datang dan lari ketika Bono mendekat. Saat arus balik atau biasa disebut dengan Bono pulang, di atas pongpong rasaya seperti bermain selancar.

Salam,

Ivy Londa

Dukungan Masyarakat Riau

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim,perdagangan karbon,supporter by Blogger Greenpeace on the November 17th, 2009

Kejutan yang sangat mengharukan dari warga Teluk Meranti pada Minggu 15 November 2009. Mencegah para aktivis Greenpeace untuk meninggalkan Kamp karena desakan polisi palalawan.

APRIL Masih Terus Menghancurkan Hutan

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,iklim,perdagangan karbon by Blogger Greenpeace on the November 12th, 2009

Aktivis menghentikan 7 excavator di konsesi hutan yang telah dihancur

Aktivis Greenpeace baru saja mengunci diri di ketiga excavator yang ada di konsesi APRIL salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia tepatnya di Semenanjung Kampar.

Awal pekan ini Greenpeace merilis bukti bahwa APRIL telah melakukan pembukaan hutan dan pengerringan lahan gambut di daerah ini. Menurut pemantau kami kedalam gambut di konsesi ini sangat dalam melebihi tiga meter.

Indonesia Climate Defender Camp

Hukum yang berlaku di Indonesia melarang pembukaan lahan gambut yang berada di kedalaman lebih dari tiga meter. APRIL membuat pernytaan bahwa mereka telah menghentikan operasinya di semenanjung kampar.

Padahal pada kenyataannya….

Para aktivis yang saat cerita ini di turunkan berada di kawasan konsesi APRIL berusaha untuk menghentikan penghancuran hutan yang tengah APRIL lakukan.

c1211098

Bustar Maitar, juru kampanye hutan untuk Greenpeace, telah mengatakan kepada pihak APRIL bahwa para aktivis tidak akan meninggalkan konsesi sampai perusahaan tersebut berkomitmen kepada public untuk menghentikan semua kegiatan deforestasi dan penghancuran lahan gambut di Semenanjung Kampar.

Hujan sangat lebat turun di semenanjung kampar. Tetapi para aktivis tetap mencegah perusahaan itu menggunakan kembali alat berat mereka untuk menghancurkan hutan.

Presiden Amerika Serikat Barrack Obama akan melakukan kunjunganpertamanya di Asia tenggara dan Amerika Serikat terus melakukan penolakan pada perjanjian perubahan iklim di PBB. Perundingan PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen akan terjadi bulan depan, Greenpeace terus mendesak mereka menyelamatkan hutan. Greenpeace telah mengeluarkan Siaran Pers menyoroti pentinganya semua deforestasi. Greenpeace meminta Presiden Yudhoyono dan para pemimpin dunia untuk melindungi hutan di seluruh dunia untuk mencegah perubahan iklim.

Aktivis membentangkan spanduk berukuran 20×30 meter di tempat yang baru saja menghancurkan hutan. Mendesak Obama untuk mengambil kepemimpinan yang kuat dan bekerja dengan para pemimpin Negara-negara lain untuk membantu mencegah krisis iklim.

Indonesia Climate Defender Camp

Indonesia Climate Defender Camp

Aktivis Greenpeace Mengunci Alat Berat Milik APRIL di Semenanjung Kampar

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,iklim by Blogger Greenpeace on the November 12th, 2009

wr_12112009_0205

Hari ini aktivis Greenpeace mengunci empat alat berat milik perusahaan kertas APRIL di Semenanjung Kampar yang kaya akan karbon untuk menyerukan pentingnya untuk segera menghentikan segala tindak deforestasi di Indonesia.

Emisi karbon dari tindak deforestasi serta degradasi area hutan dan lahan gambut merupakan penyebab utama yang membawa Indonesia menjadi negara ketiga penghasil karbon terbesar di dunia.

Pada pukul 06.15 WIB lebih dari 50 aktivis tiba di lokasi. Setengah jam kemudian tiga alat berat telah berhasil dikunci yang kemudian diikuti dengan terpasangnya banner yang berbunyi “OBAMA YOU CAN STOP (OBAMA ANDA BISA MENGHENTIKAN INI)”.

Dengan tiga tim mengunci alat berat, para aktivis yang lain memegang tanda kecil yang berbunyi “Climate Crime (Kejahatan Iklim)” mengacu kepada sumbangan besar APRIL terhadap perubahan iklim melalui perambahan hutan besar-besaran yang dilakukannya dengan bukti kuat atas tindak deforestasi ilegal.

** Update terbaru aktivis telah mengunci 7 alat berat

Mission Possible: Menghidupkan Kembali Lahan Gambut

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 6th, 2009

Cerita dari Hikmat Soeriatanuwijaya di Kamp Pembela Hutan

Saya berada di kawasan gambut Semenanjung Kampar, setengah jam perjalanan dengan perahu motor dari Kamp Pembela Iklim (Climate Defender Camp) Greenpeace di Teluk Meranti, Semenanjung Kampar, Propinsi Riau.

Sepanjang mata memandang adalah semak belukar, rumput tinggi, beberapa batang pohon, dan semak belukar lagi. Ah, ini bukan hutan alam!

peatland in Teluk Meranti 

Saya di sini, di Semenanjung Kampar yang punya hutan alam seluas 700.000 hektar, menyimpan kandungan karbon hingga dua miliar ton. Oh, ya, saya ingat sekarang, data terakhir menunjukkan bahwa hampir setengah hutan di Semenanjung Kampar, tepatnya 300.000 hektar sekarang telah hancur untuk dijadikan perkebunan.

Dan tempat saya berada saat ini pasti salah satu dari 300.000 hektar yang kita bicarakan itu. Gambut yang ada di daerah ini rusak akibat kanal yang dibangun beberapa tahun lalu untuk kegiatan penebangan liar (illegal logging). Sekarang kegiatan penebangan liar itu sudah diberantas, tetapi kanal-kanal itu masih ada, terus mengeringkan dan merusak gambut yang ada di sekitarnya.

Di sebuah kanal, saya melihat sekitar 50 aktivis Greenpeace dan masyarakat setempat bekerja keras membangun bendungan. Di bawah komando dari Petteri, action coordinator yang berasal dari Finlandia, bendungan itu tampak sangat kokoh menghalau aliran air kanal dan memastikan hutan gambut tetap terjaga. Mereka sudah menyelesaikan dinding pertama dan mulai membangun dinding berikutnya.

first damm at Teluk Meranti

“Greenpeace bersama masyarakat setempat bekerja sama membangun bendungan ini untuk menghentikan emisi gas rumah kaca dan memulihkan ekosistem di tempat ini,” jelas Petteri.

Menghentikan emisi gas rumah kaca! Mengembalikan tempat ini ke kondisi normal layaknya hutan alam! Pekerjaan besar, harapan yang sangat besar mengingat ditempat ini telah terjadi kerusakan yang lumayan parah.

Tetapi ini bukan Mission Impossible! Apa gunanya merencanakan sebuah misi jika kita sudah merasa tidak mungkin berhasil?

Sebut saja ini sebagai Mission Possible, atau lebih baik lagi, Mission of Hope. Karena seberapa sukar upaya ini, selalu ada secercah harapan untuk memperbaikinya.

Karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa apa yang dikerjakan Greenpeace dan masyarakat di sini, benar-benar bisa mengembalikan kondisi lahan gambut di sekitarnya.

“Sebagian besar karbon yang terlepas dari lahan gambut adalah hasil dari proses pengeringan sehingga tanahnya atau pohonnya bisa digunakan,” ujar Profesor Jonotoro, seorang ahli tanag gambut. 

Profesor Jonotoro telah berpartisipasi dalam upaya-upaya Greenpeace untuk menghentikan deforestasi sejak beberapa waktu lalu. Pria ramah ini sangat prihatin dengan masa depan Semenanjung Kampar.

Kami berbincang di pinggir kanal,  dengan latar belakang pekerjaan bendungan terus berlangsung. Jonotoro adalah orang yang paling tepat untuk diajak diskusi tentang lahan gambut. Dia adalah salah satu ahli gambut yang dipunyai Kementerian Kehutanan, dan pengajar di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.

Menurut Jonotoro, tanah gambut terdiri dari material organik yang belum terdekomposisi secara sempurna, dan mengandung air. Oleh sebab itu gambut dapat  mengikat karbon dalam jumlah besar. Semakin dalam tanah gambut makin banyak karbon yang dia kandung. “Ketika level permukaan air menurun, maka makin banyak stok karbon yang terlepas ke atmosfer.”

Tidak hanya berdampak buruk pada ekosistem, jika terbakar gambut bisa membara hingga berminggu-minggu. Api yang bisa dipadamkan hanya di permukaan, tetapi di bawah tanah tetap terbakar sehingga akan muncul lagi beberapa hari kemudian. Seperti bara yang terus hidup.

”Dengan membangun bendungan kami berharap dapat mengembalikan lahan gambut ke kondisi hutan alam semula, sehingga ekosistem bisa kembali hidup di sini,” jelas Jonotoro. 

Jadi Profesor, bisa Anda jelaskan seberapa parah kerusakan di daerah ini? Dan jika bendungan ini selesai, berapa lama proses restorasi akan mulai menampakkan hasil? 

Jonotoro terdiam dan menatap saya dengan tajam. Saya khawatir dia tidak mau menjelaskan lebih lanjut karena saya sudah banyak bertanya mulai saat kami berangkat meninggalkan kamp. Tetapi tidak, dia mengambil topi lapangannya dan berkata: “Ikut dengan saya!” 

walking at peatland

Kami kemudian berjalan lebih dalam. Kami harus hati-hati karena tanah gambut sangat tidak stabil. Seperti berjalan di atas busa.  Bustar, Jurukampanye Hutan kami sempat  terjatuh saat menyeberangi jembatan kayu. Tetapi dia tidak terluka. 20 menit berjalan, kami tiba di area yang dikelilingi rumput setinggi kepala. Di tempat itu ada pipa ukur dan Jonotoro memeriksanya dengan memasukkan kayu ke dalamnya. 

“Ini kering. Tingkat air di tempat ini makin menurun,” ujarnya. Dia mengambil alat ukurnya dan berseru: “50 sentimeter.” 

“Kondisi water table terbaik untuk lahan gambut adalah 20 hingga 0 sentimeter, yang berarti dalam keadaan tergenang. Jika lahan gambut bisa mencapai kondisi ini, maka lingkungannya bisa pulih kembali.”

Biasanya, kita mulai bisa melihat manfaat dari bendungan ini untuk ekosistem sekitar tiga bulan lagi. “Tetapi hasilnya tergantung banyak faktor. Yang jelas bendungan  ini akan menghasilkan sesuatu yang positif.” 

Ya, Profesor, harus. 

Hikmat Soeriatanuwijaya
Media Campaigner di Kamp Pembela Iklim

Greenpeace Membangkitkan Badai

Posted in Copenhagen,Greenpeace,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 6th, 2009

 

Barcelona,  5 November 2009 — Pagi ini ketika para delegasi berjalan menuju kekonferensi seperti hari-hari yang lain seperti hari bisnis biasa, langit  menjadi gelap, keringanan, angin berputar-putar dan hujan mulai turun. Biasanya Barcelona cerah saat ini tetapi terlihat seperti badai yang sangat besar (dokumentasi aktivis Greenpeace).

Greenpeace melakukan aksi di depan delegasi konferensi di Barcelona untuk ikut merasakan apa yang akan terjadi di masa depan jika kesepakatan iklim yang adil, ambisius dan mengikat tidak terjadi.

Next Page »