Ketika Mereka Tidak Tidur Untuk Melindungi Semenanjung Kampar
Subuh hari di tanggal 24 Agustus 2010, ketika umumnya semua orang tertidur pulas setelah bersahur, seratus lima puluh warga Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan justru bersiap-siap berangkat ke Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bersama mereka, spanduk, spidol dan beberapa lembar kertas karton. Dengan semangat penuh mereka mulai bergerak.
Dua unit bus dan sebuah mobil terisi penuh. Umumnya adalah ibu-ibu. Perjalanan dari Desa Teluk Meranti menuju Kota Pangkalan Kerinci ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam lebih dengan menggunakan mobil biasa, sementara menggunakan bus akan lebih lama lagi karena kondisi ruas jalan yang becek, berlumpur dan penuh kerikil.
Meski dalam suasana Ramadhan, namun semangat 150 warga Teluk Meranti yang berunjuk rasa di Kantor Bupati Pelalawan tidak pernah surut untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Secara bergantian ibu-ibu dan bapak-bapak menyampaikan aspirasi. Di antara aspirasi yang mereka sampaikan melalui orasi di depan pejabat Pemerintah Kabupaten Pelalawan adalah menolak keberadaan PT RAPP di kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar — yang sudah dirusak oleh perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut. Mereka juga menuntut adanya moratorium di Semenanjung Kampar.
Selain itu, mereka juga menolak kesepakatan yang dibuat oleh PT RAPP bersama dengan Tim 40 yang ternyata tidak disetujui secara menyeluruh oleh anggota Tim 40 dan masyarakat Teluk Meranti. Mereka menilai, butir-butir kesepakatan RAPP dengan Tim 40 merugikan masyarakat dan menghilangkan hak warga atas kepemilikan lahan di hutan Semenanjung Kampar yang mereka sebut juga tanah seberang.
Ini merupakan aksi pertama mereka secara terbuka dalam menyampaikan aspirasi mengenai pengelolaan Semenanjung Kampar. Dan bersama kampanye Greenpeace di Kamp Pelindung Iklim akhir tahun 2009 lalu, mayoritas masyarakat Teluk Meranti memberikan dukungan atas aktifitas organisasi lingkungan tersebut. Aksi penolakan terhadap perusahaan RAPP juga pernah dilakukan oleh masyarakat Teluk Binjai yang marah karena hutan tempat pencaharian mereka itu dirusak oleh perusahaan kelompok APRIL ini.

Membentangkan banner di Semenanjung Kampar Oktober 2008
Dalam aksi itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Riau, di antaranya Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Greenpeace, Scale Up, Walhi, Mitra Insani, Kabut Riau, Bahtera Alam dan organisasi kemasyarakatan seperti Tim Pendukung Penyelamat Semenanjung Kampar (TP2SK) serta Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) juga turut mendukung aspirasi masyarakat Teluk Meranti yang merindukan hutannya kembali.
Mungkinkah Sinar Mas “Penjahat hutan” akan terbukti bersih?
Jawaban singkat : sepertinya tidak
Faktanya, bukan hanya kecil kemungkinan mereka menjadi ‘bersih’, tapi hari ini kami mengeluarkan bukti baru bahwa penjahat hutan Sinar Mas masih terus melanjutkan praktik penghancuran hutan dan melanggar komitmen mereka sendiri tentang perlindungan hutan dan lahan gambut Indonesia.

Grup Sinar Mas adalah grup perusahaan minyak sawit, pulp dan kertas terbesar di Indonesia. Pada kampanye Kitkat kemarin menunjukkan ratusan ribu masyarakat menyerukan kepada Nestlé untuk berhenti membeli minyak kelapa sawit, pulp dan kertas produk dari Sinar Mas karena mereka terlibat penghancuran hutan dan lahan gambut di Indonesia.
Bukti foto terbaru kami menunjukkan Sinar Mas sedang melakukan pembabatan hutan hujan di daerah lahan gambut dalm di Kalimantan, pembabatan yang illegal menurut hukum Indonesia. Bukti foto selanjutnya menunjukkan Sinar Mas tengah membabat hutan hujan yang telah diidentifikasi sebagai habitat orang utan oleh satu studi dari United Nations Environment Program.
Hari ini Sinar Mas sebenarnya berencana untuk merilis audit yang mereka sponsori untuk meneliti kegiatan pada sejumlah kecil konsesi perkebunan kelapa sawit mereka – dan bukan pada keseluruhan operasinya. Tetapi Sinar Mas dan Bell Pottinger (perusahaan public relations yang mereka sewa) menunda rilis audit tersebut menjadi tanggal 10 Agustus. Nama Bell Pottinger mungkin tidak asing lagi bagi Anda, karena mereka juga disewa untuk membangun citra perusahaan Trafigura, perusahaan perdagangan minyak yang baru-baru ini divonis bersalah dan didenda karena mengirimkan limbah beracun ke Pantai Gading di Afrika dan menyebabkan musibah besar.
Sementara Sinar Mas membuat janji-janji kepada publik bahwa mereka akan melindungi hutan dan lahan gambut Indonesia, di saat yang sama mereka melakukan hal yang sebaliknya. Selain melanggar janjinya sendiri perusahaan ini berencana untuk memperluas ‘kerajaan’ dan terus menghancurkan hutan Indonesia. Pekan lalu kepala divisi minyak sawit Sinar Mas menjelaskan rencana mereka untuk memperluas perkebunan sekitar 1 juta hektar.
Hutan dan lahan gambut Indonesia tidak bisa terus menerus menjadi korban dari Sinar Mas yang memiliki ambisi berlebihan. Indonesia adalah negara dengan laju penghancuran hutan sangat tinggi di dunia.
Baru-baru ini kita telah melihat langkah positif – perusahaan multinasional seperti Unilever, Kraft dan Nestlé telah merespon bukti praktik penghancuran yang dilakukan Sinar Mas dengan menghentikan kontrak. Sampai perusak hutan ini benar-benar memenuhi komitmen lingkungan mereka, perusahaan lain yang masih membeli dari Sinar Mas – seperti pemasok kelapa sawit Cargill – harus tahu bahwa mereka membeli penghancuran lingkungan. Perusahaan lain seperti (ehem, Nestlé) sudah belajar bahwa membeli sesuatu yang berasal dari kehancuran lingkungan sangat tidak baik untuk bisnis.
Merajut harapan…Menjemput Mimpi, Menyelamatkan Lingkungan
Suatu saat, ku kan kembali… Tuk menyampaikan apa yang kudapat, Kita… bisa dan mampu membuat perubahan…
Halo aku Ina Nisrina Has. Aku sangat bahagia menjadi bagian Greenpeace University (GPU) 2010. Hanya sembilan anak muda yang terpilih, mewakili Indonesia dan Malaysia. Kebanggaanku berada di antara kawan-kawan dari berbagai daerah di Indonesia yaitu Didit, Mayang, Novi, Rika, Sheila, Silka, Viktor dan juga Simpson yang berasal dari Malaysia. Berbagai perbedaan; agama, bahasa, dan pola pikir, tidak menghalangi kami belajar, saling berbagi dan berproses di Greenpeace University. Guys, you are my great friends !
Ada janji yang telah kuikat pada diriku sendiri ketika akan menerima materi yang diberikan. Aku akan menjawab atas berbagai pernyataan orang-orang yang mempertanyakan pilihanku mengapa mengikuti program beasiswa GPU ini. Mereka bilang “Greenpeace adalah organisasi eco fasis. Greenpeace berjuang tidak untuk kemakmuran rakyat”. Namun, tidak sedikit orang yang mendukungku. Mengucapkan selamat menjadi salah satu siswa GPU. Bahkan memberiku kesempatan bekerja sama untuk melakukan advokasi paska mengikuti program GPU. Aku percaya, program ini akan mendidik dan membentukku menjadi juru kampanye lingkungan yang handal di masa depan.
Aku berasal dari Aceh, Aku sungguh prihatin atas kondisi lingkungan disana dan Indonesia. Dengan mata kepalaku sendiri, aku pernah menyaksikan bagaimana perusahaan-perusahaan mengeksploitasi sumber-sumber kehidupan kami, menghancurkan hutan-hutan kami, menebarkan polusi mematikan, dan merampas tanah-tanah milik masyarakat. Sementara, masyarakat Aceh, tidak mendapatkan manfaat apapun dari pengerukan dan perusakan yang meraka lakukan. Tidak mendapatkan apa-apa dari alih fungsi hutan menjadi kebun-kebun sawit.
Masyarakat hanya mendapatkan lobang-lobang menganga di tengah hutan, polusi, pencemaran dan bencana. Tekadku, bisa menjadi bagian yang merubah dan memperbaiki kondisi yang ada saat ini. aku tidak ingin melihat Acehku hancur. Apalagi hancur saat di usia mudaku di depan mataku.
Hampir enam minggu berproses menjadi siswa GPU. Berbagai informasi, pengetahuan dan keterampilan kudapat. Semua materi tentang apa dan bagaimana Greenpeace, aktifitas-aktifitasnya, strategi kampanye sampai cara melobby politik. Aku begitu terkesan dengan aksi-aksi kampanye yang dilakukan Greenpeace melalui dokumentasi audio visual. Yang dikemas menjadi bagian dari materi pelatihan dan disampaikan secara sempurna. Francis dela cruz – instruktur kami tercinta membuka pemikiran kami tentang organisasi lingkungan Internasional yang sangat fenomenal ini.
Semua materi disampaikan oleh narasumber yang ahli dari Greenpeace. Tidak hanya teori, Kami langsung mempraktekan materi yang didapat, baik di dalam kelas maupun diluar. Begitu mendalam kesanku saat kami melakukan training Non Violence Direct Action (NVDA). Kami diposisikan sebagai juru kampanye greenpeace yang akan menghentikan operasi perusahaan merusak hutan Indonesia. Kami benar-benar merasakan, bagaimana perjuangan menjadi juru kampanye Greenpeace sesungguhnya.
Tidak hanya sekedar berkampanye, Kami pun diajak mempraktekkan dan merasakan, bagaimana menggalang dana dari publik. Bersama tim Direct Dialog Campaign (DDC), kami melakukan penggalangan dana dari masyarakat sekaligus melakukan upaya penyadaran terhadap pengelolaan lingkungan dan mengajak mereka ikut bersama berjuang untuk lingkungan.
Aku akan kembali ke Aceh, menceritakan apa yang telah kupelajari dan dapat. Dan kita semua, bersama Greenpeace, akan berjuang membuat perubahan. Untuk masa depan bumi yang lebih baik.
salam,
Ina
PERNYATAAN GREENPEACE MENGENAI PENAHANAN TANPA DASAR AKTIVIS ENAM NEGARA DI CIREBON
PERNYATAAN GREENPEACE MENGENAI PENAHANAN TANPA DASAR AKTIVIS ENAM NEGARA DI CIREBON
Greenpeace mengecam penahanan dan pemeriksaan tanpa surat perintah dan tanpa dasar para aktivis oleh Kepolisian Cirebon, Jawa Barat, sejak 5 Juli 2010. 12 Aktivis yang dibawa Polisi Cirebon adalah aktivis Greenpeace dan perwakilan masyarakat dari China, India, Thailand dan Filipina, yang datang ke cirebon untuk melakukan sharing mengenai pengalaman bersentuhan dengan dampak mematikan pertambangan batubara serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), serta untuk berbagi pengetahuan mengenai kampanye energi bersih terbarukan sebagai solusi. Para aktivis itu dibawa oleh polisi saat menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan Greenpeace dan masyarakat setempat untuk meluncurkan deklarasi antibatubara di Asia.
Tanpa dasar, polisi dan kemudian petugas imigrasi menahan aktivis dan melakukan interogasi lebih dari 30 jam, tanpa tuduhan serta dasar hukum, hanya dengan alasan para aktivis ini mengganggu stabilitas sosial.
Greenpeace mengutuk keras pelecehan ini oleh Polisi Cirebon dan Petugas Imigrasi kepada para aktivis yang melakukan kegiatan damai dan masyarakat setempat yang menolak adanya batuabara karena dampak buruknya sudah jelas terhadap lingkungan sekitar, kesehatan dan –perubahan iklim.
Dua bulan lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan menyambut baik kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat termasuk Greenpeace, terutama untuk menanggulangi perusakan hutan dan perusakan ekosistem di Indonesia. Karena itu tindakan polisi dan imigrasi ini, yang melanggar hak asasi manusia dari aktivis nasional dan internasional tanpa dasar, mencederai ajakan itu dan merusak reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi, dan bisa menimbulkan sangkaan bahwa hukum Indonesia telah dipergunakan untuk melayani kepentingan pihak-pihak yang menangguk untung dari perusakan lingkungan.
Baca siaran pers kami tentang kegiatan kami selama di Cirebon : http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/press-releases/asia-katakan-tidak-batubara
Foto-foto kegiatan kami selama di Cirebon bisa di lihat di situs kami www.greenpeace.or id
Solar World Cup! Energi Bersih untuk dunia lupakan PLTN
Ketika di Indonesia para pemuja PLTN “melirik” beberapa daerah untuk dijadikan tempat pembangunan energi mematikan, Greenpeace bersama perwakilan masyarakat daerah tersebut mendeklarasikan Gerakan anti Nuklir Indonesia untuk menghentikan segala rencana pembangunan PLTN di seluruh Indonesia. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan. Potensi energi Matahari, air, angin, panas bumi, gelombang laut dapat di kembangan di seluruh indonesia.Pemerintah Harus Fokus Pada Pengembangan Energi Terbarukan. Kita berjuang untuk itu…

Aksi di Swedia
Di belahanan dunia lain aktivis Greenpeace dari Swedia melakukan aksi langsung di sebuah PLTN untuk menghentikan rencana pemerintah swedia membangun PLTN baru yang sedang melakukan pemungutan di Parlemen.Para aktivis dengan menggunakan kostum energi terbarukan seperti matahari dan air membentangkan spanduk di dalam instalasi PLTN. Membangun PLTN baru adalah kesalahan besar untuk umat manusia.
Solar World Cup!
Gegap gempita pertandingan piala dunia disambut gembira para pemuda di Afrika Selatan. Greenpeace Afrika dan Solar Generation di barat laut provinsi Jericho, Afrika selatan menyiapkan panel surya untuk menyaksikan bersama perhelatan penting untuk dunia dan Afrika Selatan.

Sebanyak 15 orang pemuda dari Solar Generation kelompok muda Greenpeace telah melakukan training menginstal solar panel. Solar panel bisa menjadi solusi krisi listrik di Afrika Selatan. Energi yang bersih dan ramah lingkungan untuk dunia.
Jadi apakah anda masih berpendapat Energi Nuklir itu adalah solusi krisis listrik di indonesia? Klik Solusi perubahan iklim
Membangun kembali Kamp Masyarakat untuk Penyelamatan Hutan Semenanjung Kampar
Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa di pagi itu. Puluhan warga teluk Meranti datang dengan beberapa perahu pompong mereka, merapat dengan elok satu persatu di dermaga. Tua muda, pria wanita, dan anak anak sengaja datang untuk berdoa bersama memulai pembangunan kembali Kamp di Desa Teluk Meranti.
Kamp yang dibangun pada Oktober 2009 lalu itu dibakar secara sengaja oleh orang tak dikenal dini hari 14 April lalu. Bangunan utama berukuran 15 x 5 meter yang biasa digunakan sebagai tempat tidur, ruang kesehatan, dan ruang radio, habis terbakar tak tersisa, dan satu bangunan gudang disebelahnya habis dilalap api seluruh atap dan sebagian dindingnya. Peristiwa kebakaran itu sangat mengejutkan kami semua dari berbagai kantor Greenpeace mulai dari Riau, Jakarta, Thailand, hingga kantor Eropa, karena Kamp itu menyimpan begitu banyak kenangan, suka duka, dan cerita indah sejak hari pertama Greenpeace memulai kampanye penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar dari perusakan lebih lanjut oleh Perusahaan Pulp and Paper RAPP.
Sepeninggal Greenpeace pada akhir Desember 2009, kamp tersebut diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat dan digunakan sebagai pusat kegiatan dari berbagai komunitas untuk melanjutkan perjuangan menyelamatkan hutan Semenanjung Kampar karena masyarakat telah sadar akan pentingnya hutan bagi kehidupan mereka, dan kini masyarakat Teluk Meranti bersama Greenpeace, FPSK, dan Jikalahari bersama membangun kembali Kamp tersebut secara swadaya, melanjutkan komitmen dan usaha tiada henti untuk penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar.
Pekerjaan di pagi itupun dimulai. Pemuka adat setempat tampil pertama membacakan doa bersama, kemudian menyiramkan air pada beberapa sudut Kamp sebagaimana prosesi adat istiadat yang biasa dilakukan disana dan dilanjutkan dengan makan bersama sambil duduk bersila di lantai, tak ada perbedaan, semua sama. Dukungan yang diberikan terhadap kampanye penyelamatan hutan Kampar dan Greenpeace itu sangat besar, puluhan masyarakat baik dari Hulu maupun Hilir Teluk Meranti, bahu membahu memperbaiki bangunan gudang yang terbakar, sementara kaum Ibu secara berkelompok bergantian menyiapkan makanan dan minuman di dapur Kamp yang untungnya tidak ikut terbakar. Secara teknis Kamp memiliki 5 bangunan utama, yaitu pendopo, dapur, bangunan utama tempat untuk tidur, gudang, dan satu pelataran besar untuk mendirikan tenda, ditambah beberapa bangunan pendukung seperti kamar mandi. Rencananya , bangunan utama yang terbakar akan dibiarkan seperti apa adanya, digunakan sebagai monumen atau situs pengingat bahwa perjuangan kami menyelamatkan Semenanjung Kampar tak akan pernah padam sampai kapan pun jua, meski harus menghadapi berbagai ancaman dan rintangan apapun.
Pihak perusahaan RAPP mencoba membujuk masyarakat untuk mendukung keberadan perusahaan dan segala aktivitas perusakan lingkungan yang mereka lakukan dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan. Melalui para tokoh terkemuka dan para pemimpin seperti Lurah, mereka mencoba meraih hati masyarakat, namun dengan kesadaran kuat, masyarakat Teluk Meranti sudah tidak dapat dibohongi lagi, meskipun dengan iming-iming bantuan keuangan dan peralatan. Masyarakat sudah muak atas keberadaan dan aktivitas RAPP membuka lahan Hutan. Dengan tegas mereka mengatakan kepada pihak perusahaan, bahwa apabila memang benar RAPP ingin mensejahterakan masyarakat, mengapa pada kenyataannya desa-desa yang ada di sekeliling areal perusahaan tetap miskin dan tertinggal, sementara hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka makin rusak dan hancur. Sebelum adanya perusahaan dan hutan masih terjaga, masyarakat di Semenanjung Kampar tidak ada yang pernah mati kelaparan. Kini masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemimpin mereka yang berpihak kepada perusahaan. Para pejabat dan tokoh terkemuka itu sudah kehilangan harga diri mereka di mata masyarakat.
Melihat semangat masyarakat yang sangat kuat itu, maka diputuskan bahwa Kamp tersebut bukanlah hanya milik Greenpeace, melainkan milik masyarakat dan nama sebelumnya akan diganti dengan “KAMP MASYARAKAT UNTUK PENYELAMATAN HUTAN KAMPAR” sebagai penghormatan kepada masyarakat Kampar dan hutannya.
Pekerjaan itu belumlah selesai, ketukan palu, peluh warga yang bekerja, dan wangi masakan ibu-ibu desa teluk meranti dari dapur Kamp akan terus bergema di Kamp, memupuk semangat para penyelamat hutan melanjutkan komitmen dan perjuangannya untuk menyelamatkan Hutan Indonesia demi masa depan anak cucu kita.
Keep The Warriors Spirit Alive
Bermula dari ramalan suku Indian di Amerika Utara mengenai saat kehancuran bumi dimasa depan akibat keserakahan manusia akan alam, dimana nanti akan ada sekelompok manusia yang dinamakan ” Rainbow Warrior”, turun dari pelangi dan datang untuk menyelamatkan bumi ini, menginspirasikan salah satu pendiri Greenpeace, Bob Hunter mengambil nama tersebut dan diabadikan sebagai nama Kapal “Rainbow Warrior” yang dimiliki oleh Greenpeace hingga saat ini.
Kapal Rainbow Warrior kapal kebanggaan Greenpeace. Cikal bakal dari semangat penyelamatan bumi. Kapal Rainbow Warrior I ditenggelamkan oleh dinas rahasia Perancis (DGSE)di pelabuhan Auckland, Selandia Baru, pada 10 Juli 1985 dengan menempatkan bom pada lambung kapal. Ketika itu, para aktivis Greenpeace menentang percobaan nuklir Perancis yang dilakukan di Pulau Muroroa, sekitar Polynesia. Peristiwa tersebut menewaskan fotografer Greenpeace Fernando Pereira. Rainbow Warrior II mulai beroperasi sejak 1989. Rainbow Warrior merupakan satu dari tiga buah kapal yang digunakan Greenpeace untuk menjalankan aksinya menentang perusakan lingkungan di seluruh dunia. Dua kapal lainnya, Arctic Sunrise dan Esperanza beraksi di belahan Bumi utara hingga ke kutub.
Selama 27 tahun Rainbow Warrior telah berlayar melintasi samudra, dan telah menyentuh hati banyak orang. Rainbow Warrior juga menjadi simbol untuk perubahan positif dalam penyelamatan lingkungan. Kapal Rainbow Warrior telah mengunjungi Indonesia beberapa kali menyebarkan kampanye untuk melestarikan hutan, perubahan iklim dan energi terbarukan. Kapal ini juga pernah mengunjungi Indonesia pasca tsunami Aceh untuk memberikan bantuan bagi para korban bencana. Pada 2006 dan 2007 Rainbow Warrior datang kembali ke Indonesia untuk mendorong aksi nyata pada UNFCC ke 13 di Bali sekaligus mengkampanyekan penyelamatan hutan Indonesia .
Sudah saatnya sang pejuang ini beristirahat – Rainbow Warrior II . Greenpeace memerlukan kapal yang lebih besar , lebih kuat, namun tetap ramah lingkungan, yang dapat berlayar mengarungi lautan dunia, dan membawa misi dan visi Greenpeace, yaitu menjadi saksi bagi semua tindakan yang berbahaya bagi lingkungan. Rainbow Warrior III yang sedang dalam proses pembuatan ini dan direncanakan untuk diluncurkan pada 2011 akan memungkinkan Greenpece untuk melanjutkan perjalanannya, membawa aktivis Greenpeace lebih jauh untuk melanjutkan patroli di seluruh samudra, mendokumentasikan kejahatan lingkungan, mempromosikan solusi, dan berbagi pengalaman dengan jutaan orang di seluruh dunia, sehingga mereka dapat bergabung bersama sama dalam perjuangan untuk menyelamatkan bumi.
Dengan membawa semangat Rainbow Warrior dengan tema “Keep The Warrior Spirit Alive” Greenpeace akan menghadirkan suasana Kapal Rainbow Warrior ke beberapa Mall di Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, dan juga Jakarta. Di tempat tersebut para pengunjung mall bisa merasakan atmosfer dan semangat dari Rainbow Warrior yang diwujudkan dalam tampilan booth, nuansa pelabuhan dan aksesoris kapal Rainbow Warrior.
Di booth Greenpeace ini para supporter dapat menuliskan satu tindakan kecil mereka dalam melestarikan lingkungan. Tim Fundraiser Greenpeace akan mengambil foto mereka dan apa yang mereka tulis. Setelah tiga bulan, tim akan mengirimkan e-mail gambar mereka sebagai pengingat akan janji yang telah mereka buat. Semua gambar akan dikumpulkan dan ditampilkan di situs web bagi para pendukung Indonesia. Anak-anak yang datang juga dapat ikut berpartisipasi dan mewarnai gambar Rainbow Warrior di atas kertas bersama maskot Pohon yang melambangkan penyelamatan hutan Indonesia.
Jadi, untuk menjaga Semangat Rainbow Warrior tetap menyala. Kamu bisa hadir dan berpartisipasi di beberapa mall berikut ini :
28 April – 2 Mei Ciwalk Bandung
5 Mei – 9 Mei Ambarukmo Plaza, Yogyakarta
12 Mei - 16 Mei Ciputra Mall, Semarang
19 Mei -23 Mei CityWalk Pakuwon, Surabaya
26 Mei -30 Mei Plaza Semanggi, Jakarta
Berikan suaramu untuk Bumi ini. Greenpeace adalah organisasi kampanye lingkungan independen yang mengandalkan dukungan finansial dari donasi individu pribadi dan tidak menerima donasi dari pemerintah, perusahaan swasta, maupun partai politik.
Mencari bukti terbaru penghancuran hutan di Indonesia
Bukti dari penghancuran hutan jelas terlihat di sekitar kami dan untuk itulah kami kami kesini – tetapi aneh karena kami tidak melihat seorangpun. Tidak ada pekerja. Tim penunjuk arah kami pergi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan kami tetap menunggu di tengah panas yang sangat ekstrim, karena tidak ada satu pun pohon yang tersisa untuk kami berteduh, di tengah hari pada hari Senin 26 April 2010.
![]()
Di Singapura pada 27 April 2010, Sinar Mas mengadakan rapat umum tahunan pemegang saham dan kami memberikan bukti-bukti baru penghancuran hutan kepada publik, media dan juga pemegang saham. Bukti-bukti yang kami kumpulkan sejak akhir pekan kemudian di umumkan di konferensi pres sebelum di mulainya rapat pemegang saham Sinar Mas. Mendapatkan bukti baru itu tentu tidak mudah.
Kami tiba di Palangkaraya Ibukota propinsi Kalimantan Tengah pada hari Jumat 23 April 2010 dan langsung bertemu dengan LSM-LSM lain untuk saling bertukar informasi dan mengumpulkan data terbaru sebanyak mungkin tentang PT. Buana Adhitama (BAT) anak perusahaan Sinar Mas, perusahaan raksasa penghancur hutan dan iklim.
Berjam-jam kami membedah semua dokumen dan akhirnya menemukan data secara terperinci bahwa perusahaan ini telah membuka hutan secara illegal tanpa adanya Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan kegiatan illegal ini masih terus berlangsung. Daerah pembukaan hutan itu tumpang tindih dengan habitat orangutan. Kami melihat mereka melakukannya, walaupun beberapa bulan lalu Sinar Mas telah mengatakan suatu komitmen untuk menghentikan penghancuran hutan seperti ini.
Hari selanjutnya kami bersama wartawan Al-Jazeera pergi ke lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti. Perjalanan yang cukup jauh dan sangat tidak nyaman membuat kami seolah-olah berada di pertandingan reli Internasional, tanpa bendera dan lambaian penonton di kanan-kiri.
Akhirnya kami tiba di Kuala Kuayan, sebuah desa kecil di tepi sungai Mentaya, pemberhentian terakhir kami sebelum menuju tempat kejadian. Perjalanan berikutnya akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam. Sebelum matahari terbit kami sudah bergegas untu menuju lokasi. Kami telah mengontak para pemburu rusa yang sering melihat orangutan di wilayah PT. BAT, mereka ikut serta bersama kami pagi ini. Lengkap sudah 12 orang bersama kami termasuk supir. Selama perjalanan kami tidak tahu apa yang akan menyambut kami disana, apakah masyarakat menerima kami yang sedang mengumpulkan bukti-bukti berkaitan dengan perusahaan di area wilayah itu.
Kira-kira 30 menit lagi kami tiba di tujuan, ketika dihadapan kami terdapat jalanan yang berlumpur cukup dalam. Keadaan ini membuat kami hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan karena tidak ada lagi angkutan yang bisa membawa kami ke tempat tujuan.
Seperti mendapat bantuan dari Tuhan, dua orang warga dengan bersepeda motor datang, kami memberitahu kemana tujuan kami dan mereka mau membantu kami. Tim kami kemudian pergi bersama jurnalis melewati jalur di depan dengan sepeda motor. Dalam satu jam mereka kembali dengan berita buruk: ada dua parit besar yang harus kami lewati sebelum sampai di tempat tujuan. Matahari sangat terik dan menusuk kulit tetapi kami tetap berusaha untuk tidak menyerah.

Kami menahan nafas ketika mobil pertama akan masuk ke jalur berlumpur yang sangat dalam. Mobil akhirnya masuk ke dalam kubangan lumpur dan terjebak. Cukup lama kami berjuang menarik mobil agar bias keluar dari Lumpur, tapi kami tetap bersemangat dan itu berhasil. Keberanian dan kebersamaan akhirnya menghalau semua hambatan, walaupun kami harus turun beberapa kali untuk menarik mobil keluar dari lumpur.
Menjelang tengah hari akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Kami kemudian bergegas menuju kamp pekerja, berharap menemukan seorang pekerja yang cukup berani menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ada seorang pekerja dan seorang warga desa di sana. Dia adalah warga desa dari perbatasan wilayah perusahaan yang telah menghancurkan hutan ini. Beliau menceritakan bahwa tidak akan ada kegiatan perusahaan hari ini karena kemarin telah terjadi konflik antara warga dan para pekerja, yang berasal dari sengketa lahan.
Kasus konflik tanah seperti ini sering sekali terjadi pada perusahaan seperti Sinar Mas, yang terkadang berujung pada kekerasan dan ancaman – yang akhirnya membuat warga desa tidak berani bicara banyak mengenai keadaan konflik ini.
Dan sekali lagi, dewi keberuntungan terus bersama kami. Seorang pria datang kepada kami dan memperkenalkan diri sebagai tetua dari desa tersebut dan korban dari PT. BAT. Beliau bersedia di wawancarai dan mengatakan bahwa seseorang telah menipu masyarakat hingga menyerahkan Surat Kepemilikan Tanah (SKT). Pada awalnya disampaikan bahwa tanah mereka akan dikembangkan menjadi perkebunan karet masyarakat. Namun akhirnya perkebunan kelapa sawit lah yang datang.
Sekarang bukti yang kami miliki pun semakin lengkap.
Lelah-kami langsung kembali dan tiba sekitar tengah malam untuk mempersiapkan video-video bukti terbaru dari penghancuran hutan yang di lakukan Sinar Mas. Dan kami memastikan tidak boleh ada kebohongan lagi mengenai pengrusakan hutan. Pagi-pagi buta kami berupaya keras agar hasil penyelidikan kami bisa dikirimkan ke rekan kami yang berada di Singapura dan kepada kantor Greenpeace di seluruh dunia, agar semua orang bisa melihat apa yang dilakukan oleh perusahaan ini pada hutan Indonesia dan habitat orangutan.
Kami ingin Nestle menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari perusahaan penghancur hutan seperti Sinar Mas. Greenpeace tidak anti perkebunan kelapa sawit. Tetapi kami tidak akan tinggal diam jika hutan di hancurkan untuk perluasaan perkebunan kelapa sawit.
Joko Arif
Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara
Sekjen GAPKI meminta maaf Kepada Greenpeace
Posisi Greenpeace Mengenai Tuduhan Antek Asing
Kampanye Greenpeace untuk menghentikan beberapa oknum perusahaan besar kelapa sawit yang dalam operasinya melakukan perusakan hutan mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan. Debat publik seperti ini sangat positif demi tercapainya kemajuan industri sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Seperti di dalam pemberitaan sebuah media masa pada 20 April 2010 yang berjudul “Indonesia Galang Kampanye Putih Sawit” yang mengutip pernyataan dari sekretaris GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) bahwa Greenpeace menerima dana dari Uni Eropa. Kami tegaskan bahwa ini adalah tuduhan yang tidak benar bahkan cenderung sembrono karena tidak disertai bukti.
Karena salah satu nilai dasar Greenpeace yang telah mendapat reputasi internasional adalah independensi. Greenpeace adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang punya kebijakan tidak menerima donasi dari pemerintah dan perusahaan. Tujuan dari kebijakaan kami ini adalah menjaga independensi. Sumber pendanaan Greenpeace didapatkan dari lebih 3 juta orang (Supporter) di seluruh dunia yang melakukan donasi rutin setiap bulan dan di Indonesia sendiri sekitar 30 ribu orang telah menjadi bagian dari supporter Greenpeace.
Beberapa pihak menghembuskan berita yang tidak benar bahwa kampanye kelapa sawit kami adalah untuk merusak industri sawit di Indonesia karena Greenpeace ditunggangi oleh kepentingan industri Eropa. Padahal sudah sangat jelas bahwa Greenpeace tidak anti industri kelapa sawit. Bahkan mendukung industri kelapa sawit yang sudah menjadi primadona ekonomi Indonesia dengan membuka lapangan kerja dan pemasukan bagi negara.

Berkaitan dengan kampanye kelapa sawit dan kaitannya dengan pembabatan hutan, tujuannya tidak lain untuk menghentikan oknum perusahaan besar melakukan perusakan hutan, yang telah sangat merugikan lingkungan Indonesia, mengancam keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan, yang kemudian berdampak buruk terhadap perubahan iklim Indonesia maupun dunia.
Greenpeace terus mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan industri sawit dan meningkatkan taraf hidup petani kecil dengan cara melakukan intensifikasi demi meningkatnya produktivitas kebun sawit di lahan yang telah ada. Satu-satunya yang anti bagi Greenpeace adalah perusakan lingkungan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab. Pembukaan perkebunan dengan merusak hutan alam yang ada.
Kampanye Greenpeace dilakukan setelah melakukan berbagai riset dan penelitian di berbagai wilayah Indonesia. Saat meminta secara keras perusahaan tersebut untuk menghentikan perusakan hutan, Greenpeace juga menyertakan bukti-bukti perusakan hutan yang masih mereka lakukan, bahkan lengkap dengan foto lokasi dan posisi GPS.
Seharusnya demi kemajuan industri sawit Indonesia di dunia internasional, pemerintah (Departemen Pertanian) dan dunia usaha harus menyelidiki dan menindaklanjuti laporan bukti-bukti kami dan menghentikan perusakan yang terjadi. Langkah ini jauh lebih bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia dibanding melancarkan kampanye hitam terhadap LSM lingkungan terutama Greenpeace, sambil terus membiarkan perusakan lingkungan terus terjadi.
Selama ini belum ada pernyataan dari Departemen Pertanian apakah bukti yang disodorkan Greenpeace itu benar maupun salah, setelah melakukan penyelidikan mengenai hal ini. Kami melihat sikap ini tidak menghormati pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa pekan lalu yang menyatakan menghargai upaya LSM lingkungan termasuk Greenpeace, dan meminta pemerintah bekerja sama dengan LSM lingkungan demi menyelamatkan lingkungan Indonesia.
Kami juga melihat selama ini pemerintah dan industri sangat berfokus pada ekspansi (perluasan) perkebunan kelapa sawit dan mengabaikan peningkatan produktivitas termasuk petani sawit. Kami melihat justru jika pemerintah dan industri mulai menaruh perhatian kepada peningkatan produktivitas, tidak hanya meningkatkan daya saing produk CPO Indonesia di pasar internasional, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Bustar Maitar
Juru Kampanye Hutan
Greenpeace Asia Tenggara












