Dukungan Masyarakat Riau
Kejutan yang sangat mengharukan dari warga Teluk Meranti pada Minggu 15 November 2009. Mencegah para aktivis Greenpeace untuk meninggalkan Kamp karena desakan polisi palalawan.
APRIL Masih Terus Menghancurkan Hutan
Aktivis menghentikan 7 excavator di konsesi hutan yang telah dihancur
Aktivis Greenpeace baru saja mengunci diri di ketiga excavator yang ada di konsesi APRIL salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Indonesia tepatnya di Semenanjung Kampar.
Awal pekan ini Greenpeace merilis bukti bahwa APRIL telah melakukan pembukaan hutan dan pengerringan lahan gambut di daerah ini. Menurut pemantau kami kedalam gambut di konsesi ini sangat dalam melebihi tiga meter.
Hukum yang berlaku di Indonesia melarang pembukaan lahan gambut yang berada di kedalaman lebih dari tiga meter. APRIL membuat pernytaan bahwa mereka telah menghentikan operasinya di semenanjung kampar.
Padahal pada kenyataannya….
Para aktivis yang saat cerita ini di turunkan berada di kawasan konsesi APRIL berusaha untuk menghentikan penghancuran hutan yang tengah APRIL lakukan.
Bustar Maitar, juru kampanye hutan untuk Greenpeace, telah mengatakan kepada pihak APRIL bahwa para aktivis tidak akan meninggalkan konsesi sampai perusahaan tersebut berkomitmen kepada public untuk menghentikan semua kegiatan deforestasi dan penghancuran lahan gambut di Semenanjung Kampar.
Hujan sangat lebat turun di semenanjung kampar. Tetapi para aktivis tetap mencegah perusahaan itu menggunakan kembali alat berat mereka untuk menghancurkan hutan.
Presiden Amerika Serikat Barrack Obama akan melakukan kunjunganpertamanya di Asia tenggara dan Amerika Serikat terus melakukan penolakan pada perjanjian perubahan iklim di PBB. Perundingan PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen akan terjadi bulan depan, Greenpeace terus mendesak mereka menyelamatkan hutan. Greenpeace telah mengeluarkan Siaran Pers menyoroti pentinganya semua deforestasi. Greenpeace meminta Presiden Yudhoyono dan para pemimpin dunia untuk melindungi hutan di seluruh dunia untuk mencegah perubahan iklim.
Aktivis membentangkan spanduk berukuran 20×30 meter di tempat yang baru saja menghancurkan hutan. Mendesak Obama untuk mengambil kepemimpinan yang kuat dan bekerja dengan para pemimpin Negara-negara lain untuk membantu mencegah krisis iklim.
Aktivis Greenpeace Mengunci Alat Berat Milik APRIL di Semenanjung Kampar
Hari ini aktivis Greenpeace mengunci empat alat berat milik perusahaan kertas APRIL di Semenanjung Kampar yang kaya akan karbon untuk menyerukan pentingnya untuk segera menghentikan segala tindak deforestasi di Indonesia.
Emisi karbon dari tindak deforestasi serta degradasi area hutan dan lahan gambut merupakan penyebab utama yang membawa Indonesia menjadi negara ketiga penghasil karbon terbesar di dunia.
Pada pukul 06.15 WIB lebih dari 50 aktivis tiba di lokasi. Setengah jam kemudian tiga alat berat telah berhasil dikunci yang kemudian diikuti dengan terpasangnya banner yang berbunyi “OBAMA YOU CAN STOP (OBAMA ANDA BISA MENGHENTIKAN INI)”.
Dengan tiga tim mengunci alat berat, para aktivis yang lain memegang tanda kecil yang berbunyi “Climate Crime (Kejahatan Iklim)” mengacu kepada sumbangan besar APRIL terhadap perubahan iklim melalui perambahan hutan besar-besaran yang dilakukannya dengan bukti kuat atas tindak deforestasi ilegal.
** Update terbaru aktivis telah mengunci 7 alat berat
Mission Possible: Menghidupkan Kembali Lahan Gambut
Cerita dari Hikmat Soeriatanuwijaya di Kamp Pembela Hutan
Saya berada di kawasan gambut Semenanjung Kampar, setengah jam perjalanan dengan perahu motor dari Kamp Pembela Iklim (Climate Defender Camp) Greenpeace di Teluk Meranti, Semenanjung Kampar, Propinsi Riau.
Sepanjang mata memandang adalah semak belukar, rumput tinggi, beberapa batang pohon, dan semak belukar lagi. Ah, ini bukan hutan alam!
Saya di sini, di Semenanjung Kampar yang punya hutan alam seluas 700.000 hektar, menyimpan kandungan karbon hingga dua miliar ton. Oh, ya, saya ingat sekarang, data terakhir menunjukkan bahwa hampir setengah hutan di Semenanjung Kampar, tepatnya 300.000 hektar sekarang telah hancur untuk dijadikan perkebunan.
Dan tempat saya berada saat ini pasti salah satu dari 300.000 hektar yang kita bicarakan itu. Gambut yang ada di daerah ini rusak akibat kanal yang dibangun beberapa tahun lalu untuk kegiatan penebangan liar (illegal logging). Sekarang kegiatan penebangan liar itu sudah diberantas, tetapi kanal-kanal itu masih ada, terus mengeringkan dan merusak gambut yang ada di sekitarnya.
Di sebuah kanal, saya melihat sekitar 50 aktivis Greenpeace dan masyarakat setempat bekerja keras membangun bendungan. Di bawah komando dari Petteri, action coordinator yang berasal dari Finlandia, bendungan itu tampak sangat kokoh menghalau aliran air kanal dan memastikan hutan gambut tetap terjaga. Mereka sudah menyelesaikan dinding pertama dan mulai membangun dinding berikutnya.
“Greenpeace bersama masyarakat setempat bekerja sama membangun bendungan ini untuk menghentikan emisi gas rumah kaca dan memulihkan ekosistem di tempat ini,” jelas Petteri.
Menghentikan emisi gas rumah kaca! Mengembalikan tempat ini ke kondisi normal layaknya hutan alam! Pekerjaan besar, harapan yang sangat besar mengingat ditempat ini telah terjadi kerusakan yang lumayan parah.
Tetapi ini bukan Mission Impossible! Apa gunanya merencanakan sebuah misi jika kita sudah merasa tidak mungkin berhasil?
Sebut saja ini sebagai Mission Possible, atau lebih baik lagi, Mission of Hope. Karena seberapa sukar upaya ini, selalu ada secercah harapan untuk memperbaikinya.
Karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa apa yang dikerjakan Greenpeace dan masyarakat di sini, benar-benar bisa mengembalikan kondisi lahan gambut di sekitarnya.
“Sebagian besar karbon yang terlepas dari lahan gambut adalah hasil dari proses pengeringan sehingga tanahnya atau pohonnya bisa digunakan,” ujar Profesor Jonotoro, seorang ahli tanag gambut.
Profesor Jonotoro telah berpartisipasi dalam upaya-upaya Greenpeace untuk menghentikan deforestasi sejak beberapa waktu lalu. Pria ramah ini sangat prihatin dengan masa depan Semenanjung Kampar.
Kami berbincang di pinggir kanal, dengan latar belakang pekerjaan bendungan terus berlangsung. Jonotoro adalah orang yang paling tepat untuk diajak diskusi tentang lahan gambut. Dia adalah salah satu ahli gambut yang dipunyai Kementerian Kehutanan, dan pengajar di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.
Menurut Jonotoro, tanah gambut terdiri dari material organik yang belum terdekomposisi secara sempurna, dan mengandung air. Oleh sebab itu gambut dapat mengikat karbon dalam jumlah besar. Semakin dalam tanah gambut makin banyak karbon yang dia kandung. “Ketika level permukaan air menurun, maka makin banyak stok karbon yang terlepas ke atmosfer.”
Tidak hanya berdampak buruk pada ekosistem, jika terbakar gambut bisa membara hingga berminggu-minggu. Api yang bisa dipadamkan hanya di permukaan, tetapi di bawah tanah tetap terbakar sehingga akan muncul lagi beberapa hari kemudian. Seperti bara yang terus hidup.
”Dengan membangun bendungan kami berharap dapat mengembalikan lahan gambut ke kondisi hutan alam semula, sehingga ekosistem bisa kembali hidup di sini,” jelas Jonotoro.
Jadi Profesor, bisa Anda jelaskan seberapa parah kerusakan di daerah ini? Dan jika bendungan ini selesai, berapa lama proses restorasi akan mulai menampakkan hasil?
Jonotoro terdiam dan menatap saya dengan tajam. Saya khawatir dia tidak mau menjelaskan lebih lanjut karena saya sudah banyak bertanya mulai saat kami berangkat meninggalkan kamp. Tetapi tidak, dia mengambil topi lapangannya dan berkata: “Ikut dengan saya!”
Kami kemudian berjalan lebih dalam. Kami harus hati-hati karena tanah gambut sangat tidak stabil. Seperti berjalan di atas busa. Bustar, Jurukampanye Hutan kami sempat terjatuh saat menyeberangi jembatan kayu. Tetapi dia tidak terluka. 20 menit berjalan, kami tiba di area yang dikelilingi rumput setinggi kepala. Di tempat itu ada pipa ukur dan Jonotoro memeriksanya dengan memasukkan kayu ke dalamnya.
“Ini kering. Tingkat air di tempat ini makin menurun,” ujarnya. Dia mengambil alat ukurnya dan berseru: “50 sentimeter.”
“Kondisi water table terbaik untuk lahan gambut adalah 20 hingga 0 sentimeter, yang berarti dalam keadaan tergenang. Jika lahan gambut bisa mencapai kondisi ini, maka lingkungannya bisa pulih kembali.”
Biasanya, kita mulai bisa melihat manfaat dari bendungan ini untuk ekosistem sekitar tiga bulan lagi. “Tetapi hasilnya tergantung banyak faktor. Yang jelas bendungan ini akan menghasilkan sesuatu yang positif.”
Ya, Profesor, harus.

Hikmat Soeriatanuwijaya
Media Campaigner di Kamp Pembela Iklim
Greenpeace Membangkitkan Badai

Barcelona, 5 November 2009 — Pagi ini ketika para delegasi berjalan menuju kekonferensi seperti hari-hari yang lain seperti hari bisnis biasa, langit menjadi gelap, keringanan, angin berputar-putar dan hujan mulai turun. Biasanya Barcelona cerah saat ini tetapi terlihat seperti badai yang sangat besar (dokumentasi aktivis Greenpeace).
Greenpeace melakukan aksi di depan delegasi konferensi di Barcelona untuk ikut merasakan apa yang akan terjadi di masa depan jika kesepakatan iklim yang adil, ambisius dan mengikat tidak terjadi.
Menatap Rimba yang Dulu Perkasa
“Oh jelas kami kecewa… Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita Pengantar lelap si Buyung…”
Dari tepian Sungai Kampar, Riau, para relawan di Kamp Pelindung Iklim menyanyikan dengan semangat lagu lawas gubahan Iwan Fals yang menggambarkan keprihatinannya atas kondisi hutan yang telah hancur. Rekaman gambar tersebut ditampilkan langsung di hadapan penggubahnya, Iwan Fals, dalam event Aksi Sosial Iwan Fals untuk Semenanjung Kampar, yang digelar oleh Greenpeace bekerjasama dengan Tiga Rambu (manajemen Iwan Fals) di Komunitas Salihara Jakarta, 3 November lalu.
Film pendek yang menggambarkan para relawan yang bernyanyi diiringi petikan gitar –yang senarnya kurang satu itu, juga menampilkan rekaman gambar-gambar kerusakan hutan gambut di Semenanjung Kampar yang masih terus berlangsung sampai saat ini.
Dalam event ini Iwan Fals menyumbangkan sejumlah dana kepada Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau), mitra kerja Greenpeace di Riau, selain mempersembahkan 4 buah lagu kepada para supporter dan relawan Greenpeace serta para undangan lainnya yang hadir di Komunitas Salihara, Jakarta. Iwan Fals dalam kesempatan ini menyatakan keprihatinannya, betapa lagu yang dia gubah di tahun 1982 tersebut masih sangat relevan dengan kondisi yang ada di tahun 2009.
Ini berarti selama lebih dari dua dekade kondisi hutan dan lingkungan hidup kita tidak kunjung membaik, dan bahkan semakin parah. Dengan suaranya yang khas, Iwan Fals kembali menyuarakan keprihatinannya kepada dunia dan menyerukan perlawanan terhadap kondisi yang ada pada saat ini.
Ratusan undangan dan puluhan jurnalis terpaku menyaksikan penampilan Iwan Fals yang luar biasa pada siang hari itu. Sepanjang event yang berlangsung sekitar 2 jam ini, Iwan tak hentinya mengugah kita semua yang hadir untuk bertindak, sekecil apapun, demi masa depan anak-cucu yang akan mewarisi bumi ini dari kita. Iwan juga menyatakan dukungan penuh atas apa yang Greenpeace lakukan dalam menyelamatkan hutan dan bumi kita.
Greenpeace memberikan sebuah akar kering dari lahan gambut di Kampar. Tapi ini bukan hadiah tetapi sebuah peringatan jangan membuat akar gambut di kampar mengering karena pembukaan lahan.
Tak dapat dipungkiri, penampilan Iwan Fals dan dukungannya kepada Greenpeace akan memberikan inspirasi dan menambah semangat para aktivis dan relawan Greenpeace serta masyarakat di Semenanjung Kampar yang saat ini berada di garis depan dalam upaya melawan perusakan hutan yang mengakibatkan perubahan iklim.
Terima kasih Bang Iwan..! Akan kami sampaikan salammu dan kami teruskan semangatmu kepada kawan-kawan kami di Semenanjung Kampar sana.
–Arie & Yaya
Bendungan itu Lebih Keras dari yang Kalian Lihat
Bagian II : Cerita Peterri dari Kanal di Teluk Meranti

Pagi ini kami meninggalkam kamp dengan dua kapal tradisional yang di sebut pong-pong - menuju kanal yang akan kami bendung. Di sebelah kanal itu kami membangun sebuah pondok kecil untuk tempat kami berteduh saat matahari sangat terik dan di saat hujan. Tempat ini juga menjadi tempat kami mengisi botol-botol air minum dan makan siang. Setiap hari 4 liter air saya habiskan untuk menggantikan energi yang telah saya keluarkan. Sangat sulit menjelaskan bagaimana pekerjaan yang sangat menuntut kekuatan fisik ini di hari yang sangat panas terik dan lembab. Ini harus segera di kerjakan dan pasti bisa!

Kami telah menempatkan 6 dari 8 kayu horizontal yang harus di letakkan di bendungan dan meletakkan satu dari 2 kayu vertikal di antaranya. Kami akan memakunya hingga tertancap di dasar kanal dengan palu yang kami buat sendiri dari kayu. Saat ini kontruksi dasar telah selesai di kerjakan dan akan di teruskan dengan cepat. Kami harus memastikan pasokan bahan di perhitungkan dengan tepat. Ini akan menjadi masalah sulit karena tidak ada jalan lain, semua harus menggunakan transportasi pong-pong. Waktu air pasang dan surut berubah-ubah setiap hari dan saat air surut kami bahan-bahan tidak dapat sampai langsung ke kanal. Dan kami harus mengangkutnya bersama-sama sejauh hampir satu kilometer.
Pada hari ketiga membendung kanal. Seperti biasa kami bangun pagi hari dan berangkat bersama tiga pong-pong membawa 30 sukarelawan dan masyarakat yang bekerja luar biasa sangat keras. Kami meneruskan pekerjaan yang kemarin kami lakukan. Memalu dua kayu vertikal hingga ke dasar dan meletakkan dua balok horizontal sepanjang 10 meter.


Selain menurunkan beberapa tiang di kanal, kamipun terus memasok bahan-bahan yang di perlukan. Karena air di sungai kampar surut selama lima hari terakhir sehingga kami tidak bisa langsung mengirimkan ke kanal. Sekitar 80 kayu sepanjang 10 meter harus kami tinggalkan 1km sebelum sampai ke kanal. Sebagian dari kami menghabiskan waktunya sepanjang hari mendorong kayu-kayu besar tersebut sampai ke kanal. Beberapa hari lagi kami akan mengangkut 1000 kantong pasir semoga kali ini dapat langsung sampai di kanal.
Salam dari Kanal Teluk Meranti,

Peterri
Menikmati Hidup di Kamp
Tak ada kilatan kamera. Tak ada karpet merah. Jangan berbicara mengenai hotel nyaman bintang lima karena di sini, kita bahkan tidak punya toilet permanen.
Tetapi bintang Hollywood asal Prancis Melanie Laurent tampak sangat menikmati kehidupan di Kamp Pelindung Iklim (Climate Defender Camp) Greenpeace, yang berada di jantung hutan tropis Indonesia, Semenanjung Kampar, Provinsi Riau.
“Memang, saya merindukan tempat tidur saya yang nyaman di rumah. Tetapi saya sangat menikmati keberadaan saya di sini,” ujar artis yang menjadi lawan main Brad Pitt di film “Inglorious Bastards” ini dalam sebuah percakapan Minggu pagi yang terik.
Saat itu kami baru saja selesai sarapan. Semua orang berkumpul di bangunan utama camp. Acara sarapan tidak mewah tetapi kami punya semua yang kami butuhkan. Kopi, susu, roti, nasi goreng, dan tentu saja: para sahabat baik.
Sekitar 20 aktivis sedang menyiapkan peralatan untuk aktivitas pembuatan dam. Mereka siap untuk kembali bekerja keras. Melanie telah selesai melakukan persiapan perjalanannya ke wilayah konservasi Kerumutan, untuk melihat langsung hutan lahan gambut yang belum tersentuh.
Kerumutan akan memakan dua jam perjalanan menggunakan speed boat. Saya yakin Melanie akan menikmati keindahan alam di sana. Tetapi kecantikan ibu bumi bukan satu-satunya menu yang bisa dinikmati dalam perjalanannya ke Sumatra ini. Memulai perjalanan bersama Greenpeace Jumat lalu, Melanie telah melihat banyak kerusakan hutanyang mengerikan.
Dalam perjalanan ke Semenanjung Kampar ini, kami sempat berhenti di area konsesi PT. Arara Abadi, di Pangkalan Bunut. Membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di jalan pasir padat, Melanie tercenung melihat puluhan hektar yang harus hancur demi memberi jalan kepada perkebunan akasia ini. Daerah yang tadinya hutan lahan gambut kini terlihat hancur berantakan seperti baru saja terkena bom nuklir, dihancurkan oleh pembangunan kanal-kanal pengering dan dibakar untuk pembukaan lahan.
“Betul-betul mengerikan. Saya sangat sedih melihat bagaimana tempat yang dahulu hutan yang indah ini sekarang lebih mirip medan perang,” dan Melanie tak henti-hentinya mengabadikan kerusakan hutan massal itu dengan kamera digitalnya.
Bagi perempuan cantik berusia 26 tahun ini, hutan adalah paru-paru dunia dan tak seharusnya dihancurkan seperti ini. Melanie ingin penghancuran hutan berhenti, dan dia tahun betul bahwa Climate Defender Camp Greenpeace dibangun untuk menghentikan penghancuran hutan.
“Saya kagum melihat semua upaya Greenpeace di tempat ini. Yang membuat saya lebih kagum lagi adalah semangatnya. Saya telah mengunjungi aktivitas pembangunan bendungan mereka dan melihat semua orang bekerja sangat keras. Tapi saya tidak melihat ada satu orang pun yang terlihat lesu dan kesal, semua orang bekerja dengan semangat tinggi dan tekad yang besar.”
Melalui binar di matanya yang indah, saya bisa melihat bahwa dia berkata sungguh-sungguh. Saya juga percaya ketika dia bilang sangat menikmati tinggal di Climate Defender Camp. Panas terik, serangga dan pasukan nyamuk tidak bisa mencegah Melanie untuk menikmati suasana. Selama dua hari dia berbaur dengan semua aktivis dan masyarakat lokal di kamp. Makan bersama, menikmati keindahan pemandangan Sungai Kampar bersama, bahkan ‘nongkrong’ dan bernyanyi diiringi gitar saat malam tiba.
“Di Kamp ini semua orang memperlakukan orang lain dengan rasa hormat. Saya sangat senang diperlakukan sama. Tanpa sorot kamera dan perhatian publik kepada saya sebagai seorang artis, saya bisa menikmati keberadaan saya dan menjadi diri sendiri,” ujar Melanie sambil tersenyum.
Tak ada kilatan lampu kamera dan karpet merah untuk Melanie Laurent di sini. Hanya banyak teman-teman yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama: Menghentikan penghancuran hutan!

Hikmat Soeriatanuwijaya
Media Campaigner Greenpeace Southeast Asia
Membendung Kanal Untuk Menyelamatkan Hutan
Ini adalah cerita dari salah satu aktivis Peterri yang berasal dari Finlandia, yang saat ini bekerja membangun bendungan di Teluk meranti
Ada banyak yang terjadi di Kamp Pembela Iklim kita sekarang - di hutan tropis Indonesia.
Aktivitas dari kamp yaitu memblokir kanal pengeringan hutan lahan gambut di wilayah ini - untuk melindungi hutan hujan dan lahan gambut. Perusahaan-perusahaan Kertas dan industri minyak kelapa sawit mengeringkan gambut dengan membuat kanal-kanal. Lahan-lahan Gambut tersebut harus mereka keringakan sehingga kelapa sawit dan akasia dapat tumbuh. Dan sering juga mereka membakar hutan lahan gambut dan sisanya atau hanya si penghacur excavator. Praktek perusakaan ini tidak hanya merusak ekosistem lokal – tetapi juga menambah jumlah besar perubahan iklim emisi karbon ke atmosfir bumi.
Persiapan pembendungan telah di mulai selama satu minggu sebelumnya dengan seorang ahli biologi dan lahan gambut Profesor Jonotoro. Bersama dengannya dan tim dari universitas kami mengukur tingkat air tanah dengan pipa hingga ke masyarakat. Dengan pipa ini kami memantau tingkat air sebelum, selama dan nantinya setelah kami membendung kanal. Kami mengidentifikasi kanal yang sesuai yaitu 9 kilometer arah barat dari kamp kami
selama beberapa hari ini kami mempersiapkan lokasi kamp kami dan area untuk kami mengerjakan bendungan. Kami telah mendapatkan sumber kayu dari masyarakat setempat. Dan kayu yang kami gunakan pun adalah kayu yang berasal dari pohon kelapa dan ramah lingkungan. Untuk satu bendungan kami membutuhkan sekitar 150 kayu dan 500 kantong pasir. Kanal yang akan kami bendung hanya lebarnya hanya 4 meter tetapi untuk kebutuhan kontruksi lebar bendungan lebarnya menjadi 10 meter.
Dan hari ini kami menerima pengiriman kayu pertama untuk kanal. Sebagian besar kayu panjangnya 5 meter dengan berat masing-masing sekitar 80kg dan ada juga kayu dengan panjang 10 meter!!! Bayangkan saja kami akan bekerja di bawah terik matahari 40 dejat Celsius. Dan pada bulan-bulan ini air sungai tidak pasang sehingga kami harus membawa kayu-kayu tersebut hingga ke ujung kanal sejauh kira-kira 300 meter. Semoga gelombang datang dan membantu kami bekerja karena kami harus mengangkut bahan-bahan lebih banyak lagi di hari-hari mendatang.
Stay tuned!
Tolong Selamatkan Rumah Kami
“Rumah Kami dari Hutan, Alat Transportasi Kami dari Hutan, Kehidupan Kami Dari Hutan…. Tolonglah Kami Menjaga Hutan Kami….” Kemudian pak Yusup tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan menangis sedih
Kejadian tersebut terjadi di hadapan Cameron Hume (Duta besar Amerika Serikat) dan Rob Daniel (sekretaris pertama kedutaan inggris) untuk Indonesia. Greenpeace mengundang mereka untuk datang langsung melihat kondisi terkini semenanjung Kampar dan berkesempatan bertemu masyarakat teluk meranti untuk mendengar langsung harapan dan keluhan masyarakat.
Juru Kampanye Greenpeace bersama duta besar Amerika Serikat di Kamp Pembela Iklim
Kunjungan terjadi, 3 hari sebelum pembukaan Kamp pelindung iklim Greenpeace di Teluk Meranti. Saya berkesempatan sebagai pemandu dan sekaligus menjadi penterjemah pada kunjungan tersebut. Masyarakat sangat antusias atas kunjungan tersebut, baik masyarakat yang menginginkan perusahaan beroperasi maupun masyarakat yang sangat keras menolak beroperasinya perusahaan yang akan membabat hutan.
Perjalanan dengan penuh tantangan
Perjalanan para tamu Greenpeace tersebut di mulai dari Bandara Pekanbaru di Riau dan dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan helicopter yang secara khusus kami sewa untuk perjalanan para tamu kehormataan kami. Sejak awal keberangkatan di bandara Pekanbaru sangat jelas adanya upaya dari menghalang-halangi perjalan tersebut dengan menggunakan alasan cuaca buruk. Perusahaan perusak hutan berupaya keras bertemu duta besar dan menghalangi mereka untuk melihat kenyataan sesungguhnya. Namun dengan sangat terbuka ditolak oleh duta besar.
Perjalanan dengan Helicopter ke Teluk Meranti mengambil waktu kurang lebih satu jam dan dalam perjalanan tersebut duta besar berkesempatan melihat langsung kehancuran yang sedang terjadi dan berakibat langsung pada perubahan iklim. Dan melihat sebagian keindahan hutan semenanjung Kampar yang masih tersisa.
Helikopter yang membawa duta besar amerika mendarat dilapangan bola desa Teluk Meranti disambut masyarakat yang sudah menantikan kedatangan tamu kehormataan Greenpeace tersebut. Dari lapangan bola para tamu dibawa menggunakan sepeda motor oleh masyarakat menuju tempat pertemuan, tanpa canggung duta besar dibonceng oleh salah satu tokoh masyarakat Teluk Meranti dengan menggunakan sepeda motor.
Ditempat pertemuan masyarakat sudah menanti untuk menyampaikan isi hati meraka kepada para tamu tersebut. Secara umum masyarakat juga meminta dukungan masyarakat internasional untuk membantu menyelamatkan hutan terutama semenanjung Kampar yang juga bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Karena kehidupan mereka berasal dari hutan.
Duta besar Amerika Serikat bersama seorang masyarakat Teluk Meranti
Duta besar juga berkesempatan untuk berkunjung ke Kamp Greenpeace yang saat itu hampir rampung proses pembangunannya dan juga berkunjung melihat langsung situasi hutan Kampar dan bertemu langsung dengan
masyarakat yang sedang mencari kayu dihutan untuk kebutuhan rumah dan kebutuhan kampung lainnya.
Tanggung Jawab pada iklim dunia?
“Indonesia adalah negara yang berdaulat dan Pemerintah Indonesia adalah penanggjung jawab utama untuk menyelamatkan hutan dan masyarakat disini, kami berupaya untuk membantu sesuai dengan kapasitan kami tapi
masyarakat ada di garis depan dan pilihan untuk menyelamatkan hutan ada ditangan masyarakat” Ujar Cameron Hume (Duta besar Amerika Serikat Untuk Indonesia) sebelum meninggalkan desa Teluk Meranti.
Amerika adalah negara pengemisi terbesar di dunia, mereka bertanggung jawab juga untuk memotong emisi gas rumah kaca mereka dan itu harus dilakukan kalau kita ingin iklim kita selamat, namun kerusakan yang terjadi di Indonesia juga tidak lepas dari permintaan konsumen yang salah satunya di berada di Amerika sehingga negara-negara maju seperti Amerika juga bertanggung jawab untuk ikut serta dalam menyelamatkan hutan yang ada Indonesia.
President Obama yang akan berkunjung ke Singapura pada bulan November dan kami berharap pesan perubahan dapat disampaikan secara langsung oleh duta besar ke presiden Obama dan memastikan presiden Obama harus menjadi salah satu pemimpin yang mendorong perubahan dalam menyelamatkan hutan, iklim dan masyarakat dunia termasuk masyarakat Teluk Meranti…
BUSTAR MAITAR















