Ketika Mereka Tidak Tidur Untuk Melindungi Semenanjung Kampar
Subuh hari di tanggal 24 Agustus 2010, ketika umumnya semua orang tertidur pulas setelah bersahur, seratus lima puluh warga Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan justru bersiap-siap berangkat ke Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bersama mereka, spanduk, spidol dan beberapa lembar kertas karton. Dengan semangat penuh mereka mulai bergerak.
Dua unit bus dan sebuah mobil terisi penuh. Umumnya adalah ibu-ibu. Perjalanan dari Desa Teluk Meranti menuju Kota Pangkalan Kerinci ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam lebih dengan menggunakan mobil biasa, sementara menggunakan bus akan lebih lama lagi karena kondisi ruas jalan yang becek, berlumpur dan penuh kerikil.
Meski dalam suasana Ramadhan, namun semangat 150 warga Teluk Meranti yang berunjuk rasa di Kantor Bupati Pelalawan tidak pernah surut untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Secara bergantian ibu-ibu dan bapak-bapak menyampaikan aspirasi. Di antara aspirasi yang mereka sampaikan melalui orasi di depan pejabat Pemerintah Kabupaten Pelalawan adalah menolak keberadaan PT RAPP di kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar — yang sudah dirusak oleh perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut. Mereka juga menuntut adanya moratorium di Semenanjung Kampar.
Selain itu, mereka juga menolak kesepakatan yang dibuat oleh PT RAPP bersama dengan Tim 40 yang ternyata tidak disetujui secara menyeluruh oleh anggota Tim 40 dan masyarakat Teluk Meranti. Mereka menilai, butir-butir kesepakatan RAPP dengan Tim 40 merugikan masyarakat dan menghilangkan hak warga atas kepemilikan lahan di hutan Semenanjung Kampar yang mereka sebut juga tanah seberang.
Ini merupakan aksi pertama mereka secara terbuka dalam menyampaikan aspirasi mengenai pengelolaan Semenanjung Kampar. Dan bersama kampanye Greenpeace di Kamp Pelindung Iklim akhir tahun 2009 lalu, mayoritas masyarakat Teluk Meranti memberikan dukungan atas aktifitas organisasi lingkungan tersebut. Aksi penolakan terhadap perusahaan RAPP juga pernah dilakukan oleh masyarakat Teluk Binjai yang marah karena hutan tempat pencaharian mereka itu dirusak oleh perusahaan kelompok APRIL ini.

Membentangkan banner di Semenanjung Kampar Oktober 2008
Dalam aksi itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Riau, di antaranya Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Greenpeace, Scale Up, Walhi, Mitra Insani, Kabut Riau, Bahtera Alam dan organisasi kemasyarakatan seperti Tim Pendukung Penyelamat Semenanjung Kampar (TP2SK) serta Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) juga turut mendukung aspirasi masyarakat Teluk Meranti yang merindukan hutannya kembali.
Untuk Masa Depan Generasi Mendatang
25 November 2009, 21.00 WIB
Hi, Saya Alien aktivis Greenpeace bersama 3 teman aktivis lain dari Filipina, Jerman dan Belanda kami masih berusaha menghentikan operasi alat angkut di pabrik Kertas milik APP. kawan-kawan kami yang lain telah di lumpuhkan tetapi kami tetap berusaha bertahan hingga malam ini.
Hari yang sangat panjang buat saya, tapi ini harus di lakukan untuk meyerukan pada pemilik merusahaan, pemerintah dan dunia mereka harus menghentikan penghancuran hutan. mereka harus menghentikan ini untuk mencegah bencana iklim yang saat ini sedang dan akan terus terjadi jika mereka tidak tersadar. Rasa lelah pasti ada, Tas persediaan makan saya telah di rampas sekuriti tadi, Panas matahari dan dingin malam ini pasti akan menghasilkan sesuatu untuk dunia.
Masyarakat dunia harus tahu betapa hancurnya hutan Indonesia saat ini dan negara-negara yang menerima hasil penghancurannya secepatnya harus berhenti membeli hasil dari sesuatu yang merusak hutan dan masa depan generasi mendatang.
Hutan-hutan alam yang harusnya di lindungi sekarang telah tersentuh dan hancur karena pembukaan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan akasia. Kedalaman hutan lahan gambut yang terbakar dan melepaskan CO2 merupakan ancaman nyata terhadap iklim bumi
Teman saya joel dari Filipina mengatakan ” saya sangat ingin membantu Indonesia dan dunia. pabrik raksasa ini telah menghancurkan hutan dan memicu perubahaan iklim. Saya dan masyarakat di Filipina telah merasakaan dua topan yang menghancurkan manila. dan itu karena perubahaan iklim. saya ingin membantu karena harus ada perubahaan untuk menyelamatkan dunia dan mencegah itu terjadi lagi”

Terlihat dari atas alat angkut ini betapa luasnya perusahaan ini. lebih dari 2 juta ton bubur kertas di lumat oleh mesin-mesin di sini yang berasal dari perkebunan dan hutan alam termasuk semenanjung kampar yang terancam tidak bisa terselamatkan.
Malam ini kami hanya berempat masih di sini berusahaa menghentikan ini tapi saya percaya jutaan aktivis pemyelamat iklim di luar sana akan terus berusaha menghentikan penghancur hutan dan penghancur iklim. berusaha menjadikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dan bisa menikmati indahnya hutan dan lahan gambut.
Salam dari atas crane,
Alien Maurin
Greenpeace Menghentikan Perusahaan Kertas Terbesar
Penghancur Hutan: Anda Dapat Menghentikan Ini
Pagi ini 12 aktivis Greenpeace menghentikan alat angkut perusahaan kertas raksasa mikil PT. Indah Kiat Pulp Paper persudahaan yang di miliki Group Sinar Mas. Perusahaan ini salah satu perusahaan yang ikut mendorong cepatnya perubahaan iklim dunia. Mereka menghancurkan hutan alam dan hutan lahan gambut yang ada di Riau. Hutan Lahan gambut yang menyerap milyaran ton karbon akan terlepas ketika mereka beroperasi menghancurkan hutan yang tersisa di Riau.
Empat buah alat angkut yang berada di pelabuhaan ekspor di berhetikan dengan mengantungkan diri. mereka membentangkan banner bertuliskan “Penghancuran Hutan: Anda dapat menghentikan ini” dan “Climate Crime”. Sampai cerita ini saya tulis masih ada 4 aktivis yang bertahan di salah satu alat angkut selama 8 jam. Panas terik dan dahaga menggelayuti mereka tetapi komitmen mereka tetap akan bertahan selama mungkin sampai para pemimpin bertindak nyata untuk penyelamatan iklim dan penyelamatan dunia dari bencana iklim.


Dukungan Untuk Penyelamat Iklim – Part 1
Cerita ini adalah cerita perjalanan Ivy ( anggota solar generation) yang masih berusia 17 tahun dan supporter Greenpeace Krisna mukti selama 3 hari untuk memberikan dukungan kepada warga masyarakat Teluk meranti dan para aktivis Greenpeace di Kamp Pembela Iklim.

Saya Ivy londa, Krisna Mukti dan Mba Milla-asisten Krisna Mukti tiba di Pekanbaru pada kamis Pagi, kami di sambut dengan matahari yang sangat terik, kira-kira 40 derajat celcius. Kami tidak langsung mengunjungi Kamp tapi kami menuju Polres Palalawan kira-kira 1 jam dari Pekanbaru. Kami menuju Polres Palalawan untuk memberi semangat kepada 18 aktivis pembela iklim yang menjadi tersangka dan melakukan wajib lapor atas tindakan menghentikan penghancuran hutan (Sesuatu yg aneh!). senangnya melihat para aktivis tetap semangat di kantor polres Palalawan walaupun menempuh ketidakadilan.
Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan yang saya melihat truk-truk Fuso bermuatan biji sawit, kayu alam dan truk-truk tertutup menjadi pemandangan yang tak putus-putus. Memasuki daerah Kerinci, pemandangan yang bisa di lihat sangat mengenaskan. Hutan-hutan gundul hilang dilahap perusahaan kertas seperti RAPP dan perusahaan lainnya seperti Sinar Mas. Beberapa lahan yang tersisa adalah bekas dibakar masih meninggalkan asap-asap tipis. Sebagian lagi dibiarkan gundul. Jalan melintas Kerinci – Binjai dibuat perusahaan-perusahaan itu 1 tahun lalu untuk keperluan transportasi alat-alat berat.
Akhirnya kami tiba di Desa Teluk Meranti setelah 5 jam perjalanan. Saat kami tiba, air sungai sedang pasang, kami menempuh sisa perjalanan menuju Kamp Pembela Iklim menggunakan speed boat selama kurang lebih 10 menit. Malam pertama di camp sungguh menantang karena baru pertama kali di desa yang sangat jauh, Nyamuk-nyamuk gemuk, serangga hutan yang salah satu dari mereka mungkin beracun. Tepat Jam 10 diesel dimatikan, beberapa minggu lalu kamp ini memakai Solar panel tapi karena kondisi kemarin tidak di pasang kembali. kami pun mencoba tidur di balik kelambu ditemani suara serangga hutan yang terus bernyanyi.
Membendung kanal!
Bersama para relawan kami menembus pagi untuk membendung air gambut di kanal. Menaiki Pong-pong (sebutan perahu tradisional) selama 20 menit melewati sungai yang di beberapa tempat terdapat pasir hisap. Sampai di ujung kanal terlihat bendungan yang belum selesai. Bendungan ini sangat penting untuk menahan air gambut agar air gambut tetap basah. Kanal-kanal di buat oleh perusahaan untuk mengalirkan kayu-kayu hasil pembabatan mereka (pembabatan terakhir 2004). Padahal lahan gambut rawan terbakar jika di keringkan dan memlepaskan kandungan karbon.
Setelah lelah membendung dengan mengangkut karung-karung pasir, saya melanjutkan dengan berenang di kanal air gambut yang berwarna merah kecoklatan, air gambut sangat jernih dan dapat di minum loh. Tapi kadar asam air gambut sangat tinggi tidak baik untuk gigi dan usus.

Krisna Mukti bersama anak-anak di Desa Teluk Meranti
Dari kanal, kami pergi ke desa Meranti. Warga desa sangat antusias menyambut Krisna Mukti yang datang untuk mengundang siswa-siswi SMP untuk lomba pantun di camp. Setelah sholat jumat dan pengajian dengan Ibu-Ibu PKK, kami kembali ke camp. Wah warga Teluk Meranti sangat senang kedatangan seorang publik figure yang membantu mereka menyelamatkan hutan sememnanjung kampar. Kami kembali ke kamp setelah sholat jumat dan pengajian bersama ibu-ibu PKK dan tangan kami hadiah dari ibu-ibu PKK yang memberikan kami kerajinan hasil buah karya mereka.
Bono datang!
Siang harinya, Bono datang. Bono adalah gelombang yang terbentuk karena pertemuan pasang air laut dengan arus sungai menuju laut. Hal ini menyebabkan gelombang seperti tsunami kecil yang bisa sampai setinggi 2 meter. Bono atau gelombang yang bertemu biasa terjadi di semua sungai yang berakhir di laut, namun fenomena Bono ini terkenal hanya di Sungai Kampar dan Sungai Amazon.
Kamp Pembela Iklim yang terendam air sungai setelah bono datang
Para pengemudi Pongpong biasanya bermain bono dengan mendekati gelombang itu saat Bono datang dan lari ketika Bono mendekat. Saat arus balik atau biasa disebut dengan Bono pulang, di atas pongpong rasaya seperti bermain selancar.
Salam,
Ivy Londa
Dukungan Masyarakat Riau
Kejutan yang sangat mengharukan dari warga Teluk Meranti pada Minggu 15 November 2009. Mencegah para aktivis Greenpeace untuk meninggalkan Kamp karena desakan polisi palalawan.
APRIL Masih Terus Menghancurkan Hutan
Aktivis menghentikan 7 excavator di konsesi hutan yang telah dihancur
Aktivis Greenpeace baru saja mengunci diri di ketiga excavator yang ada di konsesi APRIL salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia tepatnya di Semenanjung Kampar.
Awal pekan ini Greenpeace merilis bukti bahwa APRIL telah melakukan pembukaan hutan dan pengerringan lahan gambut di daerah ini. Menurut pemantau kami kedalam gambut di konsesi ini sangat dalam melebihi tiga meter.
Hukum yang berlaku di Indonesia melarang pembukaan lahan gambut yang berada di kedalaman lebih dari tiga meter. APRIL membuat pernytaan bahwa mereka telah menghentikan operasinya di semenanjung kampar.
Padahal pada kenyataannya….
Para aktivis yang saat cerita ini di turunkan berada di kawasan konsesi APRIL berusaha untuk menghentikan penghancuran hutan yang tengah APRIL lakukan.
Bustar Maitar, juru kampanye hutan untuk Greenpeace, telah mengatakan kepada pihak APRIL bahwa para aktivis tidak akan meninggalkan konsesi sampai perusahaan tersebut berkomitmen kepada public untuk menghentikan semua kegiatan deforestasi dan penghancuran lahan gambut di Semenanjung Kampar.
Hujan sangat lebat turun di semenanjung kampar. Tetapi para aktivis tetap mencegah perusahaan itu menggunakan kembali alat berat mereka untuk menghancurkan hutan.
Presiden Amerika Serikat Barrack Obama akan melakukan kunjunganpertamanya di Asia tenggara dan Amerika Serikat terus melakukan penolakan pada perjanjian perubahan iklim di PBB. Perundingan PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen akan terjadi bulan depan, Greenpeace terus mendesak mereka menyelamatkan hutan. Greenpeace telah mengeluarkan Siaran Pers menyoroti pentinganya semua deforestasi. Greenpeace meminta Presiden Yudhoyono dan para pemimpin dunia untuk melindungi hutan di seluruh dunia untuk mencegah perubahan iklim.
Aktivis membentangkan spanduk berukuran 20×30 meter di tempat yang baru saja menghancurkan hutan. Mendesak Obama untuk mengambil kepemimpinan yang kuat dan bekerja dengan para pemimpin Negara-negara lain untuk membantu mencegah krisis iklim.
Aktivis Greenpeace Mengunci Alat Berat Milik APRIL di Semenanjung Kampar
Hari ini aktivis Greenpeace mengunci empat alat berat milik perusahaan kertas APRIL di Semenanjung Kampar yang kaya akan karbon untuk menyerukan pentingnya untuk segera menghentikan segala tindak deforestasi di Indonesia.
Emisi karbon dari tindak deforestasi serta degradasi area hutan dan lahan gambut merupakan penyebab utama yang membawa Indonesia menjadi negara ketiga penghasil karbon terbesar di dunia.
Pada pukul 06.15 WIB lebih dari 50 aktivis tiba di lokasi. Setengah jam kemudian tiga alat berat telah berhasil dikunci yang kemudian diikuti dengan terpasangnya banner yang berbunyi “OBAMA YOU CAN STOP (OBAMA ANDA BISA MENGHENTIKAN INI)”.
Dengan tiga tim mengunci alat berat, para aktivis yang lain memegang tanda kecil yang berbunyi “Climate Crime (Kejahatan Iklim)” mengacu kepada sumbangan besar APRIL terhadap perubahan iklim melalui perambahan hutan besar-besaran yang dilakukannya dengan bukti kuat atas tindak deforestasi ilegal.
** Update terbaru aktivis telah mengunci 7 alat berat
Mission Possible: Menghidupkan Kembali Lahan Gambut
Cerita dari Hikmat Soeriatanuwijaya di Kamp Pembela Hutan
Saya berada di kawasan gambut Semenanjung Kampar, setengah jam perjalanan dengan perahu motor dari Kamp Pembela Iklim (Climate Defender Camp) Greenpeace di Teluk Meranti, Semenanjung Kampar, Propinsi Riau.
Sepanjang mata memandang adalah semak belukar, rumput tinggi, beberapa batang pohon, dan semak belukar lagi. Ah, ini bukan hutan alam!
Saya di sini, di Semenanjung Kampar yang punya hutan alam seluas 700.000 hektar, menyimpan kandungan karbon hingga dua miliar ton. Oh, ya, saya ingat sekarang, data terakhir menunjukkan bahwa hampir setengah hutan di Semenanjung Kampar, tepatnya 300.000 hektar sekarang telah hancur untuk dijadikan perkebunan.
Dan tempat saya berada saat ini pasti salah satu dari 300.000 hektar yang kita bicarakan itu. Gambut yang ada di daerah ini rusak akibat kanal yang dibangun beberapa tahun lalu untuk kegiatan penebangan liar (illegal logging). Sekarang kegiatan penebangan liar itu sudah diberantas, tetapi kanal-kanal itu masih ada, terus mengeringkan dan merusak gambut yang ada di sekitarnya.
Di sebuah kanal, saya melihat sekitar 50 aktivis Greenpeace dan masyarakat setempat bekerja keras membangun bendungan. Di bawah komando dari Petteri, action coordinator yang berasal dari Finlandia, bendungan itu tampak sangat kokoh menghalau aliran air kanal dan memastikan hutan gambut tetap terjaga. Mereka sudah menyelesaikan dinding pertama dan mulai membangun dinding berikutnya.
“Greenpeace bersama masyarakat setempat bekerja sama membangun bendungan ini untuk menghentikan emisi gas rumah kaca dan memulihkan ekosistem di tempat ini,” jelas Petteri.
Menghentikan emisi gas rumah kaca! Mengembalikan tempat ini ke kondisi normal layaknya hutan alam! Pekerjaan besar, harapan yang sangat besar mengingat ditempat ini telah terjadi kerusakan yang lumayan parah.
Tetapi ini bukan Mission Impossible! Apa gunanya merencanakan sebuah misi jika kita sudah merasa tidak mungkin berhasil?
Sebut saja ini sebagai Mission Possible, atau lebih baik lagi, Mission of Hope. Karena seberapa sukar upaya ini, selalu ada secercah harapan untuk memperbaikinya.
Karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa apa yang dikerjakan Greenpeace dan masyarakat di sini, benar-benar bisa mengembalikan kondisi lahan gambut di sekitarnya.
“Sebagian besar karbon yang terlepas dari lahan gambut adalah hasil dari proses pengeringan sehingga tanahnya atau pohonnya bisa digunakan,” ujar Profesor Jonotoro, seorang ahli tanag gambut.
Profesor Jonotoro telah berpartisipasi dalam upaya-upaya Greenpeace untuk menghentikan deforestasi sejak beberapa waktu lalu. Pria ramah ini sangat prihatin dengan masa depan Semenanjung Kampar.
Kami berbincang di pinggir kanal, dengan latar belakang pekerjaan bendungan terus berlangsung. Jonotoro adalah orang yang paling tepat untuk diajak diskusi tentang lahan gambut. Dia adalah salah satu ahli gambut yang dipunyai Kementerian Kehutanan, dan pengajar di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.
Menurut Jonotoro, tanah gambut terdiri dari material organik yang belum terdekomposisi secara sempurna, dan mengandung air. Oleh sebab itu gambut dapat mengikat karbon dalam jumlah besar. Semakin dalam tanah gambut makin banyak karbon yang dia kandung. “Ketika level permukaan air menurun, maka makin banyak stok karbon yang terlepas ke atmosfer.”
Tidak hanya berdampak buruk pada ekosistem, jika terbakar gambut bisa membara hingga berminggu-minggu. Api yang bisa dipadamkan hanya di permukaan, tetapi di bawah tanah tetap terbakar sehingga akan muncul lagi beberapa hari kemudian. Seperti bara yang terus hidup.
”Dengan membangun bendungan kami berharap dapat mengembalikan lahan gambut ke kondisi hutan alam semula, sehingga ekosistem bisa kembali hidup di sini,” jelas Jonotoro.
Jadi Profesor, bisa Anda jelaskan seberapa parah kerusakan di daerah ini? Dan jika bendungan ini selesai, berapa lama proses restorasi akan mulai menampakkan hasil?
Jonotoro terdiam dan menatap saya dengan tajam. Saya khawatir dia tidak mau menjelaskan lebih lanjut karena saya sudah banyak bertanya mulai saat kami berangkat meninggalkan kamp. Tetapi tidak, dia mengambil topi lapangannya dan berkata: “Ikut dengan saya!”
Kami kemudian berjalan lebih dalam. Kami harus hati-hati karena tanah gambut sangat tidak stabil. Seperti berjalan di atas busa. Bustar, Jurukampanye Hutan kami sempat terjatuh saat menyeberangi jembatan kayu. Tetapi dia tidak terluka. 20 menit berjalan, kami tiba di area yang dikelilingi rumput setinggi kepala. Di tempat itu ada pipa ukur dan Jonotoro memeriksanya dengan memasukkan kayu ke dalamnya.
“Ini kering. Tingkat air di tempat ini makin menurun,” ujarnya. Dia mengambil alat ukurnya dan berseru: “50 sentimeter.”
“Kondisi water table terbaik untuk lahan gambut adalah 20 hingga 0 sentimeter, yang berarti dalam keadaan tergenang. Jika lahan gambut bisa mencapai kondisi ini, maka lingkungannya bisa pulih kembali.”
Biasanya, kita mulai bisa melihat manfaat dari bendungan ini untuk ekosistem sekitar tiga bulan lagi. “Tetapi hasilnya tergantung banyak faktor. Yang jelas bendungan ini akan menghasilkan sesuatu yang positif.”
Ya, Profesor, harus.

Hikmat Soeriatanuwijaya
Media Campaigner di Kamp Pembela Iklim
Menatap Rimba yang Dulu Perkasa
“Oh jelas kami kecewa… Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita Pengantar lelap si Buyung…”
Dari tepian Sungai Kampar, Riau, para relawan di Kamp Pelindung Iklim menyanyikan dengan semangat lagu lawas gubahan Iwan Fals yang menggambarkan keprihatinannya atas kondisi hutan yang telah hancur. Rekaman gambar tersebut ditampilkan langsung di hadapan penggubahnya, Iwan Fals, dalam event Aksi Sosial Iwan Fals untuk Semenanjung Kampar, yang digelar oleh Greenpeace bekerjasama dengan Tiga Rambu (manajemen Iwan Fals) di Komunitas Salihara Jakarta, 3 November lalu.
Film pendek yang menggambarkan para relawan yang bernyanyi diiringi petikan gitar –yang senarnya kurang satu itu, juga menampilkan rekaman gambar-gambar kerusakan hutan gambut di Semenanjung Kampar yang masih terus berlangsung sampai saat ini.
Dalam event ini Iwan Fals menyumbangkan sejumlah dana kepada Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau), mitra kerja Greenpeace di Riau, selain mempersembahkan 4 buah lagu kepada para supporter dan relawan Greenpeace serta para undangan lainnya yang hadir di Komunitas Salihara, Jakarta. Iwan Fals dalam kesempatan ini menyatakan keprihatinannya, betapa lagu yang dia gubah di tahun 1982 tersebut masih sangat relevan dengan kondisi yang ada di tahun 2009.
Ini berarti selama lebih dari dua dekade kondisi hutan dan lingkungan hidup kita tidak kunjung membaik, dan bahkan semakin parah. Dengan suaranya yang khas, Iwan Fals kembali menyuarakan keprihatinannya kepada dunia dan menyerukan perlawanan terhadap kondisi yang ada pada saat ini.
Ratusan undangan dan puluhan jurnalis terpaku menyaksikan penampilan Iwan Fals yang luar biasa pada siang hari itu. Sepanjang event yang berlangsung sekitar 2 jam ini, Iwan tak hentinya mengugah kita semua yang hadir untuk bertindak, sekecil apapun, demi masa depan anak-cucu yang akan mewarisi bumi ini dari kita. Iwan juga menyatakan dukungan penuh atas apa yang Greenpeace lakukan dalam menyelamatkan hutan dan bumi kita.
Greenpeace memberikan sebuah akar kering dari lahan gambut di Kampar. Tapi ini bukan hadiah tetapi sebuah peringatan jangan membuat akar gambut di kampar mengering karena pembukaan lahan.
Tak dapat dipungkiri, penampilan Iwan Fals dan dukungannya kepada Greenpeace akan memberikan inspirasi dan menambah semangat para aktivis dan relawan Greenpeace serta masyarakat di Semenanjung Kampar yang saat ini berada di garis depan dalam upaya melawan perusakan hutan yang mengakibatkan perubahan iklim.
Terima kasih Bang Iwan..! Akan kami sampaikan salammu dan kami teruskan semangatmu kepada kawan-kawan kami di Semenanjung Kampar sana.
–Arie & Yaya















