Greenpeace Asia Tenggara


Tolong Selamatkan Rumah Kami

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the October 30th, 2009

“Rumah Kami dari Hutan, Alat Transportasi Kami dari Hutan, Kehidupan Kami Dari Hutan…. Tolonglah Kami Menjaga Hutan Kami….” Kemudian pak Yusup tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan menangis sedih

Kejadian tersebut terjadi di hadapan Cameron Hume (Duta besar Amerika Serikat) dan Rob Daniel (sekretaris pertama kedutaan inggris) untuk Indonesia. Greenpeace mengundang mereka untuk datang langsung melihat kondisi terkini semenanjung Kampar dan berkesempatan bertemu masyarakat teluk meranti untuk mendengar langsung harapan dan keluhan masyarakat.

Juru Kampanye Greenpeace bersama duta besar Amerika Serikat di Kamp Pembela Iklim

Juru Kampanye Greenpeace bersama duta besar Amerika Serikat di Kamp Pembela Iklim

Kunjungan terjadi, 3 hari sebelum pembukaan Kamp pelindung iklim Greenpeace di Teluk Meranti. Saya berkesempatan sebagai pemandu dan sekaligus menjadi penterjemah pada kunjungan tersebut. Masyarakat sangat antusias atas kunjungan tersebut, baik masyarakat yang menginginkan perusahaan beroperasi maupun masyarakat yang sangat keras menolak beroperasinya perusahaan yang akan membabat hutan.

Peta Teluk Meranti

Perjalanan dengan penuh tantangan

Perjalanan para tamu Greenpeace tersebut di mulai dari Bandara Pekanbaru di Riau dan dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan helicopter yang secara khusus kami sewa untuk perjalanan para tamu kehormataan kami. Sejak awal keberangkatan di bandara Pekanbaru sangat jelas adanya upaya dari menghalang-halangi perjalan tersebut dengan menggunakan alasan cuaca buruk. Perusahaan perusak hutan berupaya keras  bertemu duta besar  dan menghalangi mereka untuk melihat kenyataan sesungguhnya. Namun dengan sangat terbuka ditolak oleh duta besar.

Perjalanan dengan Helicopter ke Teluk Meranti mengambil waktu kurang lebih satu jam dan dalam perjalanan tersebut duta besar berkesempatan melihat langsung kehancuran yang sedang terjadi dan berakibat langsung pada perubahan iklim. Dan melihat sebagian keindahan hutan semenanjung Kampar yang masih tersisa.

Helikopter yang membawa duta besar amerika mendarat dilapangan bola desa Teluk Meranti disambut masyarakat yang sudah menantikan kedatangan tamu kehormataan Greenpeace tersebut. Dari lapangan bola para tamu dibawa menggunakan sepeda motor oleh masyarakat menuju tempat pertemuan, tanpa canggung duta besar dibonceng oleh salah satu tokoh masyarakat Teluk Meranti dengan menggunakan sepeda motor.

Ditempat pertemuan masyarakat sudah menanti untuk menyampaikan isi hati meraka kepada para tamu tersebut.  Secara umum masyarakat juga meminta dukungan masyarakat internasional untuk membantu menyelamatkan hutan  terutama semenanjung Kampar yang juga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Karena kehidupan mereka berasal dari hutan.

Duta besar Amerika Serikat bersama seorang masyarakat Teluk Meranti

Duta besar Amerika Serikat bersama seorang masyarakat Teluk Meranti

Duta besar juga berkesempatan untuk berkunjung ke Kamp Greenpeace yang saat itu hampir rampung proses pembangunannya dan juga berkunjung melihat langsung situasi hutan Kampar dan bertemu langsung dengan
masyarakat yang sedang mencari kayu dihutan untuk kebutuhan rumah dan kebutuhan kampung lainnya.

Tanggung Jawab pada iklim dunia?

“Indonesia adalah negara yang berdaulat dan Pemerintah Indonesia adalah penanggjung jawab utama untuk menyelamatkan hutan dan masyarakat disini, kami berupaya untuk membantu sesuai dengan kapasitan kami tapi
masyarakat ada di garis depan dan pilihan untuk menyelamatkan hutan ada ditangan masyarakat” Ujar  Cameron Hume (Duta besar Amerika Serikat Untuk Indonesia) sebelum meninggalkan desa Teluk Meranti.

Amerika adalah negara pengemisi terbesar di dunia, mereka bertanggung jawab juga untuk memotong emisi gas rumah kaca mereka dan itu harus dilakukan kalau kita ingin iklim kita selamat, namun kerusakan yang terjadi di Indonesia juga tidak lepas dari permintaan konsumen yang salah satunya di berada di Amerika sehingga negara-negara maju seperti Amerika juga bertanggung jawab untuk ikut serta dalam menyelamatkan hutan yang ada Indonesia.

President Obama yang akan berkunjung ke Singapura pada bulan November dan kami berharap pesan perubahan dapat disampaikan secara langsung oleh duta besar ke presiden Obama dan memastikan presiden Obama harus menjadi salah satu pemimpin yang mendorong perubahan dalam menyelamatkan hutan,  iklim dan masyarakat dunia termasuk  masyarakat Teluk Meranti…

BUSTAR MAITAR



Hutan Lahan Gambut di Sumatra

Posted in Uncategorized by Blogger Greenpeace on the October 27th, 2009

Kamp Pembela iklim : Sambutan Hangat di Teluk Meranti

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Kelapa Sawit,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the October 27th, 2009

Teman,

Dengan senang hati, Saya  memberi tahukan bahwa kamp pembela iklim telah resmi dibuka di Teluk Meranti, teluk  Kampar, Riau pada 26 November 2009. sebuah perayaan sederhana namun berwarna yang dihadiri 200 orang masyarakat teluk meranti, pemuka masyarakat dan perwakilan LSM lokal serta pemerintah.

Sambutan pembukaan singkat di mulai oleh direktur kampanye Greenpeace Asia Tenggara Shailendra. Dalam pembukaanya ia menggarisbawahi tujuan kamp Greenpeace di Teluk Meranti dan berterimaksih kepada seluruh masyarakat atas dukungan proaktif dan keramahan mereka dalam membantu Greenpeace mencapai tujuan yaitu melindungi lahan gambut dan hutan Indonesia.

Sambutan dari Shailendra langsung di jawab oleh para pemimpin setempat dengan kembali menyatakan dukungan mereka untuk Greenpeace dan komitmen mereka untuk melindungi hutan dan kampung halaman mereka. Sungguh suatu semangat yang tidak bisa di gambarkan.

Perayaan pembukaan diakhiri dengan pemberkatan yang diikuti dengan makan siang dengan seluruh tamu kehormatan kami. Selain masyarakat dan pemerintah setempat, wartawan setempat pun mengikuti acara tersebut dan wartawan asing seperti CNN.

Selama beberapa hari terakhir, para sukarelawan kami telah bekerja keras bersama-sama untuk memberi sentuhan terakhir dan saat ini kamp baru kami yang indah di tengah kegersangan telah siap menjadi tuan rumah bagi para aktivis, jurnalis, politisi dan para individu dari seluruh dunia yang sadar akan pentingnya menjaga hutan dan lahan gambut. Dan mereka harus menyerukan bahwa perlindungan hutan merupakan langkah awal untuk mengurangi gas rumah kaca, perlindungan terhadap keanekaragaman dan kepentingan suku asli yang menggantungkan  hidupnya dari hutan.

Berkat para teknisi komunikasi kami Tom Kunen dari Belgia dan Geoff Nimmo dari Australia, alat komunilasi kami  telah siap dan berfungsi untuk kami dapat mengirimkan kepada seluruh dunia pesan-pesan dari hutan dan tim media kami akan meluncurkan gambar, video dan cerita kami dari sini.

Sambutan hangat dari masyarakat adalah hasil dari persiapan sosialisasi di Riau oleh Juru Kampanye kami Zulfahmi selama beberapa tahun terakhir, Joko (Juru Kampanye hutan dan Asov (public Outreatch) selama beberapa minggu terakhir untuk memberikan edukasi kepada masyarakat setempat.

c2610092

Sukarelawan yang berada di kamp kami saat ini  tidak hanya yang berasal dari Indonesia tetapi berasal dari Thailand, Filipina, German, Inggris dan Amerika Serikat telah bergabung dalam tim kami di sini untuk berbuat sesuatu di tempat bencana iklim yang tengah berlanjut.

Walaupun kalian tidak bisa bergabung bersama kami di sini kita secara bersama-sama katakan pada pemimpin dunia, untuk mencegah perubahaan perubahan iklim.

Zero Deforestation Now

Bustar Maitar

Bagaimana kita bisa menari saat bumi kita sudah berubah, Bagaimana kita tidur ketika tidur kita membakar

Posted in Copenhagen,Greenpeace,UNFCCC,chang[e] is coming,tcktcktck by Blogger Greenpeace on the October 6th, 2009

Dari : http://greenpeacesoutheastasia.wordpress.com

“How can we dance when our earth is turning , How do we sleep when our beds are burning”

( “Bagaimana kita bisa menari saat bumi kita sudah berubah, Bagaimana kita tidur ketika tidur kita membakar “  )

- Midnight Oil, Beds are burning

Baru-baru kami bersama mitra kami di kampanye global  TCK TCK TCK memproduksi sesuatu bersama para selebritis  Midnight Oil classic  Beds Are Burning

Lagu ini merupakan bagian dari kampanye global tck tck tck pada forum kemanusiaan (Global Humanitarian Forum) pada kampanye keadilan untuk iklim. Yang bertujuan untuk menarik perhatian untuk pentingnya krisis perubahaan iklim, dengan menandatangani “musical petition” pada setiap pengunduhan (download).
Lagu dan video yang di isi sekitar 60 musisi dan selebriti dari seluruh dunia. Termasuk penyanyi Lily Allen, Simon Le Bon dari kelompok 80-an Duran Duran dan Bob Geldof. Mantan Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan, Uskup Desmond Tutu dan aktris Perancis Marion Cotillard juga menambahkan suara mereka.

Bagi mereka yang tidak akrab dengan Midnight Oil karier mereka yang panjang dan  sangat terkenal, band ini menjadi dikenal karena membawa aliran musik hard rock, pertunjukan live yang selalu di lakukan dan aktivitas politik , khususnya dalam bantuan kampanye anti-nuklir, lingkungan dan menyelamatkan masyarakat adat.

Penggunaan lagu ini tidaklah sangat mengejutkan seperti menggemakan lagu untuk mendesak  tindakan nyata dan ambisius yang dituntut kepada pemerintah dunia pada KTT Kopenhagen.  Mudah-mudahan, lagu ini dapat menjadi lagu yang akan membangkitkan dan memanggil  para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan nyata pada pertemuan perubahan iklim PBB di Kopenhagen.

Klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang proyek musik ini

Carlito Baclagon

Chang Cin Lok

Posted in Greenpeace University,chang[e] is coming by Lalitia on the October 2nd, 2009
©Greenpeace/Hanifah Azzahra

©Greenpeace/Hanifah Azzahra

Chang Cin Lok bukanlah bahasa China. Chang dalam bahasa Thailand berarti gajah dan Cin Lok dalam bahasa gaul Indonesia merupakan kependekan dari ’cinta lokasi’ yang maknanya terdapat dalam istilah Jawa berbunyi ’witing tresno jalaran saka kulino’artinya cinta yang timbul karena sering bertemu. Jadi, Chang Cin Lok  terjadi pada Chang(e) Caravan adalah bagian dari cerita di perjalanan selama 15 hari.

Diantara 5 gajah yang terpilih diantara ratusan gajah yang dikonservasi oleh TERF (Thai Elephant Research and Conservation Fund), terdapat dua gajah yang saling jatuh cinta lantaran kebersamaannya selama perjalanan ini, mereka adalah Dok Kaew (betina, 38 tahun) dan Kajapatara (jantan, 13 tahun). Rupanya demam percintaan Rafi Ahmad-Yuni Shara juga telah menulari dua gajah Thailand ini… hmm…

Direktur TERF, Dr. Alangkot  Chukaew, yang juga menjadi bagian dari tim Chang[e] Caravan, menceritakan bahwa kedua gajah itu telah menujukkan ketertarikan antara satu dengan yang lain sejak mereka pertama kali bertemu di Chang[e] Caravan ini. Mereka menunjukkan gejala-gejala cinta dengan menyemprotkan air satu dengan yang lain, sang betina membuat suara-suara spesial yang menunjukkan ketertarikannya pada sang jantan, dan sang jantan mencoba memberi makan sang betina.

Namun, Dr. Alongkot menambahkan bahwa meskipun mereka telah mencintai satu sama lain, rupanya kedua gajah tersebut belum juga kawin. Penyebabnya karena baik Dok-Kaew maupun Kajapatara belum memiliki pengalaman dalam percintaan,

Hem…kita tunggu saja kabar dari TERF untuk kedatangan sang bayi gajah!

copy-of-dsc01757compile

Hani dan Lalit