Greenpeace Asia Tenggara


Cooming Soon!!!

Posted in Greenpeace,Hutan,chang[e] is coming,iklim by arieutami on the August 31st, 2009
wow...wow...

wow...wow...

Aksi Tim Pemadam Kebakaran

Posted in Greenpeace,Hutan,Kelapa Sawit,Riau,iklim by arieutami on the August 28th, 2009

Nama saya Richi, Koordinator logistik dan volunteer di Greenpeace Asia Tenggara – Indonesia. Baru-baru ini saya mengkoordinasikan suatu kegiatan usaha pemadaman kebakaran hutan di Prorinsi Riau, Sumatra Indonesia dari 31 Juli – 6 Agustus 2009.

Setelah dua tahun akhirnya saya kembali lagi ke Desa Kuala Cenaku, kaki saya berdiri kokoh di atas lahan basah ini. Tidak banyak yang berubah dari desa kecil ini, tapi kali ini saya berjuang untuk bisa bernafas di antara asap tebal berbau dari kebakaran hutan yang setiap tahun melumpuhkan Propinsi Riau di pantai timur Sumatra, berseberangan dengan Negara Singapura. Saya di sini untuk memeriksa peralatan pemadam kebakaran dan menyiapkan tim untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan lahan gambut dibakar kembali dan tidak terkontrol.

Saya pertama kali datang di desa kuala cenaku pada akhir tahun 2007, sebagai bagian dari tim Kamp Pembela Hutan Greenpeace sebelum Pertemuan Perubahan Iklim Bali, untuk menyoroti kerusakan hutan di Indonesia yang terus berlanjut hanya demi pembukaan perkebunan kelapa sawit, dampak luasnya sangat berpengaruh pada perubahan iklim, masyarakat dan kekayaan keanekaragaman yang bergantung pada hutan yang menakjubkan ini.


<http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/press-releases/selamatkan-hutan-selamatkan-i >

Pada tahun 2007 Aktivis Greenpeace dan volunteer membantu komunitas lokal membangun Kamp Pembela Hutan di bawah panas 40 derajat celcius dan pada bulan Ramadhan. Beberapa Komunitas bergabung bersama kami untuk membendung kanal-kanal yang membuat air sungai kuala cenaku tercampur dengan air lahan gambut yang di keringan secara sengaja oleh peusahaan kelapa sawit. Selanjutnya kami bekerja sama untuk mengaudit keanekaragamanhayati di wilayah hutan yang terancam punah akibat konversi pembukaan perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, kami bersama-sama mengambil bagian dalam latihan pemadam kebakaran hutan, menggunakan peralatan yang disediakan Greenpeace, dalam persiapan menghadapi kebakaran hutan tahunan yang telah menjadi seperti wabah tanaman di Propinsi Sumatra dan Kalimantan. Deforestasi Indonesia yang sangat cepat dan membinasakan komunitas serta masyarakat yang bergantung pada hutan. Sekali saja perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas diberikan izin melakukan pembukaan maka akan banyak sekali terjadi pembukaan secara illegal oleh pemerintah nasional maupun lokal, sehingga masyarakat mulai merasakan kehilangan tanah dan mata pencarian mereka.

Kali ini hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan pemeriksaan peralatan yang kami tinggalkan sejak 2007 lalu. Sayangnya saya mendapati peralatan itu tidak terawat, pompa air yang harganya cukup mahal membutuhkan perawatan segera dan beberapa selang air telah digerogoti tikus yang ukurannya sebesar kucing di Jakarta.

Setelah memperbaiki peralatan, saya mulai membangun tim pemadam kebakaran, saya menghubungi anggota komunitas yang pernah terlibat pelatihan kebakaran hutan pada tahun 2007, menambahkan anggota baru dari desa di dekat-dekat Rengat dan ke-15 anggota tim yang kuat ini dilengkapi oleh volunteer dan teman-teman dari Jakarta dan Pekanbaru.

Setelah melakukan beberapa kali survei lapangan dan menggunakan data satelit, kami akhirnya berhasil menemukan kebakaran di atas lahan gambut di wilayah yang kira-kira 40 menit jauhnya dari desa Kuala Cenaku, di sebuah pulau besar di tengah-tengah sungai Indragiri, Pulau Gelang. Kami membutuhkan 6 pompongs (perahu sungai kecil) untuk mengantarkan semua peralatan dan tim ke pulau itu. Butuh 15 menit berjalan kaki dari tepi sungai untuk mencapai letak kebakaran.

Tim pemadam kebakaran dilengkapi penuh dengan helm pengaman, kacamata goggles, masker dan sepatu boot yang kokoh. Kami terbagi menjadi 2 tim, Tim pemasang selang sepanjang 300 meter ke pompa air bertekanan tinggi dan menyalakannya. Dan tim lainnya melihat besarnya kebakaran, menyiapkan peralatan dan sumber daya. Kami melakukan pemadaman selama tujuh hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore.

Kami menghadapi banyak sekali tantangan.Wilayah yang terbakar terletak di lahan gambut dekat denga perkebunan kelapa sawit yang banyak terdapat rumput kering. Sangat sulit untuk memadamkan api di lahan gambut karena besarnya vegetasi kering. Musim kemarau yang panjang dan angin yang kuat juga membuat pemadaman api sangat sulit. Kami butuh waktu untuk menyemprotkan air ke bawah tanah secara terus menerus karena kebakaran lahan gambut berada di bawah dan juga permukaan . Kami harus berhati-hati gara tidak terperangkap oleh kebakaran yang tidak bisa diprediksi ini.

Keadaan lain yang membuat pemadaman api sulit adalah persedian air karena kanal-kanal dan sungai berada jauh darin daerah yang terbakar. Kami akhirnya meminjam selang sepanjang 500 meter dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang letaknya tidak terlalu jauh. Ditempat tersebut, kami jarang melihat kobaran api ketika hari terang, hanya asap tebal. Kabakaran kebanyakan terlihat pada malam hari ketika kami berbaring kelelahan di kamp sementara kami

Setelah lima hari usaha pemadaman kebakaran yang sulit di Pulau Gelang, kami berhasil memadamkan api seluas 10 hektar. Saatnya bergerak menuju Desa Sukajadi, 40 menit dari Pulau Gelang setelah mendengar dari kepala desa bahwa desa ini terancam kebakaran.

Kami tiba di Desa Sukajadi pada pukul 8 malam dan segera bersiap menghadapi asap tebal kebakaran hutan. Desa ini jauh dari persediaan air, jadi kami sekali lagi menggunakan selang 500 meter untuk memadamkan api hingga kami yakin desa ini aman. Kami akhirnya jatuh kelelahan sekita pukul 3 pagi. Syukurlah perjuangan kami mematikan api itu berhasil.

Pada tanggal 6 Agustus 2009, setelah berhasil menyelamatkan hutan seluas 25 hektar dan Desa Sukajadi, Dengan berat hati kami menghentikan kegiatan pemadaman api. Ini mungkin tidak terdengar banyak, tapi itulah hal terbaik yang bisa kami berikan mengingat terbatasnya sumberdaya dan waktu.

Sangat disayangkan, Ketika kami tengah berjuang memadamkan api dengan masyarakat local ., Pemerintah Indonesia hanya melakukan lokakarya pemadaman api di Pekanbaru dengan Amerika Serikat. Koramilpun dan tidak melakukan apa-apa untuk membantu masyarakat yang diserang gelombang kebakaran hutan .

< http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/kebakaran_hutan >

Kami mengiinkan Pemerintah Indonesia segera bertindak menghentikan kebakaran hutan yang selalu terjadi. Dan melakukan penanggulangan sebelum api mulai membakar di tempat pertama. Menggunakan api untuk membersihkan lahan merupakan tindakan ilegal berdasarkan hukum Indonesia, Namun dengan banyaknya kebakaran hutan yang disulut secara bebas oleh pekerja perkebunan untuk mempersiapkan perkebunan kelapa sawit dan bubur kertas. Menujukan lemahnya penegakkan hukum dan banyaknya perusahaan dengan seenaknya saja menyalahkan masyarakat lokallocal yang membakarnya.

Bravo tim pemadam kebakaran dan semua orang yang mendukung kami.….


- Richi

KENAPA GREENPEACE MENOLAK PERDAGANGAN KARBON ?

Posted in Greenpeace,Hutan,perdagangan karbon by Blogger Greenpeace on the August 26th, 2009

Karbon dalam unsur kimia di lambangankan dengan C. karbon berada di setiap makhluk hidup di bumi ini. Banyaknya perdebatan dan pembicaraan tentang perdagangan karbon belakangan ini adalah tentang karbondioksida atau CO2 ke atmosfir bumi.

Menurut beberapa pihak perdagangan karbon adalah salah satu solusi dari perubahan iklim dan untuk menghentikan laju penggerusakan hutan yang tinggi di negara-negara penyerap karbon seperti Indonesia.

Lalu mengapa Greenpeace tidak setuju dengan konsep perdagangan karbon ini?

Greenpeace mengusulkan sesuatu yang berbeda. Greenpeace melakukan pendekataan fund based approach dimana Greenpeace MENOLAK offset carbon trading. Hal ini karena mekanisme karbon offset tidak memberi keuntungan dalam penghentian perubahaan iklim karena tidak signifikan menurunkan emisi di negara maju.

Dengan karbon offset negara maju bisa membeli karbon dari hutan-hutan tropis di negara berkembang dengan demikian negara berkembang harus menjaga hutannya sebagai cadangan karbon yang diperjualbelikan, sementara negara maju karena telah membeli karbon maka mereka akan tetap bebas melakukan emisi, padahal rata-rata emisi karbon global di hasilkan dari negara maju.

Ada beberapa ketidakadilan dalam konsep karbon offset:

1. penurunan emisi menjadi kewajiban bagi setiap negara, dalam karbon offset kewajiban negara maju untuk penurunan emisi dilimpahkan/dibebankan ke negara berkembang yang berhutan tropis melalui skema perdagangan karbon (offset), dimana negara maju akan tetap melakukan emisi seperti business as usual.

2. Karbon yang diperjualbelikan tidak boleh ada kebocoran (leakage) yang berdampak pada berkurangnya cadangan karbon di wilayah yang disepakati dalam kontrak. Untuk menetapkan, memonitor dan memverifikasi cadangan karbon di wilayah yang diperdagangkan dibutuhkan methodologi yang cukup rumit termasuk pelaporannya setiap periode. Kapasitas Indonesia dipertanyakan dalam hal ini, karena berdasarkan kasus illegal logging yang terjadi sampai saat ini belum juga bisa tertangani secara tuntas.

3. dampak jika terjadi kebocoran adalah si penjual (negara berkembang) harus mengkompensasi kebocoran tersebut ke pembeli (negara maju), padahal mekanisme perdagangan karbon (offset) adalah performance based, dan pembayaran dilakukan di akhir periode kontrak. Artinya jika terpantau terjadi kebocoran (leakage) maka negara berkembang harus membayar kompensasi kebocoran tersebut ke negara maju (meskipun negara berkembang belum menerima pembayaran dari negara maju). Hal ini akan menempatkan negara berkembang pada jeratan hutang yang berkepanjangan.

4. Jika semua negara berkembang yang berhutan tropis memasuki pasar karbon maka bisa dipastikan harga karbon akan jatuh, sehingga tetap saja penurunan emisi karbon tidak terjadi secara signifikan.

5.sehubungan dengan hutang ekologis (ecological debt) dari negara maju yang telah melakukan emisi terlebih dulu dari negara berkembang maka dalam konteks itu jumlah yang harus dibayar negara maju (seharusnya) jauh lebih besar dari pada yang dibayarkan dalam membeli karbon dari skema perdagangan karbon.

Anda bisa mendownload mekanisme pendanaan FOREST FOR CLIMATE

Kesimpulannya perdangangan karbon ini akan lebih banyak merugikan negara berkembang dan sesuatu yang sangat tidak adil untuk Negara-negara berkembang.

Salam Hijau Damai,

Yuyun Indradi
Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara

Direct Dialogue Venue di Bulan Agustus

Posted in Direct Dialogue,Greenpeace,supporter by arieutami on the August 4th, 2009

Hei,

Kamu biasa bertemu pasukan hijau Greenpeace ada di tempat-tempat di bawah ini loh….

SEMARANG :
Jateng Fair  1-18 agustus
Gramedia Pandanaran  19-28 agustus

JOGJA :
Gramedia Sudirman  1-20 agustus
Cinema XXI             21 agustus – 3 September  :


JAKARTA

PRJ Motor Show                                                1 – 2 Agustus 2009

TM Book Store Detozz:                                      1 – 9 Agustus 2009

ITC Permata Hijau                                              3 – 9 Agustus 2009

Bekasi Square                                                   3 – 9 Agustus 2009

Pluit Junction                                                     17 -30 Agustus 2009

Metro Mall Bekasi                                              17 – 30 Agustus 2009

Citozz                                                               31 Agustus – 6 September 2009

Pluit Junction                                               17-30 Agustus 2009

SURABAYA
Gramedia Manyar Surabaya                    1-5 Agustus
Citywalk Pakuwon Surabaya                   7-17 Agustus
Surabaya Townsquare (SUTOS)                24-30 Agustus

line-height: normal;”>BANDUNG

Kings dan griya pahlawan                                     1-9 agustus

Jambore petualang indonesia-ranca upas          7-9 agustus

Metro margahayu                                                   10-17 agustus

Griya tasikmalaya                                                      14-30 agustus

BIP                                                                             10-17 agustus

Gramedia merdeka                                                 21 – 30 agustus

Jangan ragu dan takut untuk berbicara langsung ke pada pasukan hijau. Kami berkampanye dan membutuhkan dukungan dari anda….

Greenpeace adalah organisasi kampanye independen. Dukungan finansial dari individu-individu seperti anda adalah tulang punggung untuk kampanye-kampanye Greenpeace. Kami menolak donasi dari pemerintah, perusahaan atau partai-partai politik dan lembaga lainnya sehingga kami bebas menyuarakan dan mengekspos kejahatan-kejahatan lingkungan dimanapun terjadi.

Kalo gak sempet ketemu bisa klik di sini dukung kami

Salam Hijau nan damai

Direct Dialogue Campaigner Team