Greenpeace Asia Tenggara


Kopenhagen 3 : Saat di Pintu Masuk

Posted in Copenhagen, Greenpeace, Hutan, UNFCCC, iklim by bloggree on the December 17th, 2009

Tara Buakamsri, Manager Kampanye Greenpeace Asia tenggara

Saat di Pintu Masuk

“saya seperti sedang berperang di Vietnam,” kata pria tua karismatik asal Amerika-India, duduk di sebelahku saat bus menuju Bella Centre. Sebagai anggota jaringan masyarakat adat secara aktif berpartisipasi dalam COP15.  Ia menuju wawancara TV untuk Klima TV,  saya mengobrol dan dia tahu bahwa saya dari Bangkok dan bekerja untuk Greenpeace. “Tapi setelah satu tahun ikut berperang, selama masa transisi saya berada di Hawaii, aku merenung dan memutuskan untuk mengubah cara saya menjalani hidup dan saya kembali ke “pintu masuk “ di mana saya harusnya di sana, dan seperti berkorban untuk diriku sendiri. Sekarang aku di sini dan bergabung dengan seruan global untuk keadilan iklim. ”

Kadang-kadang saya merasa tersesat dalam kerumunan besar orang yang lebih dari 25.000 orang di Kopenhagen, tapi akan sangat mudah untuk bertemu dengan orang-orang dari dunia bagian lain dunia yang bisa berbagi visi dan berteman dengan saya.

Di pintu masuk Bella Center, banyak orang masih mengantri di barisan panjang menunggu untuk registrasi. Aku diberitahu bahwa ribuan lainnya yang menunggu untuk menuju Kopehagen dan mudah-mudahan akan datang lebih dari 110 kepala negara. Keamanan di pintu masuk semakin hari semakin ketat tapi saya rasa ini seperti kebanyakaan pintu masuk lainnya, Dengan TV layar lebar yang memutar aktivitas kampanye Greenpeace di seluruh dunia termasuk kegiatan Kampanye penyelamatan iklim dari Indonesia.

Tapi hari ini aku mengikuti arahan “… Setelah melewati daerah pendaftaran dan ID lencana pos pemeriksaan, berjalan lurus ke depan melewati tempat penitipan pakaian dan melalui daerah pameran menuju satu pintu ganda, di atasnya terdapat  iklan LSM Climate Rescue Station (Stasiun Penyelamat Iklim). Saya mendorongnya lalu berbelok ke kiri dan Climate Rescue Station akan berada di depan Anda. Itu ada di Bella Center … ”
Saya sangat ingin melihat stasiun penyelamatan iklim setelah pertama kali melihat foto-foto itu di pertemuan Iklim di Poznan pada tahun 2008. Di pertemuan Kopenhagen sekarang menjadi tempat LSM-LSM  pemyelamat iklim dan  membuat beberapa kegiatan sepanjang waktu seperti pameran foto, debat dan pemutaraan film yang di lakukan oleh organisasi yang bergabung di kualisi Global Campaign for Climate Action (GCCA) dan kopi gratis disajikan disini setiap pagi.

Sejarah singkat bagaimana Climate Rescue Station (CRS)  itu berjalan;

Di Polandia 2008, stasiun ini didirikan di pinggir salah satu perusahaan tambang terbesar di Eropa untuk memprotes perluasan tambang dan mengekspos biaya sebenarnya batubara. Stasiun itu menunjukkan bagaimana tambang batu bara, polusi iklim yang terburuk dari semua bahan bakar fosil, adalah elemen yang akan menghancurkan planet. Aktivis Greenpeace bergabung bersama ratusan orang lokal termasuk walikota  terancam oleh ekspansi tambang dan kami menyerukan untuk revolusi energi bersih di Polandia.

Selama COP14, CRS pindah di alun-alun kota Poznan town square, Pameran foto-foto dari dampak perubahaan iklim di selenggarakan dan konser platform oleh British Symphonia Orchestra dan pidato oleh Yvo De Boer.

Setelah Polandia, stasiun pindah ke Madrid, Spanyol, di mana digunakan oleh Greenpeace Spanyol sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-25. CRS mengelar pameran publik yang menunjukkan dampak perubahan iklim di Spanyol, dan digunakan untuk konser dan diskusi politik. CSR juga digunakan sebagai pusat pendidikan untuk mengajar anak-anak tentang energi terbarukan.

Pada festival Glastonbury di Inggris di bulan Juni 2009, CSR mengelar pameran dan merupakan pusat informasi tentang kampanye Greenpeace UK terhadap  seruan akan perluasaan landasan pacu ketiga di bandara Heathrow dan aksi terhadap usulan pembukaan pembangkit listrik batubara di Inggris.

Sekali lagi saya bertemu dengan banyak rekan-rekan Greenpeace saat pembukaan resmi “Consequences” sebuah pameran foto dari dampak iklim dunia yang sudah menderita – dan sudah di mulai.

Saya juga memiliki kesempatan untuk melihat Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional yang baru, Kumi Naidoo dengan pidatonya yang membuat inspirasi dan foto yang menakjubkan.

saya diperkenalkan dengan salah satu perunding Thailand, beberapa teman dari LSM Thailand  dan beberapa orang lainnya  dan mengatakan bahwa “ini area untuk merokok dan anda bisa mendapatkan kopi gratis, silakan datang dan rileks dari situasi yang sangat tegang dan kacau di dalam”

Itu benar. Setelah kami mendorong melewati salah satu pintu,  kami melewati banyak perokok dan berbelok ke kiri itu tepat di depan Anda - stasiun penyelamatan iklim yang setidaknya dapat menyelamatkan aku dari sirkus diskusi di aula besar.

Tara Buakamsri

Kopenhagen 2 : Teruslah berbicara …Perahu Telah Siap!

Posted in Copenhagen, Greenpeace, Hutan, UNFCCC, iklim by bloggree on the December 15th, 2009

Tara Buakamsri, Manager Kampanye Greenpeace Asia tenggara

Teruslah berbicara…Perahu Telah Siap

Sayang saya melewatkan peristiwa di hari pertama ketika Leah Wickham - seorang perempuan muda dari Fiji berbicara atas nama lebih dari 10 juta orang yang menandatangani petisi kualisi tcktcktck meminta segera mengikat secara hukum dan Abigail Jabines - Koordinator  Solar Generation internasional mempersembahkan kepada sekretaris eksekutif UNFCCC Yvo De Boer dan Presiden COP 15 Connie Hedegaard, sebuah lego Denmark terkenal yang melambangkan bata blok bangunan untuk sebuah kesepakataan yang keadilan dan ambisius. Wickham mengakhiri pidatonya dengan mengemakan kata-kata di Kopenhagen: “waktu untuk berbicara sudah berakhir dan sekarang ini adalah waktu untuk mengambil tindakan”.

Saya membaca satu baris di COP15 Post – harian berita yang diterbitkan oleh CPHPOST.DK - Ini menggelikan mendengar reaksi Mr de Boer’s kepada pidato Leah Wickham ketika dia menyimpulkan tanggapannya dengan “… tapi saya harap Anda bisa sedikit bersabar dan memberi kami dua minggu lagi berbicara dan kemudian kami akan memberikan tindakan … “Ah ha …

Kita semua tahu bahwa dalam dua minggu, banyak sekali yang perlu di bahas dan di putuskan. Di mulai dari usulan penurunan emisi gas rumah kaca dengan target komitmen pada priode ke 2 dan di selanjutnya apakah ini akan di perluas dengan mencakup penurunan emisi gas rumah kaca yang berasal dari laut dan industri penerbangan apakah metode Clean Development Mechanisme (CDM) akan disertakan sebelum di uji dan teknologi mahal untuk penangkapan dan penyimpanan karbon. Dan apakah perjanjian ini akan mencakup dari batasan deforestasi dari hutan alam di negara-negara berkembang – yang kita ketahui sebagai Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). Dan masih banyak lagi…tapi pada akhirnya nanti kita membutuhkan pemimpin yang bertindak bukan seorang politisi yang hanya berbicara.

Di Stasiun utama ketika saya perjalanan pulang dari Bella Center, aku bertemu dengan tim orang-orang muda yang membagi-bagikan leaflet dan mengundang masyarakat untuk Klima Forum 09 – rekan-rekan dari masyarakat sipil COP15 yang mewakili warga biasa yang prihatin dari seluruh dunia . Saya memutuskan untuk pergi melihat tempat DGI-Byen Kopenhagen hanya jarak dekat dengan berjalan kaki dari stasiun utama.

Selain pameran, lokakarya, diskusi, teater dan musik yang diselenggarakan di sana, aku paling terkesan dengan foto-foto dari sebuah tempat tentang daftar setiap konferensi iklim sejak 1992

KTT Bumi Rio de Janero, Brasil, 1992
CoP 1, Berlin, Jerman, 1995
CoP 2 Jenewa, Swiss, 1996
Cop 3 Kyoto, Jepang, 1997
CoP 4 Buenos Aires, Argentina, 1998
Cop 5 Bonn, Jerman, 1999
CoP 6 Den Haag, 2000
CoP 6+ Bonn, Jerman, 2001
CoP 7 Marrakech, Maroko, 2001
CoP 8 New Delhi, India, 2002
CoP 9 Milan, Italia, 2003
CoP 10 Buenos Aires, Argentina, 2004
CoP 11 Montreal, Kanada, 2005
CoP 12 Nirobi, Kenya, 2006
CoP 13 Bali, Indonesia, 2007
CoP 14, Poznan, Polandia, 2008
CoP 15, Copenhagen, Denmark 2009

Ya, Mr Boer, Anda dapat waktu dua minggu dan tidak lebih … Sudah cukup, jelas waktu untuk bertindak tentang penyelamatan iklim adalah sekarang.

Tara Buakamsri

Global Day Action 2009 : Pidato Kumi Naidoo (Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional)

Posted in Copenhagen, Greenpeace, UNFCCC, tcktcktck by bloggree on the December 14th, 2009

Ekesekutif direktur Greenpeace Internasional Kumi Naidoo, berpidato di Kopenhagen saat Global Day Action 12 Desember 2009.

“Yes we can, yes we must and yes we will deliver a fair efficient and legally binding treaty to protect the future of our children!” (“Ya kita bisa, ya kita harus dan ya kami akan memberikan yang adil dan efisien perjanjian yang mengikat secara hukum untuk melindungi masa depan anak-anak kita!”)

Tara Buakamsri di Kopenhagen 1

Posted in Copenhagen, Greenpeace, UNFCCC, iklim by bloggree on the December 14th, 2009

Tara Buakamsri, Manager Kampanye Greenpeace Asia tenggara berada di Kopenhagen saat ini. ini lah cacatan Tara selama berada di pertemuan yang sangat menentukan nasib dunia.

Saya mendarat di bandara Kastrup, Kopenhagen dan membuka website Greenpeace untuk melihat bahwa hitungan mundur menuju Kopenhagen hanya tersisa 24 jam sebelum pertemuan yang paling penting dalam sejarah manusia untuk mencari jalan dalam menangani bencana perubahan iklim.

Namun saya cukup putus asa saat mengetahui hal pertama yang saya temukan saat meninggalkan bandara merupakan billboard dengan pemimpin dunia yang menua di dalamnya berkata, “Maaf, kami seharusnya bisa mencegah bencana perubahan iklim.. tapi tidak kami lakukan”.

obama

Saya berharap para pemimpin yang muncul di iklan-iklan tersebut, Lula dari Brazil, Tusk dari Polandia , Brown dari Inggris, Merkel dari Jerman, Sarkozy dari Perancis, Zapatero dari Spanyol, Medvedev dari Rusia, Harper dari Kanada dan Rudd dari Australia akan membuktikan sebaliknya dari iklan-iklan yang dibuat Greenpeace untuk mengingatkan mereka akan kewajiban mereka terhadap generasi mendatang dan untuk mengambil keputusan yang benar dalam mengamankan kesepakatan yang adil, ambisius dan mengikat untuk iklim dan untuk segala kehidupan di bumi.

Ribuan orang tiba di Kopenhagen untuk pertemuan langka ini (juga diketahui sebagai Konferensi Partai atau Conference of Parties ke 15 yang biasa disingkat dengan COP 15),semua hotel dan tempat penginapan telah dipesan dan semua area yang tersedia telah diubah menjadi akomodasi untuk ribuan orang yang akan datang pada beberapa hari mendatang. Saya beruntung mendapatkan tempat di penginapan dimana saya berbagi ruangan kecil dengan 6 anggota muda Friends of the Earth dari Jerman.

Pada hari pertama di Bella Center, lokasi pertemuan tersebut, saya disambut oleh peserta yang sedang mengantri panjang menunggu untuk registrasi sebagai tim perunding di udara dingin, wartawan dari 192 negara tiba untuk sesi pembukaan, belum terhitung perwakilan dari LSM dan masyarakat dari segala penjuru dunia. Antrian panjang ini juga memberi ruang untuk kelompok yang berkampanye untuk berinteraksi dengan mereka yang sedang mengantri – Kafe Greenpeace dengan para aktivisnya menyediakan kopi panas dan menyuguhkan kesepakatan, layar besar yang merupakan usaha kolaboratif dari Greenpeace dan tcktcktck dibawah jalur kereta dan tepat di depan area masuk lokasi pertemuan memutar berulang-ulang video dari pagi hingga malam hari. Video ini mencakup dokumentasi ‘Pos Pembela Iklim’ Greenpeace di hutan gambut di Semenanjung Kampar, Sumatra yang dibangun untuk menekankan dampak buruk perubahan iklim, pengaruhnya terhadap masyarakat dan keanekaragaman hayati jika para pemimpin di Kopenhagen tidak melakukan apa-apa.

Pada pintu masuk lokasi pertemuan, beberapa kelompok menyerukan suaranya; pria dan wanita dengan baju merah – penagih hutang iklim – memegang tanda yang berbunyi “negara-negara kaya – lunasi hutan iklim kalian!”; pertunjukkan yang unik dari Supreme Master Ching Hai menyebarkan selebaran “Be Veg, Go Green, Save the Planet” (jadilah vegetarian, sayangi lingkungan dan selamatkan bumi); pria dan wanita dengan boneka Kangguru menyerukan pesan yang menyalahkan “Batubara Asutralia” sebagai pembunuh bumi; kopi COP – secangkir kopi gratis persembahan industri energi angin – kedai kopi berjalan dengan sepeda yang menyuguhkan kopi, cappuccino dan teh chai.

Perjalanan yang panjang ke Kopenhagen – pertemuan iklim pertama saya – saya gagal untuk registrasi di hari pertama pertemuan karena nama saya yang masih berada di daftar cadangan dari Kampanye Global untuk Aksi Iklim atau Global Campaign for Climate Action (GCCA), saya kagum melihat suasana Bella Center dari peron kereta yang tinggi dengan satu turbin angin dibaliknya dan pembangkit tenaga listrik yang mengeluarkan asap ke udara. Stasiun penyelamatan iklim Greenpeace memang berada di sebelah gedung, saya berharap akan kesepakatan yang baik, adil, ambisius dan mengikat. Jika tidak, pertemuan Kopenhagen hanya akan menjadi pameran solusi iklim yang dimotori perusahaan dan pembicaraan politik yang berkepanjangan.

00000

Jam hitungan mundur di website UNFCCC menunjukkan angka nol. Pertemuan dimulai dibawah langit kelam Kopenhagen.

Burung Pun Berterima Kasih

Posted in Greenpeace, Kamp Pembela Iklim, Sinar Mas, Teluk Meranti, penjahat hutan by bloggree on the December 1st, 2009

Lebih dari sebulan para relawan Greenpeace dan masyarakat Riau membangun kekuatan untuk melawan keserakahan para pengusaha yang menghancurkan hutan mereka dan masa depan masyarakat Riau di Kamp Pembela Iklim. Kamp Pembela Iklim masih di sana dan akan terus berjuang bersama.  Halim seorang relawan yang berasal dari Riau menuliskan sebuah cerita untuk kita semua….

BURUNG PUN BERTERIMA KASIH

Setiap pagi di Teluk Meranti
Setiap petang ditempat yang sama di Tanjung Rengas
Setiap hari di Camp Pembela Iklim Greenpeace
Hanya kata perlawanan yang selalu kudengar
Terhadap penghancuran hutan
Hutan gambut di Semenanjung Kampar

Para buldozer meraung keras
Mengikuti perintah tuannya untuk menidurkan pohon ke bumi
Meluluhlantakkan tegakan pohon ditanah gambut dalam
Tak peduli meskipun semua orang memandang
Dia tetap meraung seolah tak ada yang memperhatikan
Mungkin telinganya sudah tuli karena raungannya
Sehingga tak mendengarkan suara-suara lain disekitar

Aku tak pernah tidur
Aku selalu mendengar
Aku selalu memasang telinga
Aku selalu berfikir
Aku berbuat semampuku
Agar bumi ini bisa bertahan lebih lama

Aku tau banyak yang mendukungku
Seperti burung-burung yang setiap pagi terbang diatas camp
Mereka datang untuk mengucapkan terimakasih atas apa yang kulakukan
Kemudian mereka melanjutkan hidup dengan mengumpulkan buahan hutan
Mereka takut, sedih, cemas pada masa depan anak-anaknya

Aku tau banyak yang membenci  tuan buldozer
Yang periuk nasinya terganggu oleh ku
Tapi dihutan itu juga ada periuk nasi orang Teluk Meranti, Teluk Binjai
dan masyarakat dunia lainnya
Yang seharusnya tidak dirampas tuan buldozer

Ooohhh..para tuan buldozer
Berhentilah membuat bencana……!!!!!!

Salam dari Riau

rainbow
Halim

Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

Posted in Sinar Mas, penjahat hutan by bloggree on the November 30th, 2009

Tulisan yang sangat menarik untuk para penyelamat hutan dan iklim di seluruh Indonesia agar bangsa ini tidak terjebak akal-akalan penjahat-penjahat hutan dan iklim. Tulisan dari seorang pemerhati lingkungan Suwandi ahmad merefresh ingatan  agar kita tidak terbuai….

Ketika Penjahat Menjadi Penjahit: Sebuah Catatan untuk Greenfest 2009

( http://www.facebook.com/#/note.php?note_id=220428810852&id=679205628&ref=mf )

Beberapa hari terakhir ini, Kompas gencar menulis mengenai GreenFest 2009. Sebuah ajang lingkungan hidup yang dibidani oleh 7 perusahaan besar di Indonesia. Yakni Harian Kompas, PT. Unilever Indonesia Tbk., Pertamina, Panasonic, Sinar Mas, MetroTV, serta FeMale Radio.
Komentar pertama saya, saat melihat penyelenggaranya, adalah mengapa harus Sinar Mas?

Sudah bukan rahasia lagi, jika Sinar Mas ada di belakang beberapa kasus perusakan lingkungan. Misalnya di Kalimantan. Sinar Mas melakukan penggundulan hutan di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, di lahan basah yang dilindungi International Ramsar Convention (Konvensi Ramsar Internasional), sebagai bagian dari kegiatan perluasan perkebunan kelapa sawit. Daerah penyangga yang telah mengalami pembalakan itu sangat penting bagi integritas dan keanekaragaman hayati taman nasional, salah satu lahan basah terluas di Asia Tenggara dan rumah bagi ribuan jenis spesies satwa langka, termasuk macan tutul, orang utan dan sebagian besar populasi kera belanda (proboscis monkey).

Menurut pemberitaan, pada bulan Agustus 2008 Menteri Kehutanan telah membatalkan izin operasi 12 perusahaan di daerah tersebut, tujuh diantaranya milik Sinar Mas. Para pembalak telah melanggar peraturan perundangan konseravsi alam dan keanekaragam hayati, tapi alih-alih izinya dicabut, Sinar Mas malah terus melakukan penggundulan hutan disekitar taman nasional, yang menunjukkan sikap yang terang-terangan meremehkan peraturan dan perundangan serta perjanjian konservasi internasional.

Di Provinsi Riau, Sinar Mas menguasai lebih dari 780.000 hektar perkebunan minyak kelapa sawit dan kertas. The World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan sejak 2001, 450.000 hektar hutan atau setara dengan luas pulau Lombok, telah dirusak oleh perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) milik Sinar Mas Grup.

Greenpeace juga pernah meluncurkan laporan penelitian yang mengestimasi bahwa kegiatan perusakan lahan gambut oleh Sinar Mas Grup di Sumatera saja, melepaskan hingga 113 juta ton karbon dioksida, atau sama dengan total emisi CO2 Belgia pada 2005. Dalam laporan Greenpeace disebutkan, setiap tahun, perusahaan Sinar Mas berhutang 3,4 miliar Euro atau sekitar Rp.48,5 triliun, jika mengacu pada rata-rata harga 30 Euro per ton karbon (berdasarkan perhitungan Kyoto Phase II oleh lembaga riset pasar karbon terkemuka).

Nah, di Jakarta, Sinar Mas justru muncul dengan kemasan pahlawan. Sinar Mas maju sebagai salah satu pilar Greenfest 2009. Sinar Mas berusaha menjahit isu-isu lingkungan menjadi baju yang indah. Dan menutupi aurat kejahatan lingkungan yang mereka lakukan.

Dengan alasan-alasan di atas, maka saya memutuskan untuk TIDAK AKAN DATANG pada Greenfest 2009. Dan, tidak akan membeli produk-produk Sinar Mas. Sebagai informasi, beberapa produk Sinar Mas yang saya ketahui dan tidak akan saya beli adalah:
PT Asuransi Sinar Mas
Bank Sinar Mas
Minyak Goreng Filma dan Kunci Mas
Operator seluler SMART Telecom
Kertas dari PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

Bagaimana dengan Anda?

Referensi:
http://blog.greenpeace.or.id/?p=48
http://greenfest2009.com/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/petisi-untuk-hutan-indonesia

PS. Saya tidak dibayar Greenpeace untuk tulisan ini :)

Suwandi Ahmad

*) Thanks Wandi

Untuk Masa Depan Generasi Mendatang

Posted in Greenpeace, Hutan, Kamp Pembela Iklim, Kelapa Sawit, Riau, Teluk Meranti, UNFCCC, iklim by bloggree on the November 26th, 2009

25 November 2009, 21.00 WIB

Hi, Saya Alien aktivis Greenpeace bersama 3 teman aktivis lain dari Filipina, Jerman dan Belanda kami masih berusaha menghentikan operasi alat angkut di pabrik Kertas milik APP. kawan-kawan kami yang lain telah di lumpuhkan tetapi kami tetap berusaha bertahan hingga malam ini.

alien

Hari yang sangat panjang buat saya, tapi ini harus di lakukan untuk meyerukan pada pemilik merusahaan, pemerintah dan dunia mereka harus menghentikan penghancuran hutan. mereka harus menghentikan ini untuk mencegah bencana iklim yang saat ini sedang dan akan terus terjadi jika mereka tidak tersadar. Rasa lelah pasti ada, Tas persediaan makan saya telah di rampas sekuriti tadi, Panas matahari dan dingin malam ini pasti akan menghasilkan sesuatu untuk dunia.

Masyarakat dunia harus tahu betapa hancurnya hutan Indonesia saat ini dan negara-negara yang menerima hasil penghancurannya secepatnya harus berhenti membeli hasil dari sesuatu yang merusak hutan dan masa depan generasi mendatang.

Hutan-hutan alam yang harusnya di lindungi sekarang telah tersentuh dan hancur karena pembukaan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan akasia. Kedalaman hutan lahan gambut yang terbakar dan melepaskan CO2 merupakan ancaman nyata terhadap iklim bumi

Teman saya  joel dari Filipina mengatakan ” saya sangat ingin membantu Indonesia dan dunia. pabrik raksasa ini telah menghancurkan hutan dan memicu perubahaan iklim. Saya dan masyarakat di Filipina telah merasakaan dua topan yang menghancurkan manila. dan itu karena perubahaan iklim. saya ingin membantu karena harus ada perubahaan untuk menyelamatkan dunia dan mencegah itu terjadi lagi”


Terlihat dari atas alat angkut ini betapa luasnya perusahaan ini. lebih dari 2 juta ton bubur kertas di lumat oleh mesin-mesin di sini yang berasal dari perkebunan dan hutan alam termasuk semenanjung kampar yang terancam tidak bisa terselamatkan.

activist-joel

Malam ini kami hanya berempat masih di sini berusahaa menghentikan ini tapi saya percaya jutaan aktivis pemyelamat iklim di luar sana akan terus berusaha menghentikan penghancur hutan dan penghancur iklim. berusaha menjadikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dan bisa menikmati indahnya hutan dan lahan gambut.

Salam dari atas crane,

Alien Maurin


Greenpeace Menghentikan Perusahaan Kertas Terbesar

Posted in Copenhagen, Greenpeace, Hutan, Kamp Pembela Iklim, Riau, iklim by bloggree on the November 26th, 2009

Penghancur Hutan: Anda Dapat Menghentikan Ini

Posted in Greenpeace, Hutan, Kamp Pembela Iklim, Riau, Teluk Meranti, UNFCCC, iklim by bloggree on the November 25th, 2009

Pagi ini 12 aktivis Greenpeace menghentikan alat angkut perusahaan kertas raksasa mikil PT. Indah Kiat Pulp Paper persudahaan yang di miliki Group Sinar Mas. Perusahaan ini salah satu perusahaan yang ikut mendorong cepatnya perubahaan iklim dunia. Mereka menghancurkan hutan alam dan hutan lahan gambut yang ada di Riau. Hutan Lahan gambut yang  menyerap milyaran ton karbon akan terlepas ketika mereka beroperasi menghancurkan hutan yang tersisa di Riau.

Empat buah alat angkut yang berada di pelabuhaan ekspor di berhetikan dengan mengantungkan diri. mereka membentangkan banner bertuliskan “Penghancuran Hutan: Anda dapat menghentikan ini”  dan “Climate Crime”. Sampai cerita ini saya tulis masih ada 4 aktivis yang bertahan di salah satu alat angkut selama 8 jam. Panas terik dan dahaga menggelayuti mereka tetapi komitmen mereka tetap akan bertahan selama mungkin sampai para pemimpin bertindak nyata untuk penyelamatan iklim dan penyelamatan dunia dari bencana iklim.

Dukungan Untuk Penyelamat Iklim - Part 1

Posted in Copenhagen, Hutan, Kamp Pembela Iklim, Riau, Teluk Meranti, UNFCCC, iklim by bloggree on the November 24th, 2009

Cerita ini adalah cerita perjalanan Ivy ( anggota solar generation) yang masih berusia 17 tahun dan supporter Greenpeace Krisna mukti selama 3 hari untuk memberikan dukungan kepada warga masyarakat Teluk meranti dan para aktivis Greenpeace di Kamp Pembela Iklim.

Saya Ivy londa, Krisna Mukti dan Mba Milla-asisten Krisna Mukti tiba di Pekanbaru pada kamis Pagi, kami di sambut dengan matahari yang sangat terik, kira-kira 40 derajat celcius. Kami tidak langsung mengunjungi Kamp tapi kami menuju Polres Palalawan kira-kira 1 jam dari Pekanbaru. Kami menuju Polres Palalawan untuk memberi semangat kepada 18 aktivis pembela iklim yang menjadi tersangka dan melakukan wajib lapor atas tindakan menghentikan penghancuran hutan (Sesuatu yg aneh!).  senangnya melihat para aktivis tetap semangat di kantor polres Palalawan walaupun menempuh ketidakadilan.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan yang saya melihat truk-truk Fuso bermuatan biji sawit, kayu alam dan truk-truk tertutup menjadi pemandangan yang tak putus-putus. Memasuki daerah Kerinci, pemandangan yang bisa di lihat sangat mengenaskan. Hutan-hutan gundul hilang  dilahap perusahaan kertas seperti  RAPP dan perusahaan lainnya seperti  Sinar Mas. Beberapa lahan yang tersisa adalah bekas dibakar masih meninggalkan asap-asap tipis. Sebagian lagi dibiarkan gundul. Jalan melintas Kerinci – Binjai dibuat perusahaan-perusahaan itu  1 tahun lalu untuk keperluan transportasi alat-alat berat.

Akhirnya  kami tiba di Desa Teluk Meranti setelah 5 jam perjalanan.  Saat kami tiba, air sungai sedang pasang,  kami menempuh sisa perjalanan menuju Kamp Pembela Iklim  menggunakan speed boat selama kurang lebih 10 menit. Malam pertama di camp sungguh menantang karena baru pertama kali di desa yang sangat jauh,  Nyamuk-nyamuk gemuk, serangga hutan yang salah satu dari mereka mungkin beracun. Tepat  Jam 10 diesel dimatikan, beberapa minggu lalu kamp ini memakai Solar panel tapi karena kondisi kemarin tidak di pasang kembali.  kami pun mencoba tidur di balik kelambu ditemani suara serangga hutan yang terus bernyanyi.

Membendung kanal!

Bersama para relawan kami menembus pagi untuk membendung air gambut di kanal. Menaiki Pong-pong (sebutan perahu tradisional) selama 20 menit melewati sungai yang di beberapa tempat terdapat pasir hisap. Sampai di ujung kanal terlihat bendungan yang belum selesai. Bendungan ini sangat penting untuk menahan air gambut agar air gambut tetap basah. Kanal-kanal di buat oleh perusahaan untuk mengalirkan kayu-kayu hasil pembabatan mereka (pembabatan terakhir 2004). Padahal lahan gambut rawan terbakar jika di keringkan dan memlepaskan kandungan karbon.

Setelah lelah membendung dengan mengangkut karung-karung pasir, saya melanjutkan dengan berenang di kanal air gambut yang berwarna merah kecoklatan, air gambut sangat jernih dan dapat di minum loh. Tapi kadar asam air gambut sangat tinggi tidak baik untuk gigi dan usus.

Krisna Mukti bersama anak-anak di Desa Teluk Meranti

Dari kanal, kami pergi ke desa Meranti. Warga desa sangat antusias menyambut Krisna Mukti yang datang untuk mengundang siswa-siswi SMP untuk lomba pantun di camp. Setelah sholat jumat dan pengajian dengan Ibu-Ibu PKK, kami kembali ke camp. Wah warga Teluk Meranti sangat senang kedatangan seorang publik figure yang membantu mereka menyelamatkan hutan sememnanjung kampar. Kami kembali ke kamp setelah sholat jumat dan pengajian bersama ibu-ibu PKK dan tangan kami hadiah dari ibu-ibu PKK yang memberikan kami kerajinan hasil buah karya mereka.

Bono datang!

Siang harinya, Bono datang. Bono adalah gelombang yang terbentuk karena pertemuan pasang air laut dengan arus sungai menuju laut. Hal ini menyebabkan gelombang seperti tsunami kecil yang bisa sampai setinggi 2 meter. Bono atau gelombang yang bertemu biasa terjadi di semua sungai yang berakhir di laut, namun fenomena Bono ini terkenal hanya di Sungai Kampar dan Sungai Amazon.

Kamp Pembela Iklim  yang terendam air sungai setelah bono datang

Para pengemudi Pongpong biasanya bermain bono dengan mendekati gelombang itu saat Bono datang dan lari ketika Bono mendekat. Saat arus balik atau biasa disebut dengan Bono pulang, di atas pongpong rasaya seperti bermain selancar.

Salam,

Ivy Londa

Next Page »