Greenpeace Asia Tenggara


Membangun kembali Kamp Masyarakat untuk Penyelamatan Hutan Semenanjung Kampar

Posted in Hutan,Kamp Pembela Iklim,RAPP,Teluk Meranti,penjahat hutan by Blogger Greenpeace on the May 25th, 2010

Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa di pagi itu. Puluhan warga teluk Meranti datang dengan beberapa perahu pompong mereka, merapat dengan elok satu persatu di dermaga. Tua muda, pria wanita, dan anak anak sengaja datang untuk berdoa bersama memulai pembangunan kembali Kamp di Desa Teluk Meranti.

_ict0052-20-640x480

Kamp yang dibangun pada Oktober 2009 lalu itu dibakar secara sengaja oleh orang tak dikenal dini hari 14 April lalu. Bangunan utama berukuran 15 x 5 meter yang biasa digunakan sebagai tempat tidur, ruang kesehatan, dan ruang radio, habis terbakar tak tersisa, dan satu bangunan gudang disebelahnya habis dilalap api seluruh atap dan sebagian dindingnya. Peristiwa kebakaran itu sangat mengejutkan kami semua dari berbagai kantor Greenpeace mulai dari Riau, Jakarta, Thailand, hingga kantor Eropa, karena Kamp itu menyimpan begitu banyak kenangan, suka duka, dan cerita indah sejak hari pertama Greenpeace memulai kampanye penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar dari perusakan lebih lanjut oleh Perusahaan Pulp and Paper RAPP.

Sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran

Sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran

Sepeninggal Greenpeace pada akhir Desember 2009, kamp tersebut diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat dan digunakan sebagai pusat kegiatan dari berbagai komunitas untuk melanjutkan perjuangan menyelamatkan hutan Semenanjung Kampar karena masyarakat telah sadar akan pentingnya hutan bagi kehidupan mereka, dan kini masyarakat Teluk Meranti bersama Greenpeace, FPSK, dan Jikalahari bersama membangun kembali Kamp tersebut secara swadaya, melanjutkan komitmen dan usaha tiada henti untuk penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar.

Pekerjaan di pagi itupun dimulai. Pemuka adat setempat tampil pertama membacakan doa bersama, kemudian menyiramkan air pada beberapa sudut Kamp sebagaimana prosesi adat istiadat yang biasa dilakukan disana dan dilanjutkan dengan makan bersama sambil duduk bersila di lantai, tak ada perbedaan, semua sama. Dukungan yang diberikan terhadap kampanye penyelamatan hutan Kampar dan Greenpeace itu sangat besar, puluhan masyarakat baik dari Hulu maupun Hilir Teluk Meranti, bahu membahu memperbaiki bangunan gudang yang terbakar, sementara kaum Ibu secara berkelompok bergantian menyiapkan makanan dan minuman di dapur Kamp yang untungnya tidak ikut terbakar. Secara teknis Kamp memiliki 5 bangunan utama, yaitu pendopo, dapur, bangunan utama tempat untuk tidur, gudang, dan satu pelataran besar untuk mendirikan tenda, ditambah beberapa bangunan pendukung seperti kamar mandi. Rencananya , bangunan utama yang terbakar akan dibiarkan seperti apa adanya, digunakan sebagai monumen atau situs pengingat bahwa perjuangan kami menyelamatkan Semenanjung Kampar tak akan pernah padam sampai kapan pun jua, meski harus menghadapi berbagai ancaman dan rintangan apapun.

Camp

Pihak perusahaan RAPP mencoba membujuk masyarakat untuk mendukung keberadan perusahaan dan segala aktivitas perusakan lingkungan yang mereka lakukan dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan. Melalui para tokoh terkemuka dan para pemimpin seperti Lurah, mereka mencoba meraih hati masyarakat, namun dengan kesadaran kuat, masyarakat Teluk Meranti sudah tidak dapat dibohongi lagi, meskipun dengan iming-iming bantuan keuangan dan peralatan. Masyarakat sudah muak atas keberadaan dan aktivitas RAPP membuka lahan Hutan. Dengan tegas mereka mengatakan kepada pihak perusahaan, bahwa apabila memang benar RAPP ingin mensejahterakan masyarakat, mengapa pada kenyataannya desa-desa yang ada di sekeliling areal perusahaan tetap miskin dan tertinggal, sementara hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka makin rusak dan hancur. Sebelum adanya perusahaan dan hutan masih terjaga, masyarakat di Semenanjung Kampar tidak ada yang pernah mati kelaparan. Kini masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemimpin mereka yang berpihak kepada perusahaan. Para pejabat dan tokoh terkemuka itu sudah kehilangan harga diri mereka di mata masyarakat.

Melihat semangat masyarakat yang sangat kuat itu, maka diputuskan bahwa Kamp tersebut bukanlah hanya milik Greenpeace, melainkan milik masyarakat dan nama sebelumnya akan diganti dengan “KAMP MASYARAKAT UNTUK PENYELAMATAN HUTAN KAMPAR” sebagai penghormatan kepada masyarakat Kampar dan hutannya.

_ict0324-6-640x480

Pekerjaan itu belumlah selesai, ketukan palu, peluh warga yang bekerja, dan wangi masakan ibu-ibu desa teluk meranti dari dapur Kamp akan terus bergema di Kamp, memupuk semangat para penyelamat hutan melanjutkan komitmen dan perjuangannya untuk menyelamatkan Hutan Indonesia demi masa depan anak cucu kita.

Masyarakat bersuara lantang, serukan penyelamatan lahan gambut

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Kelapa Sawit,Sinar Mas,iklim by Blogger Greenpeace on the April 1st, 2010

Sekitar 50 orang masyarakat dari 32 desa mendatangi kantor DPRD Riau, di Pekanbaru, Rabu (31/3) siang. Masyarakat dari desa yang berada di kawasan hutan rawa gambut di Riau itu mendeklarasikan Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) di depan tiga anggota DPRD Riau yang menyambut mereka, Taufan Andoso Yakin, wakil ketua DPRD Riau, Jefry Noer dan Syafruddin Sa’an. JMGR merupakan organisasi masyarakat desa yang berdekatan dengan kawasan gambut di Riau yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir, Indragiri Hulu, Indriagiri Hilir, Pelalawan, dan Kabupaten Siak.

img_1695

Isnandi Esman salah satu deklarator JMGR menyatakan “Kami ingin masyarakat yang ada di kawasan gambut diajak bermusyawarah dalam kebijakan pengelolaan hutan gambut. Sebab desa-desa kamilah yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global dan penghancuran hutan.”

Dalam deklarasi itu, mereka juga menegaskan bahwa kondisi hutan gambut di Riau sudah parah dan dampak dari kerusakan itu telah dirasakan masyarakat seperti berkurangnya mata pencaharian ikan di sungai-sungai di rawa gambut.

Menurut Sekretaris Umum JMGR, Johny Setiawan Mundung, visi dari organisasi tersebut adalah menata-kelola ekosistem hutan rawa gambut Riau yang lestari, berkeadilan dan mensejahterakan rakyat, yang menjamin keselamatan ruang hidup masyarakat, kelangsungan pelayanan alam dan peningkatan produktivitas rakyat.

“Ini adalah wadah masyarakat untuk saling bertukar informasi, komunikasi di berbagai bidang. Selain juga mengembangkan unit-unit usaha produktif yang sejalan dengan pelestarian sumberdaya gambut,” ujar Mundung.

Sebelum deklarasi tersebut, sebanyak 105 orang masyarakat dan 12 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengadakan kongres masyarakat gambut Riau di Hotel Resty Menara selama dua hari, 27-28 Maret 2010.

Dalam kongres tersebut dirumuskan tujuan dan manfaat organisasi jaringan masyarakat gambut. Selain itu juga, masyarakat diberikan penguatan oleh para pendamping mereka mengenai hak-hak masyarakat terhadap hutan di kawasan desa mereka.

“Penguatan dan berbagi pengalaman itu dilakukan oleh Kepala dinas kehutanan Riau, Zulkifli Hasan, LSM dari Jakarta HuMa yang mempertegas hak-hak masyarakat berdasarkan aturan internasional. Penguatan itu dilakukan dalam acara Lokakarya yang berlangsung pada hari pertama,” kata Mundung.

Sementara itu dalam rekomendasi yang dihasilkan kongres disebutkan bahwa JMGR menolak dengan tegas keberadaan Hutan Tanaman Industri (HTI) perusahaan di lahan gambut dan juga menolak penambahan arealnya di Riau.

Rekomendasi lainnya juga JMGR mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas pembakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh perusahaan dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab baik sengaja ataupun tidak sengaja di konsesi wilayah perusahaan dan di lahan masyarakat.

“JMGR mendesak pemerintah pusat untuk mencabut izin perusahaan HTI di lahan gambut Riau,” tegas Mundung.

Zamzami
Media campaigner – Riau
Greenpeace Asia Tenggara – Indonesia

Burung Pun Berterima Kasih

Posted in Greenpeace,Kamp Pembela Iklim,Sinar Mas,Teluk Meranti,penjahat hutan by Blogger Greenpeace on the December 1st, 2009

Lebih dari sebulan para relawan Greenpeace dan masyarakat Riau membangun kekuatan untuk melawan keserakahan para pengusaha yang menghancurkan hutan mereka dan masa depan masyarakat Riau di Kamp Pembela Iklim. Kamp Pembela Iklim masih di sana dan akan terus berjuang bersama.  Halim seorang relawan yang berasal dari Riau menuliskan sebuah cerita untuk kita semua….

BURUNG PUN BERTERIMA KASIH

Setiap pagi di Teluk Meranti
Setiap petang ditempat yang sama di Tanjung Rengas
Setiap hari di Camp Pembela Iklim Greenpeace
Hanya kata perlawanan yang selalu kudengar
Terhadap penghancuran hutan
Hutan gambut di Semenanjung Kampar

Para buldozer meraung keras
Mengikuti perintah tuannya untuk menidurkan pohon ke bumi
Meluluhlantakkan tegakan pohon ditanah gambut dalam
Tak peduli meskipun semua orang memandang
Dia tetap meraung seolah tak ada yang memperhatikan
Mungkin telinganya sudah tuli karena raungannya
Sehingga tak mendengarkan suara-suara lain disekitar

Aku tak pernah tidur
Aku selalu mendengar
Aku selalu memasang telinga
Aku selalu berfikir
Aku berbuat semampuku
Agar bumi ini bisa bertahan lebih lama

Aku tau banyak yang mendukungku
Seperti burung-burung yang setiap pagi terbang diatas camp
Mereka datang untuk mengucapkan terimakasih atas apa yang kulakukan
Kemudian mereka melanjutkan hidup dengan mengumpulkan buahan hutan
Mereka takut, sedih, cemas pada masa depan anak-anaknya

Aku tau banyak yang membenci  tuan buldozer
Yang periuk nasinya terganggu oleh ku
Tapi dihutan itu juga ada periuk nasi orang Teluk Meranti, Teluk Binjai
dan masyarakat dunia lainnya
Yang seharusnya tidak dirampas tuan buldozer

Ooohhh..para tuan buldozer
Berhentilah membuat bencana……!!!!!!

Salam dari Riau

rainbow
Halim

Untuk Masa Depan Generasi Mendatang

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Kelapa Sawit,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 26th, 2009

25 November 2009, 21.00 WIB

Hi, Saya Alien aktivis Greenpeace bersama 3 teman aktivis lain dari Filipina, Jerman dan Belanda kami masih berusaha menghentikan operasi alat angkut di pabrik Kertas milik APP. kawan-kawan kami yang lain telah di lumpuhkan tetapi kami tetap berusaha bertahan hingga malam ini.

alien

Hari yang sangat panjang buat saya, tapi ini harus di lakukan untuk meyerukan pada pemilik merusahaan, pemerintah dan dunia mereka harus menghentikan penghancuran hutan. mereka harus menghentikan ini untuk mencegah bencana iklim yang saat ini sedang dan akan terus terjadi jika mereka tidak tersadar. Rasa lelah pasti ada, Tas persediaan makan saya telah di rampas sekuriti tadi, Panas matahari dan dingin malam ini pasti akan menghasilkan sesuatu untuk dunia.

Masyarakat dunia harus tahu betapa hancurnya hutan Indonesia saat ini dan negara-negara yang menerima hasil penghancurannya secepatnya harus berhenti membeli hasil dari sesuatu yang merusak hutan dan masa depan generasi mendatang.

Hutan-hutan alam yang harusnya di lindungi sekarang telah tersentuh dan hancur karena pembukaan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan akasia. Kedalaman hutan lahan gambut yang terbakar dan melepaskan CO2 merupakan ancaman nyata terhadap iklim bumi

Teman saya  joel dari Filipina mengatakan ” saya sangat ingin membantu Indonesia dan dunia. pabrik raksasa ini telah menghancurkan hutan dan memicu perubahaan iklim. Saya dan masyarakat di Filipina telah merasakaan dua topan yang menghancurkan manila. dan itu karena perubahaan iklim. saya ingin membantu karena harus ada perubahaan untuk menyelamatkan dunia dan mencegah itu terjadi lagi”


Terlihat dari atas alat angkut ini betapa luasnya perusahaan ini. lebih dari 2 juta ton bubur kertas di lumat oleh mesin-mesin di sini yang berasal dari perkebunan dan hutan alam termasuk semenanjung kampar yang terancam tidak bisa terselamatkan.

activist-joel

Malam ini kami hanya berempat masih di sini berusahaa menghentikan ini tapi saya percaya jutaan aktivis pemyelamat iklim di luar sana akan terus berusaha menghentikan penghancur hutan dan penghancur iklim. berusaha menjadikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dan bisa menikmati indahnya hutan dan lahan gambut.

Salam dari atas crane,

Alien Maurin


Greenpeace Menghentikan Perusahaan Kertas Terbesar

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,iklim by Blogger Greenpeace on the November 26th, 2009

Penghancur Hutan: Anda Dapat Menghentikan Ini

Posted in Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 25th, 2009

Pagi ini 12 aktivis Greenpeace menghentikan alat angkut perusahaan kertas raksasa mikil PT. Indah Kiat Pulp Paper persudahaan yang di miliki Group Sinar Mas. Perusahaan ini salah satu perusahaan yang ikut mendorong cepatnya perubahaan iklim dunia. Mereka menghancurkan hutan alam dan hutan lahan gambut yang ada di Riau. Hutan Lahan gambut yang  menyerap milyaran ton karbon akan terlepas ketika mereka beroperasi menghancurkan hutan yang tersisa di Riau.

Empat buah alat angkut yang berada di pelabuhaan ekspor di berhetikan dengan mengantungkan diri. mereka membentangkan banner bertuliskan “Penghancuran Hutan: Anda dapat menghentikan ini”  dan “Climate Crime”. Sampai cerita ini saya tulis masih ada 4 aktivis yang bertahan di salah satu alat angkut selama 8 jam. Panas terik dan dahaga menggelayuti mereka tetapi komitmen mereka tetap akan bertahan selama mungkin sampai para pemimpin bertindak nyata untuk penyelamatan iklim dan penyelamatan dunia dari bencana iklim.

Dukungan Untuk Penyelamat Iklim – Part 1

Posted in Copenhagen,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim by Blogger Greenpeace on the November 24th, 2009

Cerita ini adalah cerita perjalanan Ivy ( anggota solar generation) yang masih berusia 17 tahun dan supporter Greenpeace Krisna mukti selama 3 hari untuk memberikan dukungan kepada warga masyarakat Teluk meranti dan para aktivis Greenpeace di Kamp Pembela Iklim.

Saya Ivy londa, Krisna Mukti dan Mba Milla-asisten Krisna Mukti tiba di Pekanbaru pada kamis Pagi, kami di sambut dengan matahari yang sangat terik, kira-kira 40 derajat celcius. Kami tidak langsung mengunjungi Kamp tapi kami menuju Polres Palalawan kira-kira 1 jam dari Pekanbaru. Kami menuju Polres Palalawan untuk memberi semangat kepada 18 aktivis pembela iklim yang menjadi tersangka dan melakukan wajib lapor atas tindakan menghentikan penghancuran hutan (Sesuatu yg aneh!).  senangnya melihat para aktivis tetap semangat di kantor polres Palalawan walaupun menempuh ketidakadilan.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan yang saya melihat truk-truk Fuso bermuatan biji sawit, kayu alam dan truk-truk tertutup menjadi pemandangan yang tak putus-putus. Memasuki daerah Kerinci, pemandangan yang bisa di lihat sangat mengenaskan. Hutan-hutan gundul hilang  dilahap perusahaan kertas seperti  RAPP dan perusahaan lainnya seperti  Sinar Mas. Beberapa lahan yang tersisa adalah bekas dibakar masih meninggalkan asap-asap tipis. Sebagian lagi dibiarkan gundul. Jalan melintas Kerinci – Binjai dibuat perusahaan-perusahaan itu  1 tahun lalu untuk keperluan transportasi alat-alat berat.

Akhirnya  kami tiba di Desa Teluk Meranti setelah 5 jam perjalanan.  Saat kami tiba, air sungai sedang pasang,  kami menempuh sisa perjalanan menuju Kamp Pembela Iklim  menggunakan speed boat selama kurang lebih 10 menit. Malam pertama di camp sungguh menantang karena baru pertama kali di desa yang sangat jauh,  Nyamuk-nyamuk gemuk, serangga hutan yang salah satu dari mereka mungkin beracun. Tepat  Jam 10 diesel dimatikan, beberapa minggu lalu kamp ini memakai Solar panel tapi karena kondisi kemarin tidak di pasang kembali.  kami pun mencoba tidur di balik kelambu ditemani suara serangga hutan yang terus bernyanyi.

Membendung kanal!

Bersama para relawan kami menembus pagi untuk membendung air gambut di kanal. Menaiki Pong-pong (sebutan perahu tradisional) selama 20 menit melewati sungai yang di beberapa tempat terdapat pasir hisap. Sampai di ujung kanal terlihat bendungan yang belum selesai. Bendungan ini sangat penting untuk menahan air gambut agar air gambut tetap basah. Kanal-kanal di buat oleh perusahaan untuk mengalirkan kayu-kayu hasil pembabatan mereka (pembabatan terakhir 2004). Padahal lahan gambut rawan terbakar jika di keringkan dan memlepaskan kandungan karbon.

Setelah lelah membendung dengan mengangkut karung-karung pasir, saya melanjutkan dengan berenang di kanal air gambut yang berwarna merah kecoklatan, air gambut sangat jernih dan dapat di minum loh. Tapi kadar asam air gambut sangat tinggi tidak baik untuk gigi dan usus.

Krisna Mukti bersama anak-anak di Desa Teluk Meranti

Dari kanal, kami pergi ke desa Meranti. Warga desa sangat antusias menyambut Krisna Mukti yang datang untuk mengundang siswa-siswi SMP untuk lomba pantun di camp. Setelah sholat jumat dan pengajian dengan Ibu-Ibu PKK, kami kembali ke camp. Wah warga Teluk Meranti sangat senang kedatangan seorang publik figure yang membantu mereka menyelamatkan hutan sememnanjung kampar. Kami kembali ke kamp setelah sholat jumat dan pengajian bersama ibu-ibu PKK dan tangan kami hadiah dari ibu-ibu PKK yang memberikan kami kerajinan hasil buah karya mereka.

Bono datang!

Siang harinya, Bono datang. Bono adalah gelombang yang terbentuk karena pertemuan pasang air laut dengan arus sungai menuju laut. Hal ini menyebabkan gelombang seperti tsunami kecil yang bisa sampai setinggi 2 meter. Bono atau gelombang yang bertemu biasa terjadi di semua sungai yang berakhir di laut, namun fenomena Bono ini terkenal hanya di Sungai Kampar dan Sungai Amazon.

Kamp Pembela Iklim  yang terendam air sungai setelah bono datang

Para pengemudi Pongpong biasanya bermain bono dengan mendekati gelombang itu saat Bono datang dan lari ketika Bono mendekat. Saat arus balik atau biasa disebut dengan Bono pulang, di atas pongpong rasaya seperti bermain selancar.

Salam,

Ivy Londa

Dukungan Masyarakat Riau

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,UNFCCC,iklim,perdagangan karbon,supporter by Blogger Greenpeace on the November 17th, 2009

Kejutan yang sangat mengharukan dari warga Teluk Meranti pada Minggu 15 November 2009. Mencegah para aktivis Greenpeace untuk meninggalkan Kamp karena desakan polisi palalawan.

APRIL Masih Terus Menghancurkan Hutan

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Hutan,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,iklim,perdagangan karbon by Blogger Greenpeace on the November 12th, 2009

Aktivis menghentikan 7 excavator di konsesi hutan yang telah dihancur

Aktivis Greenpeace baru saja mengunci diri di ketiga excavator yang ada di konsesi APRIL salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia tepatnya di Semenanjung Kampar.

Awal pekan ini Greenpeace merilis bukti bahwa APRIL telah melakukan pembukaan hutan dan pengerringan lahan gambut di daerah ini. Menurut pemantau kami kedalam gambut di konsesi ini sangat dalam melebihi tiga meter.

Indonesia Climate Defender Camp

Hukum yang berlaku di Indonesia melarang pembukaan lahan gambut yang berada di kedalaman lebih dari tiga meter. APRIL membuat pernytaan bahwa mereka telah menghentikan operasinya di semenanjung kampar.

Padahal pada kenyataannya….

Para aktivis yang saat cerita ini di turunkan berada di kawasan konsesi APRIL berusaha untuk menghentikan penghancuran hutan yang tengah APRIL lakukan.

c1211098

Bustar Maitar, juru kampanye hutan untuk Greenpeace, telah mengatakan kepada pihak APRIL bahwa para aktivis tidak akan meninggalkan konsesi sampai perusahaan tersebut berkomitmen kepada public untuk menghentikan semua kegiatan deforestasi dan penghancuran lahan gambut di Semenanjung Kampar.

Hujan sangat lebat turun di semenanjung kampar. Tetapi para aktivis tetap mencegah perusahaan itu menggunakan kembali alat berat mereka untuk menghancurkan hutan.

Presiden Amerika Serikat Barrack Obama akan melakukan kunjunganpertamanya di Asia tenggara dan Amerika Serikat terus melakukan penolakan pada perjanjian perubahan iklim di PBB. Perundingan PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen akan terjadi bulan depan, Greenpeace terus mendesak mereka menyelamatkan hutan. Greenpeace telah mengeluarkan Siaran Pers menyoroti pentinganya semua deforestasi. Greenpeace meminta Presiden Yudhoyono dan para pemimpin dunia untuk melindungi hutan di seluruh dunia untuk mencegah perubahan iklim.

Aktivis membentangkan spanduk berukuran 20×30 meter di tempat yang baru saja menghancurkan hutan. Mendesak Obama untuk mengambil kepemimpinan yang kuat dan bekerja dengan para pemimpin Negara-negara lain untuk membantu mencegah krisis iklim.

Indonesia Climate Defender Camp

Indonesia Climate Defender Camp

Aktivis Greenpeace Mengunci Alat Berat Milik APRIL di Semenanjung Kampar

Posted in Copenhagen,Greenpeace,Kamp Pembela Iklim,Riau,Teluk Meranti,iklim by Blogger Greenpeace on the November 12th, 2009

wr_12112009_0205

Hari ini aktivis Greenpeace mengunci empat alat berat milik perusahaan kertas APRIL di Semenanjung Kampar yang kaya akan karbon untuk menyerukan pentingnya untuk segera menghentikan segala tindak deforestasi di Indonesia.

Emisi karbon dari tindak deforestasi serta degradasi area hutan dan lahan gambut merupakan penyebab utama yang membawa Indonesia menjadi negara ketiga penghasil karbon terbesar di dunia.

Pada pukul 06.15 WIB lebih dari 50 aktivis tiba di lokasi. Setengah jam kemudian tiga alat berat telah berhasil dikunci yang kemudian diikuti dengan terpasangnya banner yang berbunyi “OBAMA YOU CAN STOP (OBAMA ANDA BISA MENGHENTIKAN INI)”.

Dengan tiga tim mengunci alat berat, para aktivis yang lain memegang tanda kecil yang berbunyi “Climate Crime (Kejahatan Iklim)” mengacu kepada sumbangan besar APRIL terhadap perubahan iklim melalui perambahan hutan besar-besaran yang dilakukannya dengan bukti kuat atas tindak deforestasi ilegal.

** Update terbaru aktivis telah mengunci 7 alat berat

Next Page »