Ketika Mereka Tidak Tidur Untuk Melindungi Semenanjung Kampar
Subuh hari di tanggal 24 Agustus 2010, ketika umumnya semua orang tertidur pulas setelah bersahur, seratus lima puluh warga Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan justru bersiap-siap berangkat ke Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bersama mereka, spanduk, spidol dan beberapa lembar kertas karton. Dengan semangat penuh mereka mulai bergerak.
Dua unit bus dan sebuah mobil terisi penuh. Umumnya adalah ibu-ibu. Perjalanan dari Desa Teluk Meranti menuju Kota Pangkalan Kerinci ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam lebih dengan menggunakan mobil biasa, sementara menggunakan bus akan lebih lama lagi karena kondisi ruas jalan yang becek, berlumpur dan penuh kerikil.
Meski dalam suasana Ramadhan, namun semangat 150 warga Teluk Meranti yang berunjuk rasa di Kantor Bupati Pelalawan tidak pernah surut untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Secara bergantian ibu-ibu dan bapak-bapak menyampaikan aspirasi. Di antara aspirasi yang mereka sampaikan melalui orasi di depan pejabat Pemerintah Kabupaten Pelalawan adalah menolak keberadaan PT RAPP di kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar — yang sudah dirusak oleh perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut. Mereka juga menuntut adanya moratorium di Semenanjung Kampar.
Selain itu, mereka juga menolak kesepakatan yang dibuat oleh PT RAPP bersama dengan Tim 40 yang ternyata tidak disetujui secara menyeluruh oleh anggota Tim 40 dan masyarakat Teluk Meranti. Mereka menilai, butir-butir kesepakatan RAPP dengan Tim 40 merugikan masyarakat dan menghilangkan hak warga atas kepemilikan lahan di hutan Semenanjung Kampar yang mereka sebut juga tanah seberang.
Ini merupakan aksi pertama mereka secara terbuka dalam menyampaikan aspirasi mengenai pengelolaan Semenanjung Kampar. Dan bersama kampanye Greenpeace di Kamp Pelindung Iklim akhir tahun 2009 lalu, mayoritas masyarakat Teluk Meranti memberikan dukungan atas aktifitas organisasi lingkungan tersebut. Aksi penolakan terhadap perusahaan RAPP juga pernah dilakukan oleh masyarakat Teluk Binjai yang marah karena hutan tempat pencaharian mereka itu dirusak oleh perusahaan kelompok APRIL ini.

Membentangkan banner di Semenanjung Kampar Oktober 2008
Dalam aksi itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Riau, di antaranya Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Greenpeace, Scale Up, Walhi, Mitra Insani, Kabut Riau, Bahtera Alam dan organisasi kemasyarakatan seperti Tim Pendukung Penyelamat Semenanjung Kampar (TP2SK) serta Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) juga turut mendukung aspirasi masyarakat Teluk Meranti yang merindukan hutannya kembali.
Mungkinkah Sinar Mas “Penjahat hutan” akan terbukti bersih?
Jawaban singkat : sepertinya tidak
Faktanya, bukan hanya kecil kemungkinan mereka menjadi ‘bersih’, tapi hari ini kami mengeluarkan bukti baru bahwa penjahat hutan Sinar Mas masih terus melanjutkan praktik penghancuran hutan dan melanggar komitmen mereka sendiri tentang perlindungan hutan dan lahan gambut Indonesia.

Grup Sinar Mas adalah grup perusahaan minyak sawit, pulp dan kertas terbesar di Indonesia. Pada kampanye Kitkat kemarin menunjukkan ratusan ribu masyarakat menyerukan kepada Nestlé untuk berhenti membeli minyak kelapa sawit, pulp dan kertas produk dari Sinar Mas karena mereka terlibat penghancuran hutan dan lahan gambut di Indonesia.
Bukti foto terbaru kami menunjukkan Sinar Mas sedang melakukan pembabatan hutan hujan di daerah lahan gambut dalm di Kalimantan, pembabatan yang illegal menurut hukum Indonesia. Bukti foto selanjutnya menunjukkan Sinar Mas tengah membabat hutan hujan yang telah diidentifikasi sebagai habitat orang utan oleh satu studi dari United Nations Environment Program.
Hari ini Sinar Mas sebenarnya berencana untuk merilis audit yang mereka sponsori untuk meneliti kegiatan pada sejumlah kecil konsesi perkebunan kelapa sawit mereka – dan bukan pada keseluruhan operasinya. Tetapi Sinar Mas dan Bell Pottinger (perusahaan public relations yang mereka sewa) menunda rilis audit tersebut menjadi tanggal 10 Agustus. Nama Bell Pottinger mungkin tidak asing lagi bagi Anda, karena mereka juga disewa untuk membangun citra perusahaan Trafigura, perusahaan perdagangan minyak yang baru-baru ini divonis bersalah dan didenda karena mengirimkan limbah beracun ke Pantai Gading di Afrika dan menyebabkan musibah besar.
Sementara Sinar Mas membuat janji-janji kepada publik bahwa mereka akan melindungi hutan dan lahan gambut Indonesia, di saat yang sama mereka melakukan hal yang sebaliknya. Selain melanggar janjinya sendiri perusahaan ini berencana untuk memperluas ‘kerajaan’ dan terus menghancurkan hutan Indonesia. Pekan lalu kepala divisi minyak sawit Sinar Mas menjelaskan rencana mereka untuk memperluas perkebunan sekitar 1 juta hektar.
Hutan dan lahan gambut Indonesia tidak bisa terus menerus menjadi korban dari Sinar Mas yang memiliki ambisi berlebihan. Indonesia adalah negara dengan laju penghancuran hutan sangat tinggi di dunia.
Baru-baru ini kita telah melihat langkah positif – perusahaan multinasional seperti Unilever, Kraft dan Nestlé telah merespon bukti praktik penghancuran yang dilakukan Sinar Mas dengan menghentikan kontrak. Sampai perusak hutan ini benar-benar memenuhi komitmen lingkungan mereka, perusahaan lain yang masih membeli dari Sinar Mas – seperti pemasok kelapa sawit Cargill – harus tahu bahwa mereka membeli penghancuran lingkungan. Perusahaan lain seperti (ehem, Nestlé) sudah belajar bahwa membeli sesuatu yang berasal dari kehancuran lingkungan sangat tidak baik untuk bisnis.
Membangun kembali Kamp Masyarakat untuk Penyelamatan Hutan Semenanjung Kampar
Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa di pagi itu. Puluhan warga teluk Meranti datang dengan beberapa perahu pompong mereka, merapat dengan elok satu persatu di dermaga. Tua muda, pria wanita, dan anak anak sengaja datang untuk berdoa bersama memulai pembangunan kembali Kamp di Desa Teluk Meranti.
Kamp yang dibangun pada Oktober 2009 lalu itu dibakar secara sengaja oleh orang tak dikenal dini hari 14 April lalu. Bangunan utama berukuran 15 x 5 meter yang biasa digunakan sebagai tempat tidur, ruang kesehatan, dan ruang radio, habis terbakar tak tersisa, dan satu bangunan gudang disebelahnya habis dilalap api seluruh atap dan sebagian dindingnya. Peristiwa kebakaran itu sangat mengejutkan kami semua dari berbagai kantor Greenpeace mulai dari Riau, Jakarta, Thailand, hingga kantor Eropa, karena Kamp itu menyimpan begitu banyak kenangan, suka duka, dan cerita indah sejak hari pertama Greenpeace memulai kampanye penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar dari perusakan lebih lanjut oleh Perusahaan Pulp and Paper RAPP.
Sepeninggal Greenpeace pada akhir Desember 2009, kamp tersebut diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat dan digunakan sebagai pusat kegiatan dari berbagai komunitas untuk melanjutkan perjuangan menyelamatkan hutan Semenanjung Kampar karena masyarakat telah sadar akan pentingnya hutan bagi kehidupan mereka, dan kini masyarakat Teluk Meranti bersama Greenpeace, FPSK, dan Jikalahari bersama membangun kembali Kamp tersebut secara swadaya, melanjutkan komitmen dan usaha tiada henti untuk penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar.
Pekerjaan di pagi itupun dimulai. Pemuka adat setempat tampil pertama membacakan doa bersama, kemudian menyiramkan air pada beberapa sudut Kamp sebagaimana prosesi adat istiadat yang biasa dilakukan disana dan dilanjutkan dengan makan bersama sambil duduk bersila di lantai, tak ada perbedaan, semua sama. Dukungan yang diberikan terhadap kampanye penyelamatan hutan Kampar dan Greenpeace itu sangat besar, puluhan masyarakat baik dari Hulu maupun Hilir Teluk Meranti, bahu membahu memperbaiki bangunan gudang yang terbakar, sementara kaum Ibu secara berkelompok bergantian menyiapkan makanan dan minuman di dapur Kamp yang untungnya tidak ikut terbakar. Secara teknis Kamp memiliki 5 bangunan utama, yaitu pendopo, dapur, bangunan utama tempat untuk tidur, gudang, dan satu pelataran besar untuk mendirikan tenda, ditambah beberapa bangunan pendukung seperti kamar mandi. Rencananya , bangunan utama yang terbakar akan dibiarkan seperti apa adanya, digunakan sebagai monumen atau situs pengingat bahwa perjuangan kami menyelamatkan Semenanjung Kampar tak akan pernah padam sampai kapan pun jua, meski harus menghadapi berbagai ancaman dan rintangan apapun.
Pihak perusahaan RAPP mencoba membujuk masyarakat untuk mendukung keberadan perusahaan dan segala aktivitas perusakan lingkungan yang mereka lakukan dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan. Melalui para tokoh terkemuka dan para pemimpin seperti Lurah, mereka mencoba meraih hati masyarakat, namun dengan kesadaran kuat, masyarakat Teluk Meranti sudah tidak dapat dibohongi lagi, meskipun dengan iming-iming bantuan keuangan dan peralatan. Masyarakat sudah muak atas keberadaan dan aktivitas RAPP membuka lahan Hutan. Dengan tegas mereka mengatakan kepada pihak perusahaan, bahwa apabila memang benar RAPP ingin mensejahterakan masyarakat, mengapa pada kenyataannya desa-desa yang ada di sekeliling areal perusahaan tetap miskin dan tertinggal, sementara hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka makin rusak dan hancur. Sebelum adanya perusahaan dan hutan masih terjaga, masyarakat di Semenanjung Kampar tidak ada yang pernah mati kelaparan. Kini masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemimpin mereka yang berpihak kepada perusahaan. Para pejabat dan tokoh terkemuka itu sudah kehilangan harga diri mereka di mata masyarakat.
Melihat semangat masyarakat yang sangat kuat itu, maka diputuskan bahwa Kamp tersebut bukanlah hanya milik Greenpeace, melainkan milik masyarakat dan nama sebelumnya akan diganti dengan “KAMP MASYARAKAT UNTUK PENYELAMATAN HUTAN KAMPAR” sebagai penghormatan kepada masyarakat Kampar dan hutannya.
Pekerjaan itu belumlah selesai, ketukan palu, peluh warga yang bekerja, dan wangi masakan ibu-ibu desa teluk meranti dari dapur Kamp akan terus bergema di Kamp, memupuk semangat para penyelamat hutan melanjutkan komitmen dan perjuangannya untuk menyelamatkan Hutan Indonesia demi masa depan anak cucu kita.
Mencari bukti terbaru penghancuran hutan di Indonesia
Bukti dari penghancuran hutan jelas terlihat di sekitar kami dan untuk itulah kami kami kesini – tetapi aneh karena kami tidak melihat seorangpun. Tidak ada pekerja. Tim penunjuk arah kami pergi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan kami tetap menunggu di tengah panas yang sangat ekstrim, karena tidak ada satu pun pohon yang tersisa untuk kami berteduh, di tengah hari pada hari Senin 26 April 2010.
![]()
Di Singapura pada 27 April 2010, Sinar Mas mengadakan rapat umum tahunan pemegang saham dan kami memberikan bukti-bukti baru penghancuran hutan kepada publik, media dan juga pemegang saham. Bukti-bukti yang kami kumpulkan sejak akhir pekan kemudian di umumkan di konferensi pres sebelum di mulainya rapat pemegang saham Sinar Mas. Mendapatkan bukti baru itu tentu tidak mudah.
Kami tiba di Palangkaraya Ibukota propinsi Kalimantan Tengah pada hari Jumat 23 April 2010 dan langsung bertemu dengan LSM-LSM lain untuk saling bertukar informasi dan mengumpulkan data terbaru sebanyak mungkin tentang PT. Buana Adhitama (BAT) anak perusahaan Sinar Mas, perusahaan raksasa penghancur hutan dan iklim.
Berjam-jam kami membedah semua dokumen dan akhirnya menemukan data secara terperinci bahwa perusahaan ini telah membuka hutan secara illegal tanpa adanya Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan kegiatan illegal ini masih terus berlangsung. Daerah pembukaan hutan itu tumpang tindih dengan habitat orangutan. Kami melihat mereka melakukannya, walaupun beberapa bulan lalu Sinar Mas telah mengatakan suatu komitmen untuk menghentikan penghancuran hutan seperti ini.
Hari selanjutnya kami bersama wartawan Al-Jazeera pergi ke lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti. Perjalanan yang cukup jauh dan sangat tidak nyaman membuat kami seolah-olah berada di pertandingan reli Internasional, tanpa bendera dan lambaian penonton di kanan-kiri.
Akhirnya kami tiba di Kuala Kuayan, sebuah desa kecil di tepi sungai Mentaya, pemberhentian terakhir kami sebelum menuju tempat kejadian. Perjalanan berikutnya akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam. Sebelum matahari terbit kami sudah bergegas untu menuju lokasi. Kami telah mengontak para pemburu rusa yang sering melihat orangutan di wilayah PT. BAT, mereka ikut serta bersama kami pagi ini. Lengkap sudah 12 orang bersama kami termasuk supir. Selama perjalanan kami tidak tahu apa yang akan menyambut kami disana, apakah masyarakat menerima kami yang sedang mengumpulkan bukti-bukti berkaitan dengan perusahaan di area wilayah itu.
Kira-kira 30 menit lagi kami tiba di tujuan, ketika dihadapan kami terdapat jalanan yang berlumpur cukup dalam. Keadaan ini membuat kami hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan karena tidak ada lagi angkutan yang bisa membawa kami ke tempat tujuan.
Seperti mendapat bantuan dari Tuhan, dua orang warga dengan bersepeda motor datang, kami memberitahu kemana tujuan kami dan mereka mau membantu kami. Tim kami kemudian pergi bersama jurnalis melewati jalur di depan dengan sepeda motor. Dalam satu jam mereka kembali dengan berita buruk: ada dua parit besar yang harus kami lewati sebelum sampai di tempat tujuan. Matahari sangat terik dan menusuk kulit tetapi kami tetap berusaha untuk tidak menyerah.

Kami menahan nafas ketika mobil pertama akan masuk ke jalur berlumpur yang sangat dalam. Mobil akhirnya masuk ke dalam kubangan lumpur dan terjebak. Cukup lama kami berjuang menarik mobil agar bias keluar dari Lumpur, tapi kami tetap bersemangat dan itu berhasil. Keberanian dan kebersamaan akhirnya menghalau semua hambatan, walaupun kami harus turun beberapa kali untuk menarik mobil keluar dari lumpur.
Menjelang tengah hari akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Kami kemudian bergegas menuju kamp pekerja, berharap menemukan seorang pekerja yang cukup berani menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ada seorang pekerja dan seorang warga desa di sana. Dia adalah warga desa dari perbatasan wilayah perusahaan yang telah menghancurkan hutan ini. Beliau menceritakan bahwa tidak akan ada kegiatan perusahaan hari ini karena kemarin telah terjadi konflik antara warga dan para pekerja, yang berasal dari sengketa lahan.
Kasus konflik tanah seperti ini sering sekali terjadi pada perusahaan seperti Sinar Mas, yang terkadang berujung pada kekerasan dan ancaman – yang akhirnya membuat warga desa tidak berani bicara banyak mengenai keadaan konflik ini.
Dan sekali lagi, dewi keberuntungan terus bersama kami. Seorang pria datang kepada kami dan memperkenalkan diri sebagai tetua dari desa tersebut dan korban dari PT. BAT. Beliau bersedia di wawancarai dan mengatakan bahwa seseorang telah menipu masyarakat hingga menyerahkan Surat Kepemilikan Tanah (SKT). Pada awalnya disampaikan bahwa tanah mereka akan dikembangkan menjadi perkebunan karet masyarakat. Namun akhirnya perkebunan kelapa sawit lah yang datang.
Sekarang bukti yang kami miliki pun semakin lengkap.
Lelah-kami langsung kembali dan tiba sekitar tengah malam untuk mempersiapkan video-video bukti terbaru dari penghancuran hutan yang di lakukan Sinar Mas. Dan kami memastikan tidak boleh ada kebohongan lagi mengenai pengrusakan hutan. Pagi-pagi buta kami berupaya keras agar hasil penyelidikan kami bisa dikirimkan ke rekan kami yang berada di Singapura dan kepada kantor Greenpeace di seluruh dunia, agar semua orang bisa melihat apa yang dilakukan oleh perusahaan ini pada hutan Indonesia dan habitat orangutan.
Kami ingin Nestle menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari perusahaan penghancur hutan seperti Sinar Mas. Greenpeace tidak anti perkebunan kelapa sawit. Tetapi kami tidak akan tinggal diam jika hutan di hancurkan untuk perluasaan perkebunan kelapa sawit.
Joko Arif
Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara
Sekjen GAPKI meminta maaf Kepada Greenpeace
Posisi Greenpeace Mengenai Tuduhan Antek Asing
Kampanye Greenpeace untuk menghentikan beberapa oknum perusahaan besar kelapa sawit yang dalam operasinya melakukan perusakan hutan mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan. Debat publik seperti ini sangat positif demi tercapainya kemajuan industri sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Seperti di dalam pemberitaan sebuah media masa pada 20 April 2010 yang berjudul “Indonesia Galang Kampanye Putih Sawit” yang mengutip pernyataan dari sekretaris GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) bahwa Greenpeace menerima dana dari Uni Eropa. Kami tegaskan bahwa ini adalah tuduhan yang tidak benar bahkan cenderung sembrono karena tidak disertai bukti.
Karena salah satu nilai dasar Greenpeace yang telah mendapat reputasi internasional adalah independensi. Greenpeace adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang punya kebijakan tidak menerima donasi dari pemerintah dan perusahaan. Tujuan dari kebijakaan kami ini adalah menjaga independensi. Sumber pendanaan Greenpeace didapatkan dari lebih 3 juta orang (Supporter) di seluruh dunia yang melakukan donasi rutin setiap bulan dan di Indonesia sendiri sekitar 30 ribu orang telah menjadi bagian dari supporter Greenpeace.
Beberapa pihak menghembuskan berita yang tidak benar bahwa kampanye kelapa sawit kami adalah untuk merusak industri sawit di Indonesia karena Greenpeace ditunggangi oleh kepentingan industri Eropa. Padahal sudah sangat jelas bahwa Greenpeace tidak anti industri kelapa sawit. Bahkan mendukung industri kelapa sawit yang sudah menjadi primadona ekonomi Indonesia dengan membuka lapangan kerja dan pemasukan bagi negara.

Berkaitan dengan kampanye kelapa sawit dan kaitannya dengan pembabatan hutan, tujuannya tidak lain untuk menghentikan oknum perusahaan besar melakukan perusakan hutan, yang telah sangat merugikan lingkungan Indonesia, mengancam keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan, yang kemudian berdampak buruk terhadap perubahan iklim Indonesia maupun dunia.
Greenpeace terus mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan industri sawit dan meningkatkan taraf hidup petani kecil dengan cara melakukan intensifikasi demi meningkatnya produktivitas kebun sawit di lahan yang telah ada. Satu-satunya yang anti bagi Greenpeace adalah perusakan lingkungan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab. Pembukaan perkebunan dengan merusak hutan alam yang ada.
Kampanye Greenpeace dilakukan setelah melakukan berbagai riset dan penelitian di berbagai wilayah Indonesia. Saat meminta secara keras perusahaan tersebut untuk menghentikan perusakan hutan, Greenpeace juga menyertakan bukti-bukti perusakan hutan yang masih mereka lakukan, bahkan lengkap dengan foto lokasi dan posisi GPS.
Seharusnya demi kemajuan industri sawit Indonesia di dunia internasional, pemerintah (Departemen Pertanian) dan dunia usaha harus menyelidiki dan menindaklanjuti laporan bukti-bukti kami dan menghentikan perusakan yang terjadi. Langkah ini jauh lebih bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia dibanding melancarkan kampanye hitam terhadap LSM lingkungan terutama Greenpeace, sambil terus membiarkan perusakan lingkungan terus terjadi.
Selama ini belum ada pernyataan dari Departemen Pertanian apakah bukti yang disodorkan Greenpeace itu benar maupun salah, setelah melakukan penyelidikan mengenai hal ini. Kami melihat sikap ini tidak menghormati pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa pekan lalu yang menyatakan menghargai upaya LSM lingkungan termasuk Greenpeace, dan meminta pemerintah bekerja sama dengan LSM lingkungan demi menyelamatkan lingkungan Indonesia.
Kami juga melihat selama ini pemerintah dan industri sangat berfokus pada ekspansi (perluasan) perkebunan kelapa sawit dan mengabaikan peningkatan produktivitas termasuk petani sawit. Kami melihat justru jika pemerintah dan industri mulai menaruh perhatian kepada peningkatan produktivitas, tidak hanya meningkatkan daya saing produk CPO Indonesia di pasar internasional, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Bustar Maitar
Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara
Tulisan ini juga dimuat di Harian Media Indonesia Jumat, 23 April 2010 halaman 29.
Api itu melahap KAMP PELINDUNG IKLIM kami di Teluk Meranti
Minggu dini hari api itu menghancurkan sebagian dari kamp pembela iklim kami. Kobaran api terlihat oleh warga sekitar yang berada di seberang sungai Kampar sekitar pukul 5 pagi.
Untungnya tidak ada korban. Pak Syamsudin yang biasanya tinggal di kamp sedang berada di desa. Karena ada saudara yang sedang sakit. Bangunan utama dan ruang musholla dari kamp hancur. Beberapa barang pribadi mereka hangus.
Kamp pelindung iklim didirikan pada oktober 2009 dengan bantuan masyarakat sekitar. Kamp didirikan untuk meningkatkan perhatian pemerintah dan masyarakat dunia tentang kerusakan hutan di semenanjung kampar yang berpengaruh pada perubahan iklim dunia. Keanekaragaman hayati yang kaya, Kandungan karbon yang besar terdapat di lahan gambut saat ini sangat kritis dan membutuhkan perlindungan.
inilah kamp sebelum terbakar :
Kami telah melaporkan ke kepolisian dan mereka telah melakukan penyelidikan awal dengan hasil mereka menemukan indikasi bahwa kamp kami sengaja di bakar(seperti yang di laporkan di Jakarta post). Kamp adalah simbol dari komitmen kami untuk bersama masyarakat melanjutkan kampanye pelindungan semenanjung Kampar dan menghentikan perusakan hutan dan lahan gambut. Dan komitmen itu tetap ada hingga detik ini.
Semenanjung Kampar adalah salah satu lahan gambut terbesar di dunia dan berada di bawah ancaman kehancuran dari perusahaan kertas seperti APP (Asia Pulp dan Kertas) anak perusahaan pemasok kelapa sawit Sinar Mas.
Sinar Mas telah menghancurkan hutan dan lahan gambut di Indonesia untuk perusahaan pulp dan kertas dan merubahnya menjadi perkebunan. Anda bisa membantu kami untuk melawan penghancur hutan seperti Sinar Mas dan bersama kami melindungi hutan Indonesia yang tersisa dengan mendukung kampanye kami yang bertanya kepada Nestle (produsen kitkat) untuk menghentikan penggunaan minyak kelapa sawit dari Sinar Mas – yang mereka ambil dari hutan yang dihancurkan.
Gambar setelah api itu menghancurkan kamp kami :

Api itu tidak akan memusnahkan semangat kami yang tetap membara untuk semenanjunga kampar!
- Arie-
Masyarakat bersuara lantang, serukan penyelamatan lahan gambut
Sekitar 50 orang masyarakat dari 32 desa mendatangi kantor DPRD Riau, di Pekanbaru, Rabu (31/3) siang. Masyarakat dari desa yang berada di kawasan hutan rawa gambut di Riau itu mendeklarasikan Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) di depan tiga anggota DPRD Riau yang menyambut mereka, Taufan Andoso Yakin, wakil ketua DPRD Riau, Jefry Noer dan Syafruddin Sa’an. JMGR merupakan organisasi masyarakat desa yang berdekatan dengan kawasan gambut di Riau yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir, Indragiri Hulu, Indriagiri Hilir, Pelalawan, dan Kabupaten Siak.
Isnandi Esman salah satu deklarator JMGR menyatakan “Kami ingin masyarakat yang ada di kawasan gambut diajak bermusyawarah dalam kebijakan pengelolaan hutan gambut. Sebab desa-desa kamilah yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global dan penghancuran hutan.”
Dalam deklarasi itu, mereka juga menegaskan bahwa kondisi hutan gambut di Riau sudah parah dan dampak dari kerusakan itu telah dirasakan masyarakat seperti berkurangnya mata pencaharian ikan di sungai-sungai di rawa gambut.
Menurut Sekretaris Umum JMGR, Johny Setiawan Mundung, visi dari organisasi tersebut adalah menata-kelola ekosistem hutan rawa gambut Riau yang lestari, berkeadilan dan mensejahterakan rakyat, yang menjamin keselamatan ruang hidup masyarakat, kelangsungan pelayanan alam dan peningkatan produktivitas rakyat.
“Ini adalah wadah masyarakat untuk saling bertukar informasi, komunikasi di berbagai bidang. Selain juga mengembangkan unit-unit usaha produktif yang sejalan dengan pelestarian sumberdaya gambut,” ujar Mundung.
Sebelum deklarasi tersebut, sebanyak 105 orang masyarakat dan 12 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengadakan kongres masyarakat gambut Riau di Hotel Resty Menara selama dua hari, 27-28 Maret 2010.
Dalam kongres tersebut dirumuskan tujuan dan manfaat organisasi jaringan masyarakat gambut. Selain itu juga, masyarakat diberikan penguatan oleh para pendamping mereka mengenai hak-hak masyarakat terhadap hutan di kawasan desa mereka.
“Penguatan dan berbagi pengalaman itu dilakukan oleh Kepala dinas kehutanan Riau, Zulkifli Hasan, LSM dari Jakarta HuMa yang mempertegas hak-hak masyarakat berdasarkan aturan internasional. Penguatan itu dilakukan dalam acara Lokakarya yang berlangsung pada hari pertama,” kata Mundung.
Sementara itu dalam rekomendasi yang dihasilkan kongres disebutkan bahwa JMGR menolak dengan tegas keberadaan Hutan Tanaman Industri (HTI) perusahaan di lahan gambut dan juga menolak penambahan arealnya di Riau.
Rekomendasi lainnya juga JMGR mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas pembakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh perusahaan dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab baik sengaja ataupun tidak sengaja di konsesi wilayah perusahaan dan di lahan masyarakat.
“JMGR mendesak pemerintah pusat untuk mencabut izin perusahaan HTI di lahan gambut Riau,” tegas Mundung.
Zamzami
Media campaigner – Riau
Greenpeace Asia Tenggara – Indonesia
Menanti Sebuah komitmen sesungguhnya
Pada Selasa siang yang lalu, saat para karyawan Nestle sedang bersiap untuk break makan siang kami berhasil mendatangi kantor mereka di Jakarta Selatan. Aktivis Greenpeace yang berkostum orangutan menyeruak dari kemasan coklat Kitkat raksasa menggemakan suara kesedihan orangutan yang kehilangan hutan tempat tinggal mereka yang dihancurkan untuk perkebunan kelapa sawit yang merupakan bahan baku untuk berbagai produk Nestle termasuk coklat KitKat.

Kampanye yang kami mulai seminggu lalu mendapatkan perhatian yang cukup tinggi dan reaksi yang cepat dari Nestle. Tetapi reaksi tersebut tidak berarti apa-apa jika mereka tidak berkomitmen penuh untuk penyelamatan hutan Indonesia.
Kadang-kadang sebuah perusahaan mengeluarkan pernyataan yg reaktif – seperti yang Nestlé lakukan saat kami meluncurkan kampanye KitKat ini - dimana mereka melakukan sensor terhadap tayangan video kami di Youtube. Padahal satu hal yang kami kritik dari sebungkus coklat kecil yang terlihat rapih ini adalah kenyataan bahwa Nestle belum melakuan sesuatu perubahaan yang berarti. Nestle dengan coklat KitKat-nya ‘tertangkap basah’ telah ikut melakukan penghancuran hutan Indonesia - dan berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat.
Nestlé mengeluarkan pengumuman bahwa mereka akan membatalkan kontrak dengan Sinar Mas, produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia yang juga terkenal sebagai penhancur hutan Indonesia, setelah kami merilis sebuah laporan yang memperlihatkan seluruh kelicikan Sinar Mas dalam menghancurkan hutan dan lahan gambut untuk dijadikan perkebunan kelapa kelapa sawit mereka. Laporan itu dirilis hari yang sama dengan video spuff iklan ‘Have a break?’ .
Pengumuman dari Nestlé tersebut bukanlah sesuatu yang baru – pernyataan itu tidak akan mengubah apapun untuk melindungi hutan Indonesia, orangutan, lahan gambut maupun masyarakat lokal yang hidupnya tergantung dari hutan. Perusahaan bersikap seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu yang berarti dengan perngumuman tersebut, namun untungnya pernyataan tersebut tidak dapat membodohi kami.
Pernyataan mereka di halaman jejaring sosial Facebook mengisyaratkan adanya tekanan yang berat, dan kritik atas beberapa kasus – namun mengapa perusahaan ini tidak langsung melakukan tindakan nyata?! Slogan mereka yaitu “Good Food, Good Life” tidak membuktikan apapun kepada konsumen jika mereka tetap tutup mata pada kehancuran hutan dimana mereka secara langsung terlibat karena kebutuhan bahan baku.

Kami meluncurkan kampanye dengan video yang sangat kontroversial (Anda mungkin telah melihat hal itu – sebatang coklat KitKat, jari orangutan dan darah yang keluar dari coklat tersebut). Semua gambar tersebut untuk menarik perhatian bahwa perusakaan hutan untuk pembukaan kelapa sawit di Indonesia sangat menyedihkan. Sejak hari pertama kampanye online yang kami rilis, kami tidak menyangka akan memdapat perhatian yang sangat tinggi.
Seminggu kami berkampanye, masyarakat dari berbagai belahan dunia telah mengirim lebih dari 100.000 email kepada CEO Nestle. Karena itulah perusahaan mulai menutup akun email Paul Backle (CEO Nestle).
Sebagai perusahaan raksasa produk makanan dan minuman mereka seharusnya bertindak positif terhadap semua kehancuran hutan yang terjadi di Indonesia. Dan turut mendukung kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan di Indonesia.
Oleh karena itu, sekali lagi kami serukan, Nestle: Berikan break pada hutan Indonesia!
www.greenpeace.org/breakuntukhutan
Tidak hanya komitmen tindakan nyata sangat dibutuhkan
Reuters melaporkan bahwa Unilever telah memberitahukan kepada para pembeli untuk tidak membeli minyak kelapa sawit dari penanam Indonesia Duta Palma, karena kekhawatiran atas hancurnya hutan tropis di Indonesia, seoran juru bicara unilever mengatakannya kemarin. Duta Palma telah blacklist – meskipun belum pernah menjadi pemasok, Unilever mengikuti film dokumenter yang di tayangkan BBC yang telah menunjukkan staf Duta Palma telah membuka hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

Sebuah traktor penggali sedang bekerja dekat Desa Kuala Cenaku. Traktor penggali itu milik perusahaan Duta Palma yang sedang membuka perkebunan kelapa sawit dengan menghancurkan hutan (pada tahun 2008).
Pada bulan November 2009 Unilever mengumumkan bahwa mereka menghentikan hubungan bisnis dengan minyak sawit dan perusahaan bubur kertas PT SMART karena laporan yang di keluarkan Greenpeace yang menyoroti keterlibatan mereka dalam pengerusakan hutan tropis di Indonesia. Bustar Maitar Jurukampanye Greenpeace mengatakan “kami senang dengan komitmen ini, tetapi saat ini kita mengharapkan adanya tindakan nyata.”
Sementara itu, di Swiss AFP melaporkan berita, Menteri Pertanian Gatot Irianto telah menyerukan kepada kelompok-kelompok lingkungan hidup untuk “menghentikan mengutuk kelapa sawit,” berbicara pada konferensi internasional minyak sawit dan lingkungan minggu lalu. Irianto mengatakan perkebuan minyak kelapa sawit menyediakan pekerjaan, terlepas dari persepsi luas yang merepresentasikan sebuah “bencana ekologis yang memberikan kontribusi untuk pemanasan global.”
“Kekhawatiran masyarakat internasional harus dijawab dengan bukti nyata bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit benar-benar tidak berdampak negatif pada hutan dan lingkungan hidup di indonesia, pemerintah Indonesia sudah seharusnya mengambil pelajaran penting dari pemutusan kontrak ini untuk meminta perusahaan sawit benar-benar patuh dan taat pada kebijakan yang berlaku di indonesia dan juga berkomitment untuk menghentikan pengerusakan lahan gambut dan hutan di indonesia.” Tegas Bustar Maitar
Pada tahun 2008 Greenpeace telah membuat laporan investigasi rencana konsesi perkebunan kelapa sawit dua anak perusahaan Duta Palma (PT. Bertuah Aneka Yasa and PT. Palma Satu) di kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Silakan klik link ini Laporan Greenpeace









