Greenpeace Asia Tenggara


Merajut harapan…Menjemput Mimpi, Menyelamatkan Lingkungan

Posted in Greenpeace,Greenpeace University,New Media by arieutami on the July 26th, 2010

Suatu saat, ku kan kembali… Tuk menyampaikan apa yang kudapat, Kita… bisa dan mampu membuat perubahan…

Halo  aku Ina Nisrina Has. Aku sangat bahagia menjadi bagian Greenpeace University (GPU) 2010. Hanya sembilan anak muda yang terpilih, mewakili Indonesia dan Malaysia. Kebanggaanku berada di antara kawan-kawan dari berbagai daerah di Indonesia yaitu Didit, Mayang, Novi, Rika, Sheila, Silka, Viktor dan juga Simpson yang berasal dari Malaysia. Berbagai perbedaan; agama, bahasa, dan pola pikir, tidak menghalangi kami belajar, saling berbagi dan berproses di Greenpeace University. Guys, you are my great friends !

Ada janji yang telah kuikat pada diriku sendiri ketika akan menerima materi yang diberikan. Aku akan menjawab atas berbagai pernyataan orang-orang yang mempertanyakan pilihanku mengapa mengikuti program beasiswa GPU ini. Mereka bilang “Greenpeace adalah organisasi eco fasis. Greenpeace berjuang tidak untuk kemakmuran rakyat”. Namun, tidak sedikit orang yang mendukungku. Mengucapkan selamat menjadi salah satu siswa GPU. Bahkan memberiku kesempatan bekerja sama untuk melakukan advokasi paska mengikuti program GPU. Aku percaya, program ini akan mendidik dan membentukku menjadi juru kampanye lingkungan yang handal di masa depan.

Greenpeace University 2010

Aku berasal dari Aceh, Aku sungguh prihatin atas kondisi lingkungan disana dan Indonesia. Dengan mata kepalaku sendiri, aku pernah menyaksikan bagaimana perusahaan-perusahaan mengeksploitasi sumber-sumber kehidupan kami, menghancurkan hutan-hutan kami, menebarkan polusi mematikan, dan merampas tanah-tanah milik masyarakat. Sementara, masyarakat Aceh, tidak mendapatkan manfaat apapun dari pengerukan dan perusakan yang meraka lakukan. Tidak mendapatkan apa-apa dari alih fungsi hutan menjadi kebun-kebun sawit.

Masyarakat hanya mendapatkan lobang-lobang menganga di tengah hutan, polusi, pencemaran dan bencana. Tekadku, bisa menjadi bagian yang merubah dan memperbaiki  kondisi yang ada saat ini. aku tidak ingin melihat Acehku hancur. Apalagi hancur saat di usia mudaku di depan mataku.

Hampir enam minggu berproses menjadi siswa GPU. Berbagai informasi, pengetahuan dan keterampilan kudapat. Semua materi tentang apa dan bagaimana Greenpeace, aktifitas-aktifitasnya, strategi kampanye sampai cara melobby politik. Aku begitu terkesan dengan aksi-aksi kampanye yang dilakukan Greenpeace melalui dokumentasi audio visual. Yang dikemas menjadi bagian dari materi pelatihan dan disampaikan secara sempurna. Francis dela cruz – instruktur kami tercinta membuka pemikiran kami tentang organisasi lingkungan Internasional yang sangat fenomenal ini.

NVDA Training

Semua materi disampaikan oleh narasumber yang ahli dari Greenpeace. Tidak hanya teori, Kami langsung mempraktekan materi yang didapat, baik di dalam kelas maupun diluar. Begitu mendalam kesanku saat kami melakukan training Non Violence Direct Action (NVDA). Kami diposisikan sebagai juru kampanye greenpeace  yang akan menghentikan operasi perusahaan merusak hutan Indonesia. Kami benar-benar merasakan, bagaimana perjuangan menjadi juru kampanye Greenpeace sesungguhnya.

Tidak hanya sekedar berkampanye, Kami pun diajak mempraktekkan dan merasakan, bagaimana menggalang dana dari publik.  Bersama tim Direct Dialog Campaign (DDC), kami melakukan penggalangan dana dari masyarakat sekaligus melakukan upaya penyadaran terhadap pengelolaan lingkungan dan mengajak mereka ikut bersama berjuang untuk lingkungan.

Direct Dialogue Training bertemu publik di ruang umum. berkampanye secara langsung

Aku akan kembali ke Aceh, menceritakan apa yang telah kupelajari dan dapat. Dan kita semua, bersama Greenpeace, akan berjuang membuat perubahan. Untuk masa depan bumi yang lebih baik.

salam,

Ina

Chang Cin Lok

Posted in Greenpeace University,chang[e] is coming by Lalitia on the October 2nd, 2009
©Greenpeace/Hanifah Azzahra

©Greenpeace/Hanifah Azzahra

Chang Cin Lok bukanlah bahasa China. Chang dalam bahasa Thailand berarti gajah dan Cin Lok dalam bahasa gaul Indonesia merupakan kependekan dari ’cinta lokasi’ yang maknanya terdapat dalam istilah Jawa berbunyi ’witing tresno jalaran saka kulino’artinya cinta yang timbul karena sering bertemu. Jadi, Chang Cin Lok  terjadi pada Chang(e) Caravan adalah bagian dari cerita di perjalanan selama 15 hari.

Diantara 5 gajah yang terpilih diantara ratusan gajah yang dikonservasi oleh TERF (Thai Elephant Research and Conservation Fund), terdapat dua gajah yang saling jatuh cinta lantaran kebersamaannya selama perjalanan ini, mereka adalah Dok Kaew (betina, 38 tahun) dan Kajapatara (jantan, 13 tahun). Rupanya demam percintaan Rafi Ahmad-Yuni Shara juga telah menulari dua gajah Thailand ini… hmm…

Direktur TERF, Dr. Alangkot  Chukaew, yang juga menjadi bagian dari tim Chang[e] Caravan, menceritakan bahwa kedua gajah itu telah menujukkan ketertarikan antara satu dengan yang lain sejak mereka pertama kali bertemu di Chang[e] Caravan ini. Mereka menunjukkan gejala-gejala cinta dengan menyemprotkan air satu dengan yang lain, sang betina membuat suara-suara spesial yang menunjukkan ketertarikannya pada sang jantan, dan sang jantan mencoba memberi makan sang betina.

Namun, Dr. Alongkot menambahkan bahwa meskipun mereka telah mencintai satu sama lain, rupanya kedua gajah tersebut belum juga kawin. Penyebabnya karena baik Dok-Kaew maupun Kajapatara belum memiliki pengalaman dalam percintaan,

Hem…kita tunggu saja kabar dari TERF untuk kedatangan sang bayi gajah!

copy-of-dsc01757compile

Hani dan Lalit

Mengenal lebih jauh tentang Chang

Posted in Greenpeace University,Hutan,chang[e] is coming,iklim by Blogger Greenpeace on the September 30th, 2009

Sebelumnya, perkenalkan kami adalah Hani dan Lalit, lulusan dari Greenpeace University (GPU) yang berkesempatan untuk bergabung dengan Chang[e] Caravan Project di Thailand. Walaupun hanya 3 hari diakhir perjalanan caravan, kami merasa berutung telah menjadi bagian dari Chang[e] Caravan.

©Greenpeace/Athit Perawongmetha

Sepanjang perjalanan, Chang[e] Caravan  telah berusaha meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim, pengaruhnya dan keharusan untuk bersiap siaga, beradaptasi dan mitigasi. Perubahan (Chang[e]) yang Greenpeace inginkan adalah adalah aksi dan dana untuk melindungi hutan, untuk iklim, untuk keanekaragaman hayati dan untuk komunitas disekitar hutan. Gajah adalah hewan yang secara kebudayaan sangat berharga bagi warga Thailand, yang juga merupakan spesies yang akan terkena dampak besar dari perubahan lingkungan, melalui caravan merupakan salah satu cara dan kendaraan untuk menyampaikan pesan perubahan lingkungan.

Saat ini kami berada di Ancient Siam, salah satu tempat wisata budaya dan sejarah yang merepresentasaikan sejarah, kebudayaan, kepercayaan dan seni Thailand dalam keunikan arsitektur dan seni, yang menjadi tempat pemberhentian terakhir perjalanan panjang Chang[e] Caravan.

Pada hari pertama kami membantu tim public outreach untuk persiapan acara untuk keesokan harinya.

©Greenpeace/Adisorn Chabsungnuen

Pada hari kedua kami berpartisipasi dalam longmarch melintasi Ancient Siam bersama gajah-gajah, keseluruhan tim Chang[e] Caravan, murid-murid, pengunjung Ancient Siam, kemudian Dr. Alongkot Chukaew (seorang dokter hewan dari TERF) memberikan penjelasan mengenai gajah dan dampak perubahan iklim pada gajah serta mengajak murid-murid dan pengunjung berinteraksi secara langsung dengan gajah.

©Greenpeace/Adisorn Chabsungnuen

Pada hari ketiga penutupan secara resmi Chang(e) Caravan yang telah menempuh perjalanan selama 15 hari untuk menyuarakan penghentian perubahan iklim

©Greenpeace/Athit Perawongmetha

Berinteraksi dengan gajah-gajah dan tim Chang[e] Caravan membuat kami semakin paham, bukan hanya mengenai gajah dan perilaku mereka yang menggemaskan, tetapi juga bagaimana hewan-hewan tersebut dan manusia, akan sangat terancam oleh dampak perubahan iklim yang terjadi di dunia ini.

Nantikan cerita kami selanjutnya!

Hani & Lalit

Greenpeace University segera mencetak aktivis Lingkungan handal untuk Indonesia yang lebih baik

Posted in Greenpeace University,Hutan,iklim,nuklir by arieutami on the June 10th, 2009

Young people support GreenpeaceGreenpeace university adalah program pelatihan selama tiga bulan untuk para pemuda. Ini adalah suatu tempat dimana anak-anak muda dengan semangat dan kualifikasi yang tinggi untuk menyelamatkan lingkungan Indonesia di “gembleng” dengan rutinitas dan berbagai permasalahan yang terjadi saat Greenpeace akan melakukan kampanye.

Terpilihlah 7 siswa yang telah mengikuti  seleksi yang cukup ketat dari ratusan aplikasi yang Greenpeace terima. Berasal dari berbagai penjuru nusantara akan menambah wacana tentang keadaan lingkungan Indonesia. Berbeda suku, bahasa dan pengalaman akan menjadi sesuatu yang sangat menarik selama 3 bulan nanti dalam pelatihan.

Walaupun berbeda latar belakang mereka mempunyai tujuan yang sama untuk indonesia yang lebih baik di masa depan. Selama pelatihan mereka akan mendapat banyak pengalaman dari berbagai pihak baik dari internal ataupun eksternal.

Kampanye Greenpeace di Indonesia adalah bagian dari kampanye global Greenpeace untuk mengatasi perubahan iklim. Tujuan kampanye Greenpeace di Indonesia adalah secara drastis memotong tingkat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia. Karena Indonesia saat ini adalah negara terbesar ketiga di dunia penghasil emisi gas rumah kaca, dan penyebab utama emisi di Indonesia adalah pembabatan hutan besar-besaran, dimana pada saat bersamaan Indonesia termasuk negara yang paling rentan terkena dampak negatif kenaikan permukaan laut, longsor, banjir, dan gagal panennya produk-produk pertanian.

Indonesia sebenarnya bisa memenangi perang melawan perubahan iklim jika bisa mewujudkan zero deforestation (penghentian penebangan hutan) pada 2020, dan sukses mengaplikasikan revolusi energi, dimana masyarakat mengalihkan pemakaian bahan bakar fosil kotor seperti batu bara dan minyak, kepada energi terbarukan yang bersih seperti geothermal, tenaga angin, dan matahari, serta dikombinasikan dengan program efisiensi energi.